Presiden Iran Menyatakan Perang Sebaiknya Diakhiri Sekarang Saat Teheran Berada Dalam Posisi Kuat
ORBITINDONESIA.COM - Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan akan "lebih baik" jika perang diakhiri sekarang, saat Teheran berada dalam posisi yang kuat, demikian dilaporkan media pemerintah negara tersebut pada hari Jumat, 21 Agustus 2026.
Pezeshkian menyatakan bahwa "lebih baik mengakhiri perang hari ini selagi kita berada dalam posisi yang kuat dan bermartabat," sebagaimana dikutip oleh kantor berita pemerintah Iran, Mizan News Agency, dan kantor berita semi-resmi Iranian Students’ News Agency (ISNA).
Komentar presiden mengenai keinginannya agar konflik berakhir muncul di tengah peringatan dari kepala staf angkatan bersenjata Iran bahwa setiap "ancaman baru" akan dibalas dengan respons yang "menghancurkan," menurut laporan kantor berita semi-resmi Iran, Mehr News Agency.
Korps Garda Revolusi Islam Iran pada hari Kamis, 20 Agustus 2026, menyatakan dapat mengerahkan senjata yang lebih "mematikan" jika perang kembali pecah, menurut media semi-resmi Iran, menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebutkan bahwa ia telah menangguhkan pembicaraan dengan Teheran.
Kelompok Garis Keras
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan perang dengan AS pada akhirnya harus diakhiri, sementara pemerintahannya menghadapi tekanan dari kelompok garis keras Iran yang menuntut konflik—alih-alih diplomasi—dengan pemerintahan Trump yang bertekad meruntuhkan Republik Islam tersebut.
Pemerintahan Pezeshkian—seorang reformis moderat yang mengupayakan penyelesaian melalui negosiasi dengan pemerintahan Trump, bahkan sempat menandatangani nota kesepahaman pada bulan Juni—kini menghadapi kesulitan ekonomi yang kian memburuk, termasuk kelangkaan pangan dan inflasi.
"Perang pada akhirnya harus berakhir; lebih baik mengakhirinya hari ini, selagi kita berada dalam posisi yang kuat dan bermartabat serta seluruh dunia mengakui kemenangan kita," ujar Pezeshkian. "Ada pihak-pihak yang hanya menonton dari pinggir karena mereka tidak mengetahui kondisi yang dihadapi pemerintah dalam menjalankan tugasnya."
Kelompok garis keras Iran, termasuk anggota faksi ultra-konservatif bernama Front Peydari yang memiliki pengaruh terhadap lembaga-lembaga seperti penyiar negara, telah mengkritik kepemimpinan Iran karena menandatangani apa yang mereka sebut sebagai perjanjian menyerah kepada Washington; mereka justru menuntut perang lebih lanjut sembari menyoroti kegagalan pemerintah Iran.
Pezeshkian, bersama Ketua Parlemen sekaligus kepala negosiator Mohammed Bagher Ghalibaf, tampaknya mulai lelah dengan situasi berkepanjangan yang bukan perang namun juga bukan damai, di mana Republik Islam terus berada di bawah tekanan ekonomi berat tanpa adanya penyelesaian konflik yang memadai.
Selain itu, kekhawatiran tampaknya kian bertambah setelah Trump menyatakan bahwa pemerintahannya sedang mempersiapkan langkah-langkah ekonomi lanjutan terhadap Teheran.
"Betapapun besarnya kekuatan militer yang kita miliki, jika rakyat kelaparan dan tidak ada perputaran keuangan, pertumbuhan ekonomi, ataupun produksi nasional, kita tidak akan mampu bertahan," ujar Ghalibaf hari ini. ***