Konser Perpisahan Kodaline di LaLaLa Fest 2026 Jakarta

detikcom

detikcom

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Konser perpisahan Kodaline di LaLaLa Fest 2026 Jakarta berubah jadi ruang duka kolektif yang rapi dan meriah. Steve Garrigan menutup malam di Gambir Expo dengan janji sederhana: lagu-lagu ini akan kalian nyanyikan bersama.

LaLaLa Fest 2026 di Kemayoran menjadi panggung terakhir Kodaline di Indonesia sebelum mereka pamit dari industri musik dunia. Keputusan bubar setelah rangkaian tur perpisahan membuat setiap bait terasa seperti salam terakhir yang ditunda.

Di Indonesia, Kodaline bukan sekadar band pop-rock, melainkan “soundtrack” patah hati lintas generasi. Karena itu, konser ini bukan hanya tontonan, tetapi ritus perpisahan yang menuntut partisipasi emosional penonton.

Setlist yang mengandalkan anthem seperti “Brother”, “High Hopes”, “Love Will Set You Free”, “The One”, hingga “Love Like This” bekerja sebagai mesin memori yang presisi. Klimaks “All I Want” sebagai penutup memperlihatkan bagaimana satu lagu bisa mengikat ribuan orang dalam kesedihan yang serempak.

Fenomena sing-along massal menunjukkan pergeseran fungsi konser dari konsumsi musik menjadi pengalaman komunal. Studi tentang musik dan emosi menegaskan lagu dengan tempo moderat dan lirik naratif cenderung memicu resonansi autobiografis, sehingga penonton merasa sedang “menceritakan ulang” hidupnya sendiri.

Kejutan istri Steve yang membawa kue ulang tahun menambah lapis intim pada panggung publik. Momen itu menormalisasi kerentanan, seolah berkata bahwa perpisahan tidak selalu harus dingin, bisa juga hangat dan manusiawi.

Aksi lamaran yang tertangkap kamera saat “The One” memperlihatkan konser sebagai panggung sosial baru. Lagu romantik-pop dipakai sebagai legitimasi emosional, dan kerumunan menjadi saksi yang memberi validasi instan.

Di sisi lain, ada ekonomi atensi yang bekerja halus di balik semua kepedihan itu. Festival membutuhkan momen viral, sementara penggemar butuh kenangan yang bisa dibawa pulang, dan keduanya bertemu dalam dramaturgi yang nyaris sempurna.

Namun, kekuatan utama malam itu tetap pada kepiawaian Kodaline mengelola kesedihan tanpa memerasnya. Kalimat Steve, “Gimana? Masih seru gak? Kita lanjutin ya,” terdengar remeh, tetapi justru menjadi jembatan antara panggung dan penonton.

Konser perpisahan Kodaline di Jakarta mengingatkan bahwa “galau” bukan kelemahan, melainkan bahasa sosial yang menyatukan orang asing. Saat ribuan suara menyanyi serempak, kesedihan berubah menjadi solidaritas yang tidak membutuhkan perkenalan.

Tetapi kita juga perlu kritis pada cara industri mengemas akhir sebagai komoditas paling laku. Perpisahan dijual sebagai pengalaman premium, dan air mata sering kali menjadi metrik keberhasilan yang tidak tertulis.

Meski begitu, tidak adil menyederhanakan malam itu sebagai strategi pemasaran semata. Ada ruang otentik yang sulit dipalsukan ketika penonton mengusap air mata sambil tetap bernyanyi, karena mereka sedang merawat kenangan masing-masing.

LaLaLa Fest 2026 menutup bab Kodaline di Indonesia dengan campuran manis dan pahit yang jujur. Kita menyaksikan bagaimana musik bisa menjadi arsip hidup, sekaligus jembatan untuk mengucapkan selamat tinggal tanpa benar-benar selesai.

Pertanyaannya kini sederhana dan tajam: setelah bandnya pergi, apa yang kita lakukan dengan lagu-lagu yang telanjur menempel pada luka dan cinta kita. Mungkin jawabannya bukan “move on” cepat, melainkan belajar mengingat tanpa tenggelam.

(Orbit dari berbagai sumber, 31 Agustus 2026)