Film Seni Merayu Tuhan: Habib Jafar Kawal Adaptasi Buku Best Seller
ORBITINDONESIA.COM – Film Seni Merayu Tuhan resmi mengangkat buku best seller Habib Jafar ke layar lebar. Adaptasi buku ke film ini dikawal langsung Habib Jafar dari ide hingga 14 draf skenario.
Habib Jafar menyebut proyek film Seni Merayu Tuhan sebagai cara memperluas dakwah ke ruang publik yang lebih luas. Ia bahkan mengaku mulanya hanya ingin membuat versi film untuk YouTube.
Pernyataan itu menegaskan perubahan strategi komunikasi keagamaan di era digital. Dakwah tidak lagi hanya bertumpu pada mimbar, tetapi juga pada narasi populer yang mudah diakses.
Keterlibatan Habib Jafar sejak tahap ide hingga draf 14 menunjukkan kontrol kreatif yang jarang terjadi pada adaptasi buku populer. Ia mengatakan hadir dalam setiap perjalanan penulisan skenario dari draf 1 sampai draf 14.
Habib Jafar menyebut satu draf skenario memakan waktu dua hari. Jika ritme itu konsisten, proses penulisan saja bisa memakan waktu sekitar 28 hari kerja untuk mencapai 14 draf.
Angka draf yang banyak biasanya menandakan dua hal yang saling tarik-menarik. Ada kebutuhan menjaga substansi buku, dan ada tuntutan bahasa sinema yang harus efektif, ringkas, dan dramatis.
Di industri film, adaptasi sering tergelincir pada dua jebakan yang sama. Film bisa terlalu setia sehingga terasa seperti “membaca buku di layar”, atau terlalu bebas sehingga kehilangan ruh karya asal.
Habib Jafar tampak memilih jalur yang ketat pada visi. Ia menegaskan ingin film ini “tegak lurus” dengan nilai dan visi bukunya.
Pernyataan “tegak lurus” mengandung konsekuensi estetika dan etika. Ia mengisyaratkan bahwa film ini tidak sekadar hiburan, tetapi juga perangkat pesan yang harus terjaga akurasinya.
Namun, kontrol yang sangat kuat juga menyimpan risiko. Ketika pesan menjadi prioritas utama, film dapat kehilangan ambiguitas yang sering membuat karya sinema terasa manusiawi dan menggugah.
Di sisi lain, keputusan menggeser rencana dari YouTube ke layar lebar menandai eskalasi target audiens. Layar lebar menuntut kualitas produksi, ritme cerita, dan daya tarik emosional yang lebih tinggi.
Adaptasi ini juga membaca lanskap baru konsumsi konten keagamaan di Indonesia. Publik kini akrab dengan pendakwah yang hadir melalui podcast, film pendek, dan kanal digital, lalu bergerak ke format arus utama.
Kutipan Habib Jafar menjadi kunci arah film ini. “Aku ingin karya ini betul-betul sesuai dengan visi, sesuai dengan nilai bukunya,” ujarnya pada Kamis (2/7) seperti diberitakan GenPI.co.
Film Seni Merayu Tuhan berpotensi menjadi eksperimen penting: dakwah yang tidak memerintah, tetapi mengajak lewat cerita. Jika berhasil, ia bisa memperluas jangkauan pesan tanpa kehilangan kelembutan bahasa.
Tetapi publik berhak bersikap kritis pada cara agama diproduksi menjadi komoditas tontonan. Ketika film dibangun sebagai “pesan”, penonton bisa merasa digurui, lalu justru menjauh.
Di titik ini, tantangan Habib Jafar bukan hanya menjaga kesetiaan pada buku. Tantangannya adalah memberi ruang bagi penonton untuk menafsir, merasakan, lalu memilih, tanpa dipaksa menerima.
Kontrol kreatif yang kuat seharusnya tidak menutup pintu dialog artistik. Film yang matang justru lahir dari pertemuan nilai, konflik, dan keraguan yang ditata secara jujur.
Adaptasi buku best seller menjadi film layar lebar selalu menguji dua hal sekaligus: ketepatan pesan dan kekuatan cerita. Film Seni Merayu Tuhan membawa janji besar karena Habib Jafar mengawalnya dari awal sampai akhir.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan hanya seberapa setia film ini pada buku. Pertanyaannya adalah apakah film ini mampu membuat penonton pulang dengan hati yang lebih lapang, dan iman yang lebih sadar. (Orbit dari berbagai sumber, 9 Juli 2026)