Denny JA Mendorong Kaum Perempuan Aktif Merebut Tafsir Agama
- Penulis : Dimas Anugerah Wicaksono
- Sabtu, 29 Juli 2023 11:31 WIB

Oleh karena itu, interpretasi atas teks-teks agama menjadi penting. Teks di langit harus diberi rumah di bumi. Kebenaran samawi harus dibenturkan kenyataan sehari-hari.
Gaus berpendapat, Ilmuwan sosial seperti Denny JA membawa agama dari wilayah metafisika yang sakral ke wilayah kebudayaan yang profan. Dari dogma teologi menjadi fenomena kultural.
“Itulah makna dari rumusannya bahwa agama adalah warisan kultural milik bersama umat manusia. Dengan rumusan ini, maka agama muncul dengan wajah yang humanis,” ungkap Gaus.
Menurut Gaus, jika agama semata-mata hanya diperlakukan sebagai wahyu, ia hanya hanya akan berada di ruang kesadaran ilahiah dan individual.
Tapi, dengan menjadikan agama sebagai warisan kultural atau produk budaya, atau bahasa sosiologinya “fakta sosial”, ia dapat dilihat perkembangannya di tengah masyarakat melalui riset empiris dan penelitian kuantitatif.
Oleh karena itu, kata Gaus, di sinilah kontribusi penting Denny JA selaku ilmuwan sosial yang melihat agama sebagai fenomena sosial yang dapat diteliti, bukan sebuah nubuat tentang perkara-perkara gaib.
Mengenai perebutan tafsir agama, Gaus mengutip pandangan Weber tentang tindakan sosial.
Budaya patriarki tidak lain ialah tindakan sosial tradisional yang terus diulang-ulang, padahal merugikan kelompok gender perempuan.
“Dasar dari tindakan sosial tersebut ialah tafsir. Nah, yang harus direbut ialah tafsir yang berpihak pada kebebasan perempuan untuk menentukan diri mereka sendiri, bukan ditentukan oleh orang lain. Lelaki,” kata Gaus.
“Tafsir itu harus diwujudkan dalam tindakan sosial yang baru, sehingga terbentuk budaya baru sebagai tandingan dari budaya patriarki,” tambahnya.