Elon Musk: Sepuluh Tahun Lagi AI Akan Melampaui Manusia dalam Banyak Pekerjaan Intelektual

Zanny Minton Beddoes dari The Economist dengan Elon Musk.

Zanny Minton Beddoes dari The Economist dengan Elon Musk.

Tech Life

ORBITINDONESIA.COM - Wawancara menarik antara Zanny Minton Beddoes dari The Economist dengan Elon Musk, dan saya tercenung ketika Elon mengatakan, “Saya ahli meramalkan masa depan, tetapi orang-orang tidak mempercayai saya, sampai kemudian apa yang saya ramalkan terbukti benar.”

Dalam percakapan ini, Elon meramalkan bahwa sepuluh tahun dari sekarang, atau pada 2036, AI akan melampaui manusia dalam banyak pekerjaan intelektual, robot humanoid mampu melakukan pekerjaan fisik menggantikan tenaga manusia, dan biaya produksi turun ketika tenaga kerja manusia tidak diperlukan lagi dalam skala massal.

Benar atau tidak ramalannya nanti, ucapan Elon saya pikir layak dipikirkan serius.

Jika ketiga kondisi itu bertemu, pertanyaan yang akan muncul bukan sekadar: “Jenis-jenis pekerjaan apa saja yang diambil alih oleh AI?”

Pertanyaannya jauh lebih sulit: “Apa yang terjadi pada manusia ketika mereka tidak lagi diperlukan untuk menangani pekerjaan-pekerjaan dalam skala besar, sementara masyarakat selama berabad-abad dibangun di atas anggapan bahwa sebagian besar orang harus bekerja?”

Kita akan memerlukan pemikiran baru tentang kepemilikan, distribusi kekayaan, pendidikan, kekuasaan politik, martabat manusia, dan tujuan hidup. Siapa yang memiliki robot-robot humanoid dan mesin-mesin AI?

Jika mereka menghasilkan kelimpahan, bagaimana hasilnya didistribusikan? Jika kebutuhan dasar dapat dipenuhi tanpa bekerja, apa yang akan dilakukan oleh manusia dalam puluhan tahun hidupnya?

Dan ada satu lagi yang sangat penting, yaitu bahwa teknologi AI melaju jauh lebih cepat ketimbang kemampuan manusia untuk membangun aturan dan menemukan gagasan baru untuk menangani dampaknya.

Kita sudah melihat bentuk-bentuk kecilnya sekarang. Teknologi AI berkembang, sementara hukum, sekolah, universitas, pasar kerja, dan kebiasaan sosial masih tertatih-tatih memahami apa yang tengah berlangsung.

Jika laju perkembangan benar-benar meningkat seperti yang dibayangkan Musk, keterlambatan pemikiran manusia dapat menjadi masalah besar. Mungkin para pemikir terbaik pun tidak cukup jika mereka hanya datang dari satu bidang.

Kita memerlukan orang yang memahami teknologi sekaligus filsafat sekaligus ekonomi, sejarah dan sekaligus psikologi manusia, dan terutama orang-orang yang bersedia membayangkan masyarakat yang sangat berbeda dari masyarakat tempat kita dibesarkan.

Segala yang kita perdebatkan hari ini tiba-tiba menjadi tidak berarti ketika AI dan robot mengubah seluruh keadaan dalam sepuluh tahun. Apakah ramalan Elon Musk akan terbukti? Belum tentu. Tetapi bahkan jika ia hanya benar sebagian, itu sudah cukup untuk membuat pertanyaannya layak dipikirkan secara sangat serius.

Untuk bidang pendidikan, misalnya. Selama ini pendidikan berfungsi menyiapkan manusia untuk memasuki pasar kerja. Jika tidak ada lagi pekerjaan yang perlu dilakukan oleh manusia, apa yang dilakukan dengan pendidikan?

Dan bagaimana dengan cita-cita Indonesia Emas 2045? Itu cita-cita yang dibangun di atas peta kuno yang membangga-banggakan bonus demografi.

Pada tahun itu jumlah penduduk usia produktif Indonesia diperkirakan berlimpah dan akan menjadi kekuatan ekonomi, pendidikan menyiapkan tenaga kerja, industri menyerap pekerja, produktivitas naik, dan di ujungnya negara menjadi lebih makmur.

Model itu masuk akal jika manusia tetap menjadi tenaga utama dalam produksi barang dan jasa. Tetapi 2045 adalah waktu yang terlambat sembilan tahun dari 2036, dan jika ramalan Elon Musk benar, berlimpahnya tenaga kerja usia produktif tidak akan ada gunanya.

Pertanyaannya, akan diarahkan ke mana ledakan usia produktif itu ketika pekerjaan yang ada tidak membutuhkan tenaga kerja manusia dalam jumlah besar?

Dan sepuluh tahun adalah waktu yang pendek. Kita sudah menjalani 28 tahun sejak mengakhiri Orde Baru dengan Reformasi 1998, untuk mendapati situasi mengenaskan seperti hari ini.

(Sumber: FB AS Laksana, sastrawan) ***