Denny JA: Merenungkan Pemakaman Imam Ali Khamenei dan Legitimasi Memorial
MERENUNGKAN PEMAKAMAN IMAM ALI KHAMENEI DAN LEGITIMASI MEMORIAL
- Salah Satu Kerumunan Terbesar Dalam Sejarah: 9 Juta Orang?
Oleh Denny JA
ORBITINDONESIA.COM - Seorang manusia telah wafat lebih dari seratus hari. Namun tubuhnya belum juga dimakamkan. Di sebuah negeri yang setiap hari dipenuhi doa, jutaan orang justru menunggu.
Mereka menunggu perang mereda, langit berhenti mengirim rudal, dan sejarah menemukan waktunya sendiri untuk mengantar seorang pemimpin menuju tanah.
Ketika akhirnya peti jenazah itu bergerak, bukan hanya tubuh yang diiringi. Sebuah zaman ikut berjalan menuju peristirahatan terakhirnya.
Imam Ali Khamenei dimakamkan setelah 131 hari wafatnya. Pemakaman dihadiri oleh jutaan pelayat. Ada yang menyebut total pelayat sembilan juta orang. Ini salah satu kerumunan untuk satu event terbesar sepanjang sejarah.
-000-
Dalam tradisi Islam, termasuk mazhab Syiah, prinsip umum pemakaman adalah sesegera mungkin setelah seseorang wafat.
Nabi Muhammad sendiri menganjurkan agar jenazah tidak ditunda tanpa alasan yang sah. Karena itu, pemakaman yang baru dilakukan lebih dari empat bulan setelah kematian jelas merupakan pengecualian, bukan kebiasaan.
Tepatnya Imam Ali Khamenei dimakamkan 131 hari setelah hari wafatnya. Kasus Ali Khamenei merupakan salah satu pengecualian terbesar dalam sejarah modern Islam.
Menurut pengumuman resmi pemerintah Iran, serta laporan berbagai media internasional, penundaan terjadi karena situasi perang yang masih berlangsung setelah serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026.
Risiko keamanan dianggap terlalu tinggi untuk menyelenggarakan pemakaman yang hampir pasti akan mengumpulkan jutaan orang. Selain itu, pemerintah Iran ingin menyelenggarakan prosesi kenegaraan yang berlangsung di beberapa kota suci sekaligus. Ini sesuatu yang mustahil dilakukan ketika perang masih berlangsung.
Dalam fiqih Syiah sendiri dikenal prinsip darurah atau keadaan darurat. Ketika keselamatan jiwa masyarakat terancam, beberapa ketentuan praktis dapat ditangguhkan sementara tanpa dianggap melanggar syariat.
Penundaan pemakaman karena perang, ancaman keamanan, atau kondisi luar biasa termasuk dalam kategori yang dapat dibenarkan oleh banyak ulama.
Yang ditunda bukan penghormatan kepada jenazah. Yang ditunda hanyalah waktunya. Sementara penghormatan justru diperbesar.
Menurut berbagai laporan media, jumlah pelayat diperkirakan mencapai jutaan orang selama rangkaian prosesi di Teheran, Qom, hingga Mashhad.
Pemerintah Iran bahkan mempersiapkan belasan juta pengunjung sepanjang beberapa hari upacara, walaupun angka pasti tidak pernah dapat diverifikasi secara independen. Karena itu, estimasi yang paling hati-hati adalah “jutaan orang”.
-000-
Mengapa begitu banyak orang datang? Alasan pertama adalah agama.
Dalam tradisi Syiah, seorang Marja’ dan terutama seorang Pemimpin Tertinggi bukan sekadar kepala negara. Ia dipandang sebagai penjaga kesinambungan spiritual Revolusi Islam 1979.
Kehadirannya menyatukan dimensi politik dan religius sekaligus. Bagi jutaan pengikutnya, menghadiri pemakaman bukan hanya penghormatan kepada seorang manusia, melainkan bentuk kesetiaan kepada keyakinan yang telah membentuk identitas hidup mereka.
Di dalam psikologi agama, ritual semacam ini memperkuat solidaritas kolektif melalui pengalaman emosional yang dibagikan bersama.
Alasan kedua adalah nasionalisme.
Banyak warga Iran mungkin berbeda pandangan terhadap kebijakan pemerintah. Sebagian bahkan pernah mengkritik keras sistem politik negaranya.
Namun kematian seorang pemimpin akibat serangan negara asing sering kali mengubah dinamika psikologi masyarakat. Kritik internal dapat bergeser menjadi solidaritas nasional.
Dalam ilmu politik, fenomena ini dikenal sebagai rally around the flag effect. Ancaman dari luar sering kali memperkuat identitas nasional dan menyatukan kelompok yang sebelumnya terpecah.
Tidak semua yang hadir mendukung seluruh kebijakan Khamenei. Sebagian hadir karena merasa negaranya sedang berduka.
Alasan ketiga adalah sejarah.
Tidak setiap generasi menyaksikan wafatnya seorang pemimpin yang memimpin selama lebih dari tiga dekade. Banyak orang datang karena mereka sadar sedang menjadi saksi sebuah momen yang akan masuk buku sejarah.
Kehadiran mereka adalah cara sederhana untuk berkata kepada anak cucu kelak, “Aku berada di sana ketika sebuah zaman berakhir.”
-000-
Saya menyebut fenomena ini sebagai Legitimasi Memorial (Memorial Legitimacy).
Dalam demokrasi kita mengenal legitimasi elektoral. Seorang pemimpin memperoleh kewenangan melalui suara rakyat. Dalam pemerintahan dikenal legitimasi konstitusional. Dalam agama dikenal legitimasi spiritual.
Namun sejarah menunjukkan adanya bentuk legitimasi lain yang baru tampak ketika seseorang telah wafat.
Saya menyebutnya legitimasi memorial.
Legitimasi ini tidak diukur melalui surat suara, bukan pula melalui jabatan atau kekuasaan negara. Ia diukur melalui ingatan kolektif yang mendorong manusia meninggalkan rumahnya, berdiri berjam-jam di jalan, lalu merasa kehilangan seseorang yang bahkan tidak pernah mereka kenal secara pribadi.
Pemakaman besar adalah referendum terakhir sejarah. Yang dihitung bukan lagi suara, melainkan kenangan.
Legitimasi memorial, dengan demikian, dapat dipahami sebagai daya tahan simbolik seorang tokoh di dalam ingatan kolektif, yang baru benar-benar teruji setelah ia tidak lagi memegang jabatan ataupun kekuasaan formal.
Ia berbeda dari karisma politik sehari-hari karena tidak bergantung pada mobilisasi institusi, melainkan pada kesiapan sebuah masyarakat untuk terus mengaitkan tokoh itu dengan nilai yang mereka anggap layak diwariskan.
Di sini, pemakaman massal menjadi salah satu indikator: ia menandai apakah figur tersebut sekadar penguasa, atau telah berubah menjadi rujukan emosional lintas generasi.
-000-
Pengalaman hidup mengajarkan bahwa pemakaman sering kali lebih jujur daripada pidato.
Saya pernah berdiri di tengah ribuan orang yang mengantar seseorang ke liang lahat. Saat itu saya menyadari, tidak ada jabatan yang ikut dikuburkan.
Tidak ada kekayaan yang ikut ditimbun bersama tanah. Yang tinggal hanyalah kenangan orang lain tentang bagaimana seseorang memperlakukan sesamanya.
Barangkali karena itulah saya selalu memandang pemakaman bukan sebagai akhir kehidupan, melainkan cermin terakhir dari kehidupan itu sendiri.
Ketika saya membaca berita tentang jutaan orang memenuhi jalan-jalan Teheran, saya tidak segera bertanya apakah mereka semua setuju dengan Khamenei. Pertanyaan saya justru berbeda.
Apa yang membuat seorang manusia meninggalkan jejak emosi sedemikian besar sehingga bahkan kematiannya masih mampu menggerakkan lautan manusia?
Sejarah ternyata tidak hanya ditulis oleh kebijakan. Sejarah juga ditulis oleh cara manusia dikenang.
-000-
Fenomena ini mengingatkan saya pada dua buku penting. Pertama, buku berjudul The Elementary Forms of Religious Life. Penulisnya Émile Durkheim, 1912.
Durkheim menjelaskan bahwa ritual keagamaan tidak sekadar menghubungkan manusia dengan Tuhan. Ritual juga menghubungkan manusia dengan sesamanya.
Ketika ribuan atau jutaan orang berkumpul dalam satu emosi yang sama, muncul apa yang ia sebut collective effervescence. Individu berhenti merasa sendirian. Mereka menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri.
Dalam konteks pemakaman tokoh besar, rasa kehilangan pribadi berubah menjadi pengalaman kolektif. Kesedihan tidak lagi dimiliki seseorang, melainkan dimiliki sebuah bangsa. Itulah sebabnya ritual kematian sering menjadi momen paling kuat dalam membangun identitas bersama.
Buku kedua berjudul Crowds and Power. Penulisnya Elias Canetti, 1960.
Canetti menunjukkan bahwa kerumunan memiliki logikanya sendiri. Orang yang datang sebagai individu perlahan berubah menjadi bagian dari massa yang berbagi emosi bersama.
Dalam situasi tertentu, rasa takut menghilang, perbedaan sosial memudar, dan muncul pengalaman kesatuan yang sangat kuat.
Pemakaman tokoh besar adalah salah satu contoh paling jelas dari proses itu. Orang datang bukan hanya untuk melihat jenazah, tetapi untuk ikut merasakan bahwa mereka adalah bagian dari sejarah yang sedang berlangsung.
-000-
Saya semakin percaya bahwa ada dua jenis legitimasi. Yang pertama adalah legitimasi politik. Ia berhenti ketika masa jabatan selesai.
Yang kedua adalah legitimasi emosional. Ia baru mulai diuji setelah seseorang meninggal.
Pemilu menentukan siapa yang memimpin negara. Pemakaman menunjukkan siapa yang berhasil tinggal di dalam ingatan bangsa.
Yang satu diukur oleh kotak suara. Yang lain diukur oleh langkah kaki manusia menuju liang lahat.
-000-
Sepanjang sejarah modern, beberapa pemakaman memang menjadi lautan manusia.
Pemakaman Mahatma Gandhi di India tahun 1948 diperkirakan dihadiri lebih dari satu juta orang.
Pemakaman Gamal Abdel Nasser di Mesir tahun 1970 diperkirakan mencapai sekitar lima juta pelayat.
Pemakaman Ayatollah Ruhollah Khomeini tahun 1989 bahkan diperkirakan mencapai sekitar sepuluh juta orang dan menjadi salah satu yang terbesar sepanjang sejarah modern.
Pemakaman Paus Yohanes Paulus II tahun 2005 menghadirkan jutaan peziarah ke Roma. Kini, pemakaman Ali Khamenei diperkirakan juga masuk dalam daftar prosesi terbesar, meskipun angka akhirnya masih akan diperdebatkan.
Persamaannya menarik. Mereka semua bukan sekadar tokoh politik.
Mereka adalah simbol. Dan simbol selalu hidup lebih lama daripada tubuh manusia.
-000-
Tentu ada kontra argumen.
Sebagian pengamat berpendapat bahwa besarnya kerumunan tidak dapat dijadikan ukuran legitimasi politik. Dalam negara yang sangat terorganisasi, mobilisasi massa dapat dilakukan melalui fasilitas negara.
Misalnya disediakan transportasi gratis, jaringan organisasi, maupun dorongan sosial yang kuat. Karena itu, jutaan pelayat belum tentu berarti jutaan pendukung politik.
Argumen itu layak dihormati. Namun ia juga tidak membatalkan makna sosial dari kerumunan tersebut.
Dalam ilmu sosial, yang penting bukan hanya apakah semua orang datang secara sukarela, tetapi mengapa sebuah masyarakat masih menganggap kehadiran bersama memiliki arti.
Bahkan bila motif setiap individu berbeda, fakta bahwa jutaan manusia bersedia hadir dalam ruang emosional yang sama tetap merupakan fenomena sejarah yang pantas dipelajari.
-000-
Pada akhirnya, pemakaman Ali Khamenei mengingatkan kita bahwa kematian seorang pemimpin selalu berbicara tentang sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Ia berbicara tentang agama. Tentang bangsa. Tentang memori.
Tentang identitas. Dan terutama tentang cara sebuah masyarakat memilih untuk mengingat masa lalunya.
Karena pada akhirnya, yang dimakamkan bukan hanya seorang manusia. Yang ikut dimakamkan adalah satu bab sejarah. Dan bab berikutnya selalu ditulis oleh mereka yang masih hidup.
Mungkin karena itu hampir setiap peradaban selalu memberi perhatian besar pada cara mereka mengantar kematian.
Mesir membangun piramida. Romawi mendirikan mausoleum. Tiongkok menciptakan pasukan terakota. Nusantara mengenal penghormatan leluhur.
Semua berbeda bentuk. Tetapi mempunyai satu tujuan yang sama. Masyarakat sedang berkata kepada dirinya sendiri:
“Inilah orang yang akan terus kami ingat.” Maka sesungguhnya pemakaman bukan terutama tentang orang yang telah meninggal.
Pemakaman adalah cara masyarakat menjelaskan kepada generasi berikutnya tentang nilai apa yang ingin mereka wariskan.
Kuburan menutup kehidupan seseorang, tetapi ingatan manusialah yang memutuskan apakah sejarah benar-benar telah selesai.*
Jakarta, 7 Juli 2026
Referensi
1. The Elementary Forms of Religious Life. Émile Durkheim. Free Press. 1912.
2. Crowds and Power. Elias Canetti. Farrar, Straus and Giroux. 1960.
-000-
Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA's World
https://www.facebook.com/share/1BtY4AofLA/?mibextid=wwXIfr ***