Puisi Indra Pirmana: Putus di Persimpangan

Indra Pirmana.

Indra Pirmana.

Puisi

ORBITINDONESIA.COM - Lima tahun,  sudah kita lewati bersama

mengukir kenangan dengan begitu cepat  

terikat janji-janji manis, kita pupuk bersama,

suka duka penuh canda tawa.  

“Hujan panas,” itu hal biasa.

Kita Jalani bersama penuh cinta.

Tuhan …

Maha pengatur segalanya,

Aku pasrah!

Kalau sudah tidak seirama,

cinta tidak bisa dipaksakan!

Bukan masalah duniawi, tetapi perasaan yang semakin memudar.

Tuhan …

Berhenti di persimpangan ini!

Aku rela, kalau yang terbaik menurut-Mu

bagaikan nakhoda kehilangan arah.

Kompas hanya menjadi hiasan

ketika,  tidak saling menjaga dan terbawa arus yang penuh prasangka

rasa rindu semakin tergerus.

Tuhan …

Inikah, perjalanan yang digariskan  melalui catatan rahasia-Mu.

Cinta tidak lagi sejalan,

raut wajah yang tidak lagi sama

tatapan mata selalu berpaling.

Tuhan …

Setiap bertemu diakhir-akhir ini,

gundah  selalu menyelimuti

Kata, “putus” selalu menjadi senjata yang ia lontarkan kepadaku.

“Putus,”

“Putus,”

“Kita putus.”

Tuhan …

Alur cerita ini sungguh berat untuk dipaksa.

Namun, lebih baik putus dipersimpangan

biarkan  waktu menjadi saksi,

kalau  semua menjadi kenangan indah.

Yakin,

Tuhan sudah mengatur skenarionya dengan tepat

semoga silaturahmi tetap terjaga.

 

Bangka Selatan, Juni 2026

Notes:

Puisi Indra Pirmana ini menceritakan bahwa perjalanan hidup seseorang sudah diatur oleh Pencipta, seperti jodoh, wafat, dan rezeki. Jadi khusus para remaja agar mengambil keputusan yang tepat  ketika tidak lagi seirama dengan pasangan walaupun sudah berbagai cara diperbaiki. Maka yakin dan teruskan perjalanan hidup, jangan putus asa,  karena yang terbaik sudah disiapkan. Sesungguhnya manusia diciptakan berpasang-pasangan, namun menuju puncak banyak hal yang harus dilalui, bagaikan jalan tidak selamanya mulus. Begitupun dengan perjalanan cinta.

Indra Pirmana tinggal di Bangka Selatan. ***