Armaidi Tanjung: Tujuh Hari Perjalanan “Manjalang Guru” di Sumatera–Jawa
Oleh Armaidi Tanjung, Sekretaris SATUPENA Sumatera Barat/Wartawan Utama
Bismillahirrahmanirrahim.
Perjalanan manjalang guru—ziarah dan menyambangi jejak para ulama serta guru yang telah mendahului—dimulai pada Senin, 10 Agustus 2026. Perjalanan diawali dari makam Ungku Bagindo Lubuk Pua di Sungai Sariak, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.
Penulis mengikuti perjalanan tersebut bersama Ketua Majelis Syuro Majelis Zikir dan Sholawat Al-Hidayah Sumatera Barat, Buya Bustanul Arifin Khatib Bandaro, S.Pd.I.; Ketua Majelis Zikir dan Sholawat Al-Hidayah Sumatera Barat, Buya Ahmad Damanhuri Tuanku Mudo, S.H.; Ketua Majelis Zikir dan Sholawat Al-Hidayah Padang Pariaman, Nursyamsu (Bujang); serta Pengurus Majelis Zikir dan Sholawat Al-Hidayah Padang Pariaman, Labai Safar.
Dari Sungai Sariak, perjalanan dilanjutkan menuju Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman, untuk berziarah ke makam Syekh Burhanuddin. Ulakan merupakan salah satu tempat penting dalam sejarah perkembangan Islam dan tradisi keulamaan di Sumatera Barat.
Menaklukkan “Tangga Seribu” di Barus
Selasa, 11 Agustus 2026 sekitar pukul 08.00 WIB, rombongan tiba di Barus, Sumatera Utara. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Situs Cagar Budaya Kompleks Makam Papan Tinggi, yang berada di Desa Penanggahan, Kecamatan Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah.
Di tempat ini terdapat makam Syekh Mahmud yang berada di atas bukit. Untuk mencapainya, para peziarah harus menaiki tangga yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai “Tangga Seribu”.
Perjalanan menaiki tangga tersebut cukup menguras tenaga, terutama bagi sejumlah anggota rombongan yang telah lanjut usia. Namun, semangat untuk berziarah membuat rasa lelah seakan terlupakan.
Perlahan tetapi pasti, rombongan akhirnya berhasil mencapai puncak bukit. Dari atas, terlihat panorama yang indah dengan hamparan laut pantai barat Sumatera yang membentang luas.
Menjelang Magrib, rombongan tiba di Singkil, Provinsi Aceh. Malam itu rombongan beristirahat dan bermalam di Singkil.
Silaturahmi di Subulussalam
Rabu, 12 Agustus 2026, setelah sarapan pagi di Singkil, perjalanan kembali dilanjutkan. Menjelang waktu Zuhur, rombongan tiba di Kota Subulussalam.
Di kota ini rombongan telah ditunggu H. Ali Usman, pemilik Toko Mas Budi Baik, bersama istrinya. Ali Usman menjamu rombongan makan siang sekaligus bersilaturahmi.
Pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk membangun konektivitas antara ranah dan rantau. Jamuan sederhana itu terasa istimewa karena menjadi bagian dari silaturahmi dengan jamaah Majelis Zikir dan Sholawat Al-Hidayah yang sedang melakukan perjalanan religius melintasi sejumlah daerah di Sumatera.
Usai menunaikan shalat Zuhur, perjalanan dilanjutkan menuju Aceh Selatan, kawasan yang berada di pesisir barat Pulau Sumatera.
Di Aceh Selatan, rombongan dijamu makan sore di Rumah Makan Minang Raya oleh putra sulung Nursyamsu (Bujang), Muhammad Ikbal Aulia (30). Ikbal merupakan perantau yang telah lama tinggal di Aceh Selatan. Ia merantau ke daerah tersebut sejak berusia 15 tahun dan kemudian menikah dengan perempuan asal Tapaktuan, Agus Novi Syaifiana (28), pada 2018.
Kini pasangan tersebut telah dikaruniai tiga orang anak.
Setelah seluruh rombongan menikmati jamuan dan bersilaturahmi, perjalanan kembali dilanjutkan menuju Banda Aceh.
Ziarah ke Syiah Kuala
Kamis, 13 Agustus 2026, perjalanan berlanjut. Rombongan menunaikan shalat Subuh di Masjid Miftahul Huda, Desa Patik, Kecamatan Darul Hikmah, Kabupaten Aceh Jaya.
Sarapan pagi kemudian dinikmati di sebuah warung di kaki Gunung Gurute Indah, Desa Menasah Lhok, Kecamatan Lhong, Kabupaten Aceh Besar.
Menjelang sore, rombongan tiba di Kompleks Situs Cagar Budaya Makam Syiah Kuala, Syekh Abdurrauf, di Gampong Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh.
Setelah menunaikan shalat Isya berjamaah, rombongan berziarah ke makam Syekh Abdurrauf.
Ziarah tersebut terasa semakin bermakna karena Syekh Abdurrauf merupakan salah satu ulama besar yang memiliki pengaruh luas dalam sejarah perkembangan Islam di Aceh dan Nusantara.
Mengenang Tsunami Aceh
Jumat, 14 Agustus 2026, penulis berkesempatan menunaikan shalat Jumat di Masjid Raya Baiturrahman, Kota Banda Aceh.
Masjid yang berdiri megah di tengah Kota Banda Aceh tersebut bukan hanya menjadi simbol keislaman masyarakat Aceh, tetapi juga menyimpan sejarah panjang perjalanan masyarakat Aceh.
Menjelang sore, setelah makan siang, perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi Kapal PLTD Apung 1 yang kini menjadi salah satu situs dan museum terkait bencana tsunami Aceh 2004.
Kapal tersebut menjadi saksi dahsyatnya tsunami yang melanda Aceh dan menewaskan ratusan ribu jiwa. Kapal PLTD Apung 1 bahkan terseret gelombang dan terdampar di kawasan permukiman penduduk.
Mengunjungi tempat tersebut membuat ingatan tentang tragedi kemanusiaan pada 2004 kembali hadir. Sebuah kapal yang semula berfungsi sebagai pembangkit listrik kini justru menjadi pengingat betapa dahsyatnya kekuatan alam dan betapa rapuhnya kehidupan manusia.
Di atas kapal PLTD Apung 1, penulis bertemu dengan seorang wisatawan asal Italia bernama Borneo bersama pasangannya.
Dari Aceh Menuju Tanah Jawa
Jumat malam, penulis berpisah dengan rombongan untuk mempersiapkan keberangkatan menuju Pulau Jawa.
Malam itu penulis beristirahat di sebuah hotel yang berada tidak jauh dari Bandara Sultan Iskandar Muda.
Sabtu, 15 Agustus 2026, setelah menunaikan shalat Subuh, penulis menuju Bandara Sultan Iskandar Muda untuk melanjutkan perjalanan menuju Surabaya.
Bersama Abizar, penulis berangkat dari Aceh, transit di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, kemudian melanjutkan penerbangan menuju Bandara Juanda, Surabaya.
Setibanya di Surabaya, penulis langsung menuju hotel dan menghadiri sebuah pertemuan hingga malam hari.
Setelah makan malam, perjalanan manjalang guru berlanjut ke Jombang.
Menziarahi Pendiri NU
Malam itu penulis bersama rombongan berziarah ke makam pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, di Kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang.
Di kompleks tersebut juga terdapat makam Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan ayah beliau, KH Wahid Hasyim, putra KH Hasyim Asy’ari.
Ketiganya telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh negara.
Keberadaan tiga generasi dalam satu kompleks makam—kakek, ayah, dan anak—yang semuanya mendapatkan penghargaan sebagai Pahlawan Nasional merupakan sesuatu yang istimewa. Ketiganya bukan hanya memiliki hubungan darah, tetapi juga mewariskan mata rantai perjuangan keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan yang panjang.
Ziarah di makam tersebut dipimpin langsung oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), yang juga cicit KH Hasyim Asy’ari.
Usai ziarah, Gus Kikin menerima para peziarah di ruang tamu kediaman Pengasuh Pesantren Tebuireng.
Pertemuan singkat tersebut menjadi pengalaman tersendiri. Dari makam pendiri NU, perjalanan manjalang guru seakan mempertemukan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu ruang. Para peziarah datang untuk mengenang para ulama yang telah wafat, tetapi sekaligus membawa pulang pesan dan keteladanan untuk kehidupan hari ini.
Menziarahi KH Abdul Wahab Chasbullah
Dari Tebuireng, perjalanan dilanjutkan menuju Kompleks Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Di tempat ini penulis berziarah ke makam KH Abdul Wahab Chasbullah, salah seorang inspirator, pendiri, dan penggerak Nahdlatul Ulama. KH Abdul Wahab Chasbullah juga telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia.
Ziarah ke makam KH Abdul Wahab Chasbullah sekaligus menjadi penutup rangkaian perjalanan manjalang guru yang melintasi Sumatera hingga Jawa.
Perjalanan tersebut bukan sekadar perpindahan dari satu kota ke kota lain. Ia adalah perjalanan spiritual, sejarah, silaturahmi, sekaligus napak tilas tradisi keulamaan Nusantara.
Dari makam Ungku Bagindo Lubuk Pua dan Syekh Burhanuddin di Sumatera Barat, perjalanan bergerak ke Barus, Singkil, Subulussalam, Aceh Selatan, Banda Aceh, kemudian menyeberang ke Pulau Jawa dan berakhir di Jombang.
Ada nama-nama ulama yang terus hidup dalam ingatan umat. Ada jejak sejarah yang masih dapat dikunjungi. Ada pula silaturahmi dengan para perantau yang menjadi penghubung antara ranah dan rantau.
Semua itu memberikan satu pelajaran sederhana: perjalanan ziarah bukan hanya tentang mendatangi makam orang-orang yang telah mendahului kita. Ia juga merupakan perjalanan untuk melihat kembali siapa diri kita, dari mana kita berasal, dan nilai-nilai apa yang hendak kita teruskan kepada generasi berikutnya.
Kembali ke Ranah Minang
Minggu, 16 Agustus 2026, perjalanan kembali menuju Sumatera Barat.
Penulis berangkat melalui Bandara Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, kemudian transit di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Perjalanan akhirnya tiba di Bandara Internasional Minangkabau, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.
Dengan demikian, rangkaian perjalanan manjalang guru selama tujuh hari pun berakhir.
Perjalanan dimulai dengan jalur darat menggunakan bus menyusuri Pulau Sumatera, kemudian berlanjut melalui jalur udara dari Aceh menuju tanah Jawa, sebelum akhirnya kembali ke ranah Minang.
Tujuh hari perjalanan memberikan banyak pengalaman: kelelahan, kebersamaan, silaturahmi, pemandangan alam, jejak sejarah, dan terutama kesempatan untuk berziarah kepada para ulama yang telah meninggalkan warisan ilmu dan perjuangan bagi umat dan bangsa.
Semoga perjalanan manjalang guru ini tidak berhenti sebagai perjalanan fisik semata. Semoga ziarah tersebut menjadi perjalanan batin untuk mengenang, mengambil hikmah, memperkuat silaturahmi, dan meneladani perjuangan para ulama.
Semoga perjalanan ini memberikan sesuatu yang terbaik bagi penulis dan seluruh rombongan.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin. ***