Literasi Keuangan di Sekolah: Intuit Dorong Kurikulum Personal Finance

ORBITINDONESIA.COM – Literasi keuangan di sekolah kembali menguat sebagai tuntutan publik, seiring orang tua kian cemas menghadapi biaya hidup dan utang rumah tangga. Data Intuit menyebut 88% orang tua ingin financial literacy jadi mata pelajaran inti, setara matematika dan sains.

April diperingati sebagai Financial Literacy Month, namun peringatannya terasa ironis ketika banyak keluarga masih gagap mengelola uang. Di San Diego, Intuit menyoroti jurang antara kebutuhan hidup modern dan bekal pengetahuan finansial yang diterima anak-anak di sekolah.

Di atas kertas, kebijakan mulai bergerak karena 30 negara bagian di AS, termasuk California, kini mewajibkan satu semester personal finance sebelum kelulusan SMA. Tetapi kewajiban itu memunculkan masalah baru: siapa yang mengajar, dengan materi apa, dan seberapa relevan dengan realitas ekonomi hari ini.

Intuit memotret akar dorongan ini bukan semata idealisme pendidikan, melainkan tekanan finansial di rumah. “Our data shows that parents’ own financial stress is actually motivating them to talk to their kids more about how to manage money,” kata Dave Zasada, Vice President of Education and Corporate Responsibility Intuit.

Angka 88% dukungan orang tua untuk menjadikan literasi keuangan sebagai mata pelajaran inti adalah sinyal politik sekaligus sosial. Ketika mayoritas publik meminta sekolah mengajarkan budgeting, saving, dan investing, itu berarti keluarga merasa sistem saat ini belum cukup menyiapkan anak menghadapi keputusan uang yang nyata.

Namun kebijakan wajib personal finance tidak otomatis menghasilkan kompetensi, karena kualitas pembelajaran ditentukan oleh kurikulum, guru, dan metode evaluasi. Banyak guru bukan berlatar belakang keuangan, sementara materi finansial cepat usang jika hanya berupa definisi, rumus, atau hafalan.

Di titik itu, Intuit menawarkan Intuit for Education Program: kurikulum gratis, dapat dikustomisasi, dan interaktif untuk memudahkan integrasi di kelas. Intuit juga menyediakan pelatihan gratis agar pendidik lebih percaya diri mengajar topik yang sering dianggap “menakutkan” karena dekat dengan risiko dan angka.

Intuit menekankan metode simulasi berbasis skenario dunia nyata, sehingga siswa bisa “mencoba” keputusan finansial tanpa kehilangan uang sungguhan. “Being able to apply financial concepts gives students the ability to see the impact of their decisions in real time without risking real money,” ujar Zasada.

Pendekatan ini penting karena literasi keuangan bukan hanya tahu istilah, melainkan mampu menimbang konsekuensi. Simulasi dapat meniru dilema yang lazim: memilih cicilan vs tabungan, menyusun anggaran bulanan, atau memahami biaya tersembunyi dari bunga dan keterlambatan.

Meski demikian, ada pertanyaan yang perlu diajukan pada setiap kurikulum yang disponsori korporasi: nilai apa yang ikut dibawa. Literasi keuangan idealnya mengajarkan sikap kritis terhadap produk finansial, bukan sekadar cara memakai produk.

Jika kelas personal finance hanya berakhir pada “cara membuka akun” atau “cara memakai aplikasi,” maka siswa berisiko menjadi pengguna patuh, bukan warga yang paham hak, risiko, dan pilihan. Pendidikan finansial yang kuat harus menyentuh juga topik etika konsumsi, jebakan utang, serta ketimpangan akses terhadap layanan keuangan.

Menjadikan literasi keuangan di sekolah sebagai mata pelajaran inti adalah langkah logis, karena uang memengaruhi hampir semua keputusan dewasa. Namun narasi “keterampilan individu” tidak boleh menutupi kenyataan bahwa banyak stres finansial berasal dari struktur ekonomi, bukan semata kurangnya pengetahuan.

Di sinilah sekolah punya peran ganda: mengajarkan keterampilan praktis sekaligus memberi kerangka berpikir kritis. Anak perlu bisa menyusun anggaran, tetapi juga perlu memahami mengapa biaya hidup bisa melampaui upah, mengapa bunga berbunga bisa menjerat, dan bagaimana membaca kontrak layanan.

Program seperti Intuit for Education bisa membantu menutup kekosongan, terutama ketika negara bagian mewajibkan personal finance namun sekolah kekurangan sumber daya. Tetapi transparansi, independensi materi, dan evaluasi dampak harus dijaga agar pendidikan tidak berubah menjadi promosi halus.

Ketika 30 negara bagian sudah mewajibkan personal finance, pertanyaannya bergeser dari “perlu atau tidak” menjadi “seberapa bermutu dan seberapa adil.” Literasi keuangan di sekolah seharusnya melahirkan generasi yang bukan hanya paham angka, tetapi juga berani bertanya sebelum menandatangani risiko.

Pada akhirnya, uang adalah alat, bukan tujuan, dan pendidikan adalah kesempatan untuk mengembalikan kendali pada warga sejak dini. Jika sekolah berhasil membuat siswa mampu berkata “saya mengerti konsekuensinya,” maka itu bukan sekadar pelajaran, melainkan perlindungan seumur hidup.

(Orbit dari berbagai sumber, 4 Juni 2026)