Siapa Melva Maria Rosa Pardede, yang Muncul dalam Aksi 27 Agustus 2026 di sekitar DPR RI?

Melva Maria Rosa Pardede.

Melva Maria Rosa Pardede.

Nasional

ORBITINDONESIA.COM - Nama Melva Maria Rosa Pardede menjadi viral setelah muncul dalam aksi 27 Agustus 2026 di sekitar DPR RI dengan mengenakan jaket ojol. Ia terlihat mengecam keputusan massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) yang membubarkan diri setelah memperoleh komitmen DPR mengenai RUU Perampasan Aset.

Dalam video yang beredar, ia mengatakan antara lain bahwa massa Pati "sudah cair" dan mempertanyakan mengapa mereka pulang setelah memperoleh hasil audiensi.

Namun, narasi bahwa Melva sama sekali bukan ojol ternyata tidak sesederhana itu.

Ada catatan media dari 29 Agustus 2024, sekitar dua tahun sebelum peristiwa sekarang, yang menyebut seseorang bernama Melva Maria Rosa Pardede, berusia 54 tahun, sebagai pengemudi ojek daring.

Ia ketika itu diwawancarai mengenai persoalan beban pengiriman dan bayaran. Usianya juga konsisten dengan pemberitaan terbaru yang menyebut Melva sekitar 56 tahun.

Jadi, klaim bahwa ia "ojol jadi-jadian" atau sama sekali bukan pengemudi ojol belum terbukti dan justru berhadapan dengan bukti pemberitaan sebelumnya.

Ini penting karena sejumlah media yang memberitakan tuduhan tersebut sendiri mengakui bahwa sumber utamanya berasal dari unggahan dan komentar warganet, bukan dokumen resmi.

Lalu bagaimana dengan statusnya sebagai mantan aktivis?

Ada beberapa pemberitaan yang menyebut Melva pernah menjadi aktivis dan pernah menjadi tim sukses seorang calon anggota DPR RI. Akan tetapi, bagian ini juga belum berhasil diverifikasi secara independen.

Sumber yang paling eksplisit mengenai klaim tersebut berasal dari unggahan akun media sosial dan kemudian dikutip media. Bahkan media yang melakukan penelusuran lebih hati-hati menyatakan bahwa sampai 28 Agustus 2026 belum menemukan dokumen resmi, pernyataan Melva, data KPU, atau sumber primer lain yang mengonfirmasi siapa calon yang pernah didukungnya.

Jadi, untuk sementara statusnya sebaiknya ditulis: "Melva disebut-sebut pernah menjadi tim sukses seorang calon anggota DPR RI, tetapi identitas calon tersebut belum terverifikasi." Bukan: "Melva adalah mantan timses calon X."

Siapa calon DPR RI yang dimaksud?

Nah, ini yang menarik: sampai pencarian sekarang, belum ditemukan sumber kredibel yang menyebut nama calonnya.

Yang beredar hanya kalimat bahwa Melva pernah menjadi timses salah satu calon DPR RI. Tidak disebut: nama calon; partai; daerah pemilihan; tahun Pemilu; posisi Melva dalam tim; atau dokumen resmi tim kampanye.

Media yang melakukan penelusuran khusus mengenai hal ini juga sampai pada kesimpulan yang sama: identitas calon tersebut belum diketahui secara terverifikasi.

Ada satu fakta yang justru menarik

Klaim bahwa Melva tidak pernah menjadi ojol tampaknya lebih lemah daripada klaim bahwa ia pernah menjadi timses.

Sebab untuk status ojol terdapat jejak pemberitaan tahun 2024 dengan nama lengkap yang sama.

Bahkan media yang membahas polemik sekarang menemukan bahwa keterlibatan Melva dalam isu ojol bukan baru muncul pada 27 Agustus 2026.

Jadi narasi: "Melva sebenarnya bukan ojol sama sekali" terlalu cepat. Yang mungkin lebih tepat adalah: "Melva pernah/masih beraktivitas sebagai pengemudi ojol, tetapi juga diduga mempunyai latar belakang aktivisme dan politik."

Dua hal itu tidak otomatis bertentangan. Seseorang bisa pernah menjadi aktivis, pernah menjadi timses, dan kemudian bekerja sebagai pengemudi ojol.

Yang perlu dibuktikan adalah apakah ia menggunakan atribut ojol secara palsu pada 27 Agustus untuk tujuan tertentu. Itu tuduhan yang berbeda dan membutuhkan bukti tersendiri.

Jadi, apakah ada indikasi Melva merupakan "orang politik"?

Ada indikasi yang sedang beredar, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan.

Jejak media sosial yang dikutip beberapa media menunjukkan Melva pernah aktif mengomentari politik dan pemerintahan, termasuk mengkritik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta serta memuji gaya kepemimpinan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

Tetapi preferensi politik atau aktivitas di media sosial tidak membuktikan seseorang merupakan kader partai atau operator politik. Dan ini justru membuat kasus Melva menarik untuk ditelusuri lebih jauh.

Bukan dengan cara doxxing atau menyebarkan alamat pribadinya—itu tidak perlu—melainkan dengan jejak politik yang dapat diverifikasi: Apakah namanya pernah tercantum dalam struktur tim kampanye? Pada Pemilu 2019 atau 2024, siapa calon DPR RI yang menggunakan jasanya? Dapil mana? Partai apa?

Apakah ada SK tim kampanye? Apakah namanya tercatat dalam dokumen KPU? Apakah ada foto kegiatan kampanye bersama calon tersebut? Apakah Melva sendiri pernah mengakui pernah menjadi timses?

Kalau salah satu dari dokumen primer itu ditemukan, barulah kita bisa menjawab pertanyaan "timses siapa?" dengan mantap.

Untuk saat ini, jawaban paling jujur adalah:

Melva Maria Rosa Pardede adalah perempuan yang viral setelah mengecam kepulangan massa AMPB dari DPR pada 27 Agustus 2026. Ada bukti pemberitaan lama yang menunjukkan seseorang dengan nama lengkap sama pernah bekerja sebagai pengemudi ojol.

Sementara klaim bahwa ia mantan aktivis dan mantan timses calon DPR RI beredar luas, tetapi belum terverifikasi secara independen. Dan nama calon DPR RI yang disebut-sebut pernah didukungnya belum berhasil ditemukan dalam sumber yang kredibel. ***