Kontroversi Katie Zacharia: Klaim Pengacara Disorot State Bar California
ORBITINDONESIA.COM – Kontroversi Katie Zacharia meledak setelah lembaga pengawas etika melayangkan pengaduan ke California State Bar. Intinya tajam: Juru Bicara Gedung Putih itu berulang kali mengaku sebagai pengacara, padahal laporan menyebut ia tidak memiliki lisensi praktik hukum di negara bagian mana pun.
Pengaduan itu diajukan Campaign for Accountability, sebuah organisasi nirlaba, pada Rabu waktu setempat. Mereka meminta investigasi atas klaim Zacharia yang disebut “berulang” menyebut diri sebagai lawyer.
Dokumen pengaduan menekankan bahwa jika seseorang “menampilkan diri kepada publik” seolah berhak praktik hukum tanpa lisensi, hukum California dapat memperlakukannya sebagai tindak pidana. Rujukannya adalah California Business and Professions Code yang mengancam pelanggaran ini sebagai misdemeanor.
Keraguan publik memuncak saat Zacharia tampil perdana di podium ruang briefing Gedung Putih pada Selasa. Penampilan kurang dari 15 menit itu ramai diejek karena beberapa kekeliruan retorika, sementara pertanyaan penting justru banyak tidak dijawab.
Zacharia lulus dari Pepperdine Law School pada 2011, dan hal itu dikonfirmasi universitas kepada The Washington Post. Setelah briefing, ia mengatakan kepada wartawan bahwa ia “lulus bar” ketika pindah ke China.
Masalahnya, warga negara asing tidak diizinkan mengikuti ujian bar atau praktik hukum di China. Namun pengaduan mencatat Zacharia sempat bekerja sebagai associate di sebuah firma hukum di Beijing tak lama setelah lulus.
Di Amerika Serikat, status “pengacara” bukan sekadar gelar akademik, melainkan lisensi aktif yang dikeluarkan otoritas bar di tiap negara bagian. Perbedaan antara lulusan sekolah hukum dan pengacara berlisensi sering jadi garis batas etika, terutama bagi pejabat publik.
Campaign for Accountability menyebut Zacharia setidaknya 18 kali tampil di TV dari Februari 2025 hingga Oktober 2026 sambil menyatakan dirinya pengacara. “Pengulangan dan keluasan pernyataan ini sangat mendukung perlunya investigasi,” tulis pengaduan tersebut.
Pengaduan itu juga mengutip aturan California yang melarang siapa pun “mengiklankan atau menampilkan diri” seolah berpraktik atau berhak praktik hukum tanpa menjadi pemegang lisensi aktif. Ancaman hukumannya jelas: hingga satu tahun penjara di county jail atau denda sampai 1.000 dolar AS, atau keduanya.
Ini bukan sekadar debat terminologi, karena klaim profesi dapat membentuk persepsi kredibilitas di mata publik. Dalam politik, kredibilitas adalah mata uang, dan klaim “saya pengacara” bisa memberi bobot pada opini, analisis kebijakan, hingga pembelaan narasi.
Di sisi lain, sistem bar juga memiliki standar pembuktian dan prosedur yang tidak selalu cepat. Investigasi, jika dibuka, akan menilai apakah ada unsur “holding out” yang memenuhi ambang pelanggaran, atau sekadar kekeliruan komunikasi yang tidak sampai ranah pidana.
Respons Gedung Putih tidak menenangkan suasana, justru memperkeruh. Juru bicara Steven Cheung menyebut pelapor sebagai “organisasi kiri radikal” dan melontarkan serangan personal di X, alih-alih menjawab inti tuduhan soal lisensi.
Strategi menyerang pembawa isu sering efektif memindahkan fokus, tetapi tidak menyelesaikan pertanyaan dasarnya. Publik tetap ingin tahu: apakah Zacharia terdaftar di bar mana pun, dan jika tidak, mengapa klaim itu muncul berulang kali di ruang publik.
Kasus ini menunjukkan bagaimana politik modern sering mengubah verifikasi fakta menjadi perang identitas. Ketika kritik dibalas dengan label “radikal” atau “deranged,” ruang untuk klarifikasi rasional mengecil.
Jika Zacharia memang tidak berlisensi, persoalannya bukan hanya legalitas, melainkan etika jabatan. Seorang juru bicara presiden bekerja dengan otoritas simbolik negara, sehingga akurasi biografi pribadi seharusnya menjadi standar minimum.
Namun jika ternyata ada lisensi yang belum terungkap atau ada penjelasan administratif, maka investigasi tetap penting untuk memulihkan kepercayaan. Transparansi bukan hukuman, melainkan mekanisme untuk memastikan publik tidak dipaksa memilih antara percaya atau sinis.
Yang juga mengganggu adalah konteks penampilan perdana Zacharia yang lebih banyak memuji Trump ketimbang menjawab pertanyaan substantif. Ketika komunikasi publik lebih mirip iklan politik, klaim-klaim personal seperti “saya pengacara” menjadi alat legitimasi yang makin rawan disalahgunakan.
Kontroversi Katie Zacharia dan pengaduan ke California State Bar menegaskan satu pelajaran: reputasi publik dibangun dari detail yang bisa diverifikasi. Di era video klip dan kutipan berulang, satu klaim profesi dapat menjadi jejak yang sulit dihapus.
Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana namun menentukan: apakah kekuasaan masih bersedia tunduk pada pemeriksaan dasar, atau justru menormalisasi kabut informasi. Jika publik dibiarkan menebak-nebak, yang runtuh bukan hanya satu nama, melainkan standar kejujuran dalam ruang demokrasi.
(Orbit dari berbagai sumber, 18 Oktober 2026)