Backrooms A24: Review Rotten Tomatoes, Box Office, dan Risiko Viral
ORBITINDONESIA.COM – Backrooms A24 diproyeksikan meraup US$40–50 juta pada akhir pekan pembuka, angka besar untuk film horor berbiaya rendah. Namun skor Rotten Tomatoes Backrooms baru 78%, menandakan hype viral tidak otomatis berbanding lurus dengan pujian kritikus.
A24 membidik “hit” baru lewat Backrooms, film horor yang diadaptasi dari serial YouTube yang dikenal berani menabrak batas. Proyek ini disutradarai Kane Parsons yang baru berusia 19 tahun, sosok yang menciptakan Backrooms versi asli.
Ulasan awal menyebut filmnya “cukup bagus”, tetapi tidak setinggi beberapa horor lain tahun ini. Perbandingan paling mencolok datang dari Obsession, yang dua pekan lalu meledak dengan skor kritikus 95% dan skor penonton 94% di Rotten Tomatoes.
Dalam peta rilis horor besar tahun ini, Backrooms berada di lapis menengah dengan 78% Rotten Tomatoes dari sekitar tiga lusin ulasan. Ia sejajar dengan Primate (78%), dan berada di bawah Send Help (93%) serta 28 Years Later: The Bone Temple (92%).
Di sisi bawah, jurangnya juga terlihat jelas: The Mummy (47%), Passenger (46%), hingga The Strangers Chapter 3 (18%). Artinya, Backrooms tidak gagal secara kritik, tetapi juga bukan pemimpin kualitas di genre yang sama.
Sinopsis resminya sengaja minimalis: “Sebuah pintu aneh muncul di ruang bawah tanah showroom furnitur.” Kalimat ini hanya mengintip permukaan dunia Backrooms, yang dalam versi YouTube menempatkan orang-orang di lorong menuju labirin ruang kosong yang seolah tak berujung.
Di dalam labirin itu, ancaman datang dari makhluk yang tidak jelas dan teror yang lebih psikologis daripada sekadar jumpscare. Lore yang menumpuk membuat Backrooms terasa seperti mitologi internet, bukan sekadar cerita hantu satu malam.
Basis penontonnya nyata dan terukur, bukan sekadar asumsi pemasaran. Video Backrooms pertama mengantongi sekitar 78 juta penayangan, dan total seluruh video melampaui 100 juta penayangan, sebuah mesin awareness yang jarang dimiliki horor orisinal.
Proyeksi pembukaan US$40–50 juta menjadi masuk akal jika efek “komunitas” bekerja seperti peluncur. Penonton yang sudah paham semesta Backrooms cenderung datang lebih cepat, lalu mendorong percakapan di media sosial.
Namun, artikel sumber menegaskan Obsession adalah anomali yang sulit dijadikan patokan. Film itu bahkan disebut memecahkan rekor 25 tahun, termasuk kenaikan box office 39% dari akhir pekan pertama ke kedua, fenomena yang hampir tidak terjadi.
Karena itu, metrik yang lebih relevan bagi Backrooms adalah apakah ia menjadi “sukses besar versi dirinya sendiri.” Dengan anggaran yang disebut rendah, margin kemenangan bisa tercapai tanpa harus meniru lintasan gila Obsession.
Skor 78% menunjukkan Backrooms mungkin lebih kuat sebagai pengalaman atmosfer daripada narasi yang rapi. Dunia “ruang kosong tak berujung” adalah konsep yang memikat, tetapi juga berisiko terasa repetitif ketika dipanjangkan ke format film panjang.
Keputusan A24 mengangkat sutradara 19 tahun adalah pertaruhan yang cerdas sekaligus rawan. Di satu sisi, otentisitas kreator asli menjaga DNA horor internetnya, tetapi di sisi lain, skala produksi film bioskop menuntut disiplin struktur yang tidak selalu lahir dari kultur YouTube.
Yang menarik, Backrooms memperlihatkan perubahan pusat gravitasi horor modern. Ketakutan kini banyak lahir dari estetika liminal space, kesunyian, dan “ketidakjelasan”, bukan hanya monster yang terlihat jelas.
Jika Backrooms sukses, industri akan membaca pesan bahwa IP viral bisa menjadi tambang emas baru. Tetapi jika ia hanya “cukup”, itu mengingatkan bahwa viralitas adalah pintu masuk, bukan jaminan kepuasan setelah lampu bioskop padam.
Backrooms A24 tampaknya akan menang secara komersial, meski tidak memimpin klasemen pujian kritikus di Rotten Tomatoes. Ia berdiri di titik temu yang menarik antara budaya internet, horor atmosfer, dan strategi studio yang berburu hit berbiaya rendah.
Pertanyaannya bukan apakah Backrooms bisa menyaingi Obsession, melainkan apakah ia mampu mengubah rasa takut digital menjadi pengalaman sinematik yang bertahan. Pada akhirnya, pintu aneh di basement itu seperti metafora industri: sekali dibuka, kita tidak pernah benar-benar tahu labirin apa yang menunggu di dalamnya. (Orbit dari berbagai sumber, 3 Juni 2026)