Gerakan Lampung Peduli Osteoporosis dan Perwatusi Dorong Tulang Sehat

beritaanda.net

beritaanda.net

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Gerakan Lampung Peduli Osteoporosis dicanangkan bersamaan dengan pengukuhan DPD Perwatusi Lampung di RS Bandar Negara Husada, Kota Baru, Lampung Selatan. Di tengah masyarakat yang makin menua, isu tulang sehat dan pencegahan osteoporosis tak lagi bisa diperlakukan sebagai urusan “nanti saja.”

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menyebut osteoporosis kerap “diam-diam” karena gejala awalnya tidak terasa, tetapi dampaknya bisa serius pada kualitas hidup. Pernyataan ini menegaskan satu masalah klasik kesehatan publik: penyakit tanpa gejala sering kalah prioritas dari penyakit yang terlihat.

Di Indonesia, beban osteoporosis dan osteopenia sering dikaitkan dengan pola hidup sedentari, kurang paparan sinar matahari, serta asupan kalsium dan vitamin D yang tidak memadai. Di titik ini, gerakan komunitas menjadi penting karena layanan kesehatan formal tidak selalu mampu menjangkau edukasi harian hingga level keluarga.

Pengukuhan pengurus oleh Ketua Umum Perwatusi Pusat, Anita A. Hutagalung, memberi sinyal bahwa Lampung sedang diposisikan sebagai simpul gerakan. Namun pengukuhan organisasi bukan ukuran keberhasilan, melainkan baru pembuka jalan untuk mengubah perilaku yang selama ini sulit digeser.

Secara klinis, osteoporosis meningkatkan risiko patah tulang, terutama panggul, tulang belakang, dan pergelangan tangan, yang dapat memicu disabilitas jangka panjang. WHO selama ini menempatkan osteoporosis sebagai masalah kesehatan global terkait penuaan, dan banyak negara mendorong pencegahan lewat aktivitas fisik pembebanan, asupan kalsium, serta vitamin D.

Di Lampung, KORMI melihat Perwatusi sebagai “keluarga besar” olahraga masyarakat, dan ini menarik karena menggeser isu tulang dari ruang klinik ke ruang sosial. Ketika olahraga dipaketkan sebagai budaya komunitas, kepatuhan biasanya lebih tinggi dibanding imbauan medis yang berhenti di ruang praktik.

Rencana program seperti Osteo Dance untuk remaja dan senam kesehatan tulang untuk lansia menunjukkan strategi lintas usia. Ini penting karena puncak massa tulang terbentuk pada masa remaja hingga dewasa muda, sehingga pencegahan idealnya dimulai sebelum risiko meningkat di usia lanjut.

Tantangannya adalah memastikan program tidak berhenti sebagai seremoni kota, melainkan menyebar hingga kabupaten/kota seperti yang dijanjikan Ketua DPD Perwatusi Lampung Sri Aryanti. Perlu indikator sederhana yang bisa dipantau publik, misalnya jumlah komunitas aktif, frekuensi kelas, dan cakupan peserta rutin per kecamatan.

Pelatihan dua hari pada 21–22 Agustus 2026 di RS Bandar Negara Husada memberi modal awal, tetapi keberlanjutan ditentukan oleh pendampingan dan kaderisasi. Tanpa pelatih yang konsisten dan jadwal yang ramah warga, gerakan mudah melemah setelah euforia awal.

Gerakan Lampung Peduli Osteoporosis seharusnya dibaca sebagai investasi produktivitas, bukan proyek kesehatan musiman. Anshori Djausal mengaitkannya dengan bonus demografi, dan itu tepat karena angkatan kerja yang bugar menentukan daya saing daerah.

Namun ada sisi kritis yang perlu dijaga: narasi “hidup sehat” sering dibebankan pada individu, seolah semua orang punya akses yang sama. Padahal akses makanan bergizi, ruang aman untuk berolahraga, dan edukasi yang mudah dipahami masih timpang antarwilayah dan antarpendapatan.

Karena itu, Perwatusi dan pemerintah daerah perlu memastikan gerakan ini tidak elitis dan tidak bertumpu pada kelas menengah perkotaan. Program harus hadir di desa dan kantong pekerja, dengan format murah, dekat, dan tidak mengintimidasi.

Jihan Nurlela berkata, “Dari Lampung kita bangun kesadaran untuk menjaga tulang sehat sejak dini,” dan kalimat ini semestinya diterjemahkan menjadi kebijakan kecil yang konkret. Misalnya, kolaborasi dengan sekolah untuk aktivitas fisik terstruktur, posyandu lansia untuk skrining risiko jatuh, serta kampanye vitamin D yang tidak menyesatkan.

Pengukuhan DPD Perwatusi Lampung dan pencanangan Gerakan Lampung Peduli Osteoporosis membuka peluang baru: menjadikan tulang sehat sebagai agenda publik yang rutin, bukan sekadar peringatan. Jika komunitas bergerak sampai akar rumput, pencegahan bisa lebih murah daripada mengobati patah tulang dan disabilitas.

Pertanyaannya kini sederhana tetapi menentukan: apakah gerakan ini akan tercatat sebagai acara, atau sebagai perubahan kebiasaan yang nyata di rumah-rumah warga. Di titik itulah Lampung diuji, karena kesehatan tulang bukan tentang slogan, melainkan tentang disiplin harian yang diwariskan lintas generasi. (Orbit dari berbagai sumber, 31 Agustus 2026)