Thomas Didimus: Golkar - Partai Tertua yang Tetap Modern
Oleh Thomas Didimus
ORBITINDONESIA.COM - Di tengah gonta-ganti partai politik yang lahir, bersinar sesaat, lalu meredup, ada satu nama yang tetap bertahan sejak era sebelum reformasi hingga hari ini: Partai Golongan Karya, atau yang lebih akrab disapa Golkar.
Bagi saya, konsistensi ini bukan kebetulan. Golkar adalah bukti nyata bahwa sebuah partai bisa bertahan bukan karena sosok, melainkan karena sistem.
Mari kita lihat rekam jejaknya. Sejak Pemilu 1971 hingga 1997, Golkar selalu menjadi pemenang di era Orde Baru, bahkan pernah meraih lebih dari 70 persen suara pada Pemilu 1997.
Yang lebih menarik, ketika badai reformasi 1998 menghantam dan sentimen publik begitu negatif terhadap segala sesuatu yang berbau Orde Baru, Golkar tidak tenggelam.
Pada Pemilu 1999, hanya setahun setelah Soeharto lengser, Golkar justru berhasil finis di posisi kedua nasional. Lalu pada Pemilu 2004, tujuh tahun sejak reformasi, Golkar bahkan tampil sebagai pemenang pemilu dengan lebih dari 24 juta suara, mengalahkan PDI Perjuangan dan PKB.
Sejak saat itu hingga Pemilu 2024, Golkar tidak pernah keluar dari tiga besar nasional, bahkan konsisten di posisi kedua pada 2009, 2014, 2019, dan 2024.
Pertanyaannya: bagaimana sebuah partai bisa terus relevan selama lebih dari lima dekade, melewati pergantian rezim, krisis moneter, hingga disrupsi digital?
Menurut saya, jawabannya terletak pada satu hal yang jarang dimiliki partai lain di Indonesia: Golkar sudah menjadi partai modern yang tidak bergantung pada karisma satu ketua umum.
1. Bertahan meski ketua umum silih berganti
Ini poin paling kuat menurut saya. Sejak reformasi, Golkar sudah dipimpin oleh banyak ketua umum: Akbar Tandjung, Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie, Setya Novanto, hingga Airlangga Hartarto.
Setiap pergantian kepemimpinan biasanya jadi ujian berat bagi partai mana pun — banyak partai lain yang begitu ditinggal sosok sentralnya justru kehilangan arah, bahkan pecah kongsi.
Golkar berbeda. Di bawah kepemimpinan siapa pun, partai ini tetap mampu menjaga posisinya di papan atas perolehan suara. Ini menunjukkan bahwa mesin partai, bukan sosok tunggal, yang menjadi fondasi utama kekuatan Golkar.
2. Struktur organisasi dan kaderisasi yang mengakar sampai daerah
Golkar punya jaringan struktur dari pusat (DPP) hingga ke tingkat desa/kelurahan yang sudah terbangun puluhan tahun.
Sistem kaderisasi ini memungkinkan regenerasi kepemimpinan berjalan relatif mulus dibanding partai-partai yang lahir belakangan dan masih sangat bergantung pada figur pendiri atau ketua umum tunggal.
3. Kemampuan beradaptasi lintas rezim
Golkar lahir sebagai kendaraan politik di era Orde Baru, tapi berhasil bertransformasi menjadi partai politik modern yang bersaing secara terbuka dalam sistem multipartai pasca-reformasi.
Tidak banyak organisasi politik yang mampu bertahan melewati pergantian sistem politik total seperti ini tanpa kehilangan basis dukungannya.
4. Pragmatisme dan fleksibilitas koalisi
Golkar dikenal luwes dalam membangun koalisi, baik dengan pemerintahan yang berkuasa maupun lintas ideologi.
Fleksibilitas ini sering dikritik sebagai oportunisme, tapi di sisi lain juga menjadi bukti kematangan organisasi dalam membaca peta politik dan menjaga relevansi jangka panjang.
5. Mesin pemenangan pemilu yang stabil
Selama beberapa pemilu terakhir, kenaikan atau penurunan suara Golkar cenderung tidak drastis dibanding partai-partai lain yang bisa naik-turun tajam mengikuti tren atau figur populer sesaat.
Kestabilan ini menunjukkan basis pemilih yang solid dan mesin partai di akar rumput yang bekerja konsisten, bukan sekadar mengandalkan gelombang popularitas.
Kesimpulan
Bagi saya, kombinasi dari daya tahan lintas rezim, pergantian kepemimpinan yang mulus, struktur kaderisasi yang kuat, serta fleksibilitas koalisi, membuat Golkar layak disebut sebagai salah satu partai paling modern di Indonesia — bukan dalam arti gaya kampanyenya yang kekinian, tapi dalam arti kelembagaannya yang tidak rapuh oleh pergantian tokoh.
Ini yang membedakan Golkar dari banyak partai lain yang eksistensinya sangat bergantung pada satu figur sentral.
Tentu, pandangan ini bukan tanpa perdebatan. Sebagian pengamat menilai stabilitas Golkar justru berakar dari warisan jaringan kekuasaan era Orde Baru dan pragmatisme "selalu ikut pemerintah yang berkuasa", bukan murni karena kekuatan sistem kaderisasi.
Ada juga yang menyoroti tren suara Golkar yang perlahan menurun sejak puncaknya di masa lalu, serta beberapa periode di mana partai ini diguncang isu internal, termasuk kasus hukum yang menjerat sejumlah ketua umumnya. Perspektif-perspektif ini penting untuk menjadi bahan diskusi lebih lanjut.
Bagaimana menurut kalian? ***