Kebakaran Desa Adat Sade Lombok: 150 Rumah Hangus, 300 Mengungsi
ORBITINDONESIA.COM – Kebakaran Desa Adat Sade di Lombok, Nusa Tenggara Barat, menghanguskan sekitar 150 rumah dan memaksa lebih dari 300 warga mengungsi pada Sabtu malam (22/08). “Hanya pakaian yang dipakai yang tersisa,” kata Rialip, warga yang menyaksikan kampungnya berubah jadi arang dalam hitungan jam.
Desa Adat Sade dikenal sebagai salah satu desa adat tertua di Lombok dan etalase budaya Suku Sasak bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Ketika api melalap 89 rumah adat, yang terbakar bukan hanya bangunan, melainkan juga memori, pengetahuan, dan cara hidup yang diwariskan lintas generasi.
Dalam bencana seperti ini, ukuran kerugian tidak cukup dihitung dari jumlah rumah yang rata dengan tanah. Ada kerentanan struktural yang ikut tersingkap, mulai dari kepadatan permukiman hingga keterbatasan sistem pencegahan kebakaran di kawasan berbahan bangunan tradisional.
Data awal menyebut tidak ada korban jiwa, namun lebih dari 300 orang terdampak dan harus meninggalkan rumahnya. Angka itu menunjukkan satu hal: keselamatan manusia bisa dijaga, tetapi ketahanan permukiman dan warisan budaya masih rapuh saat berhadapan dengan api.
Rumah adat Sasak lazim memakai material alami dan teknik konstruksi tradisional yang memberi kenyamanan termal, tetapi juga menuntut manajemen risiko yang ketat. Ketika satu titik api membesar, efek domino mudah terjadi karena jarak antarrumah dekat dan akses pemadaman sering terbatas.
Desa wisata seperti Sade memikul beban ganda: menjaga autentisitas sekaligus melayani arus kunjungan. Tanpa standar mitigasi yang kompatibel dengan arsitektur tradisional, promosi pariwisata bisa berjalan lebih cepat daripada investasi keselamatan.
Kebakaran ini juga memunculkan pertanyaan tentang kesiapan respons darurat di destinasi budaya. Sistem hydrant, jalur evakuasi, pelatihan relawan, hingga titik kumpul yang jelas sering dianggap pelengkap, padahal ia penentu apakah kerugian berhenti di satu blok atau merembet ke seluruh kampung.
Kebakaran Desa Adat Sade Lombok semestinya dibaca sebagai peringatan keras tentang cara kita memperlakukan desa adat: dipamerkan, tetapi belum tentu dilindungi. Kita kerap mengukur nilai desa adat dari foto, paket tur, dan kalender festival, bukan dari anggaran mitigasi dan perlindungan warganya.
Jika desa adat adalah “andalan destinasi,” maka negara, daerah, dan pelaku pariwisata punya tanggung jawab yang sebanding. Membiarkan warga menanggung risiko tanpa perangkat pencegahan yang memadai sama saja mengubah warisan budaya menjadi komoditas yang mudah hangus.
Rekonstruksi nanti akan menguji integritas semua pihak: apakah rumah adat dibangun kembali dengan menghormati kaidah Sasak, atau diganti bentuk instan demi cepat dan murah. Kecepatan bantuan penting, tetapi keputusan desain dan tata ruang menentukan apakah bencana ini akan berulang.
Hari ini, ratusan warga Sade menata ulang hidup dari sisa pakaian yang melekat di badan, sementara dunia luar kembali menyebut nama kampung itu lewat berita kebakaran. Yang dibutuhkan bukan sekadar simpati, melainkan rencana pemulihan yang memadukan bantuan sosial, perlindungan cagar budaya, dan standar keselamatan yang realistis.
Pertanyaannya sederhana namun tajam: setelah api padam, apakah kita akan membangun Sade agar tetap hidup sebagai desa adat, atau hanya sebagai latar wisata yang siap terbakar lagi. (Orbit dari berbagai sumber, 31 Agustus 2026)