Shamsi Ali: Belajar dari Pemilihan Ketua Kongres Amerika
- Penulis : Dimas Anugerah Wicaksono
- Minggu, 08 Januari 2023 11:30 WIB
Dari semua hiruk pikuk dan kehebohan proses pemilihan Ketua Kongres kali ini barangkali hal yang paling penting untuk diambil sebagai pelajaran adalah keterbukaan dan kejujuran dalam berdemokrasi.
Kejujuran yang kita maksud adalah bahwa praktek demokrasi itu bukan pada tataran pengakuan. Tapi ada pada tataran prilaku dan pembuktian, walau itu mungkin terasa pahit.
Jangan sampai seperti yang terjadi pada dunia lain. Di mana pengakuan demokrasi besar tapi yang sering terjadi adalah persekongkolan sekelompok untuk meloloskan kepentingan sempit kelompok, atau kepentingan pihak-pihak tertentu yang punya “hidden authority” (otoritas di balik layar).
Keterbukaan dan kejujuran yang ditampilkan dalam proses pemilihan Ketua Kongres Amerika telah menjadi contoh yang baik dalam proses sekaligus pertanggung jawaban demokrasi kepada rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi.
Proses panjang dan mungkin terasa pahit bagi sebagian itu mungkin melelahkan. Kevin McCarthy gagal memenangkan pemilihan itu dalam 14 kali pemungutan suara selama tiga hari. Tapi proses demokrasi memang proses yang matang dan bermutu.
Jangan sampai seperti yang biasa terjadi di belahan dunia lain. Selain kesepakatan di balik layar yang tidak jarang terjadi dengan “pemaksaan halus”, juga keputusan-keputusan serasa dipaksakan.
Mereka yang menentang, bahkan sekedar ingin menyampaikan pendapat ruang geraknya diperkecil. Bahkan dengan mematikan microphone sekalipun.
Baca Juga: Simak Jadwal Cuti Bersama Imlek 2023 untuk Agenda Liburan Anda
Keterbukaan dan kejujuran menjadi Karakter demokrasi. Dan jika anda ragu dengan keterbukaan dan kejujuran itu, jangan “ngaku-ngaku” paling demokrasi. Jangan-Jangan anda adalah diktator yang bersembunyi di balik pengakuan demokrasi….Semoga tidak!