Iran Menyebut California sebagai 'Wilayah Baru'-nya Setelah Klaim Trump tentang Selat Hormuz

Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran.

Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran.

Internasional

ORBITINDONESIA.COM - Sebuah akun media sosial resmi Iran melabeli California sebagai "wilayah baru" Iran pada hari Selasa, 18 Agustus 2026. Langkah ini diambil sebagai tanggapan atas unggahan Presiden AS Donald Trump yang menampilkan gambar Selat Hormuz sebagai "Wilayah Baru AS" (*NEW U.S. Territory*), demikian dilaporkan Anadolu.

Trump membagikan gambar tersebut di akun Truth Social miliknya pada hari Selasa. Gambar itu memperlihatkan peta Selat Hormuz dengan jalur air strategis tersebut dilingkari di bawah tulisan "Wilayah Baru AS"—sebuah tindak lanjut dari pernyataannya sebelumnya yang menyebut selat itu akan dijadikan wilayah AS setelah perang berakhir.

Gedung Putih kemudian mengunggah ulang postingan Trump tersebut di akun resminya di platform media sosial AS, X.

Sebagai tanggapan, akun resmi "Iran in Hyderabad" di X mengunggah peta AS yang menampilkan California dengan sorotan warna biru, disertai tulisan: "WILAYAH BARU REPUBLIK ISLAM IRAN."

Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, juga membalas postingan Trump dengan menulis di X: "Khayalannya mengenai Selat Hormuz akan segera diluruskan, atau kami yang akan meluruskan khayalan pria yang penuh delusi ini."

California, khususnya wilayah Los Angeles, merupakan tempat tinggal bagi konsentrasi terbesar warga keturunan Iran di luar Iran.

Menurut Iranian Diaspora Dashboard yang dikelola oleh Center for Near Eastern Studies UCLA, diperkirakan terdapat 141.000 warga Amerika keturunan Iran yang tinggal di wilayah Los Angeles County.

Komunitas Iran di California Selatan berkembang pesat setelah Revolusi Islam Iran tahun 1979, di mana kawasan Westwood di Los Angeles menjadi pusat utama kehidupan diaspora Iran yang dikenal luas dengan sebutan "Tehrangeles."

Saling balas pernyataan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington setelah konflik yang berlangsung selama berbulan-bulan.

Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman pada bulan Juni yang bertujuan mengakhiri perang dan membuka jalan bagi kesepakatan yang lebih luas, namun pembicaraan tersebut kemudian terhenti akibat perselisihan mengenai implementasi kesepakatan serta aturan navigasi di Selat Hormuz.

Sementara itu, negosiasi yang melibatkan Iran dan Oman mengenai pengaturan navigasi di jalur air strategis tersebut terus berlanjut tanpa menghasilkan terobosan berarti. ***