Nilai Tukar Rupiah pada Jumat Kemarin Ditutup di Level Rp 17.865/USD, Menguat 0,84% Dibanding 5 Juni

Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap USD.

Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap USD.

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM - Nilai tukar rupiah pada Jumat kemarin ditutup di level Rp 17.865/USD, menguat 0,84% dibanding penutupan 5 Juni lalu di Rp 18.010/USD. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti mengatakan, itu mencerminkan respons positif pasar terhadap kebijakan BI.

Pasca kenaikan BI Rate, terjadi peningkatan inflows transaksi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) nonresiden dan Surat Berharga Negara (SBN). Pada 10 Juni, aliran modal masuk tercatat Rp 15,11 triliun, dan 11 Juni sebesar Rp 3,91 triliun.

Pengamat pasar uang, Budi Frensidy, menilai penguatan rupiah tak terlepas dari dampak kenaikan BI Rate menjadi 5,50% yang meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik.

Selain itu, minat investor asing terhadap instrumen berbasis rupiah mulai kembali terlihat. Ia memperkirakan peluang rupiah kembali melemah di bawah level Rp 18.000/USD relatif lebih kecil dibanding sebelumnya, meski volatilitas pasar masih cukup tinggi.

Index Harga Saham Gabungan (IHSG) Jumat kemarin ditutup menguat 121,62 poin (2,07%) ke 6.007,65. Selama sepekan, IHSG melonjak 7,38%. Kapitalisasi pasar meningkat 7,31% menjadi Rp 10.524 triliun dari Rp 9.807 triliun pekan sebelumnya.

Rata-rata frekuensi transaksi harian naik 4,14% menjadi 2,51 juta kali dari 2,41 juta kali pekan lalu, dan rata-rata volume transaksi harian 7,46% menjadi 36,14 miliar saham.

Investor asing mencatatkan nilai beli bersih Rp 286,84 miliar, dan sepanjang 2026 masih mencatatkan nilai jual bersih Rp 67,344 miliar.

Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menilai, ada sejumlah sentimen yang menopang penguatan pasar. Salah satunya adalah penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang meningkatkan optimisme pelaku pasar.

Selain itu, munculnya upaya diplomatik baru antara AS dan Iran. Faktor lain, masuknya aliran dana ke pasar saham dan obligasi domestik, yang tercermin dari penurunan yield obligasi pemerintah tenor 5 dan 10 tahun.

Bank Dunia (BD) memperkirakan ruang fiskal RI akan tetap berada di bawah tekanan dalam beberapa tahun ke depan. Defisit APBN akan tetap berada di kisaran 2,8% dari PDB pada 2026 dan 2027, sebelum sedikit menurun menjadi 2,7% pada 2028.

Tekanan APBN berasal dari kombinasi meningkatnya belanja subsidi dan pelaksanaan program-program prioritas.

Meski begitu, BD menilai, penerimaan negara diperkirakan mulai membaik, didorong berkurangnya penumpukan restitusi pajak serta hasil reformasi administrasi perpajakan. BD meramal RI masih akan mencatat defisit primer rata-rata 0,4% terhadap PDB sepanjang 2026–2028.

Pertumbuhan ekonomi diperkirakan melambat ke 5,0% pada 2026, dipengaruhi tekanan eksternal yang berpotensi menahan laju investasi dan ekspor.

Arah pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah sangat bergantung pada keberhasilan pemerintah menjalankan agenda reformasi struktural.

Saat ini pertumbuhan masih bergantung pada stimulus dari sisi permintaan, seperti belanja pemerintah dan berbagai insentif fiskal. Tanpa reformasi yang mampu meningkatkan produktivitas dan kapasitas ekonomi, dorongan itu hanya berdampak sementara terhadap pertumbuhan.***