Satrio Arismunandar: Menimbang Nuklir - Antara Janji Peradaban dan Ancaman Kehancuran
“I know not with what weapons World War III will be fought, but World War IV will be fought with sticks and stones.”
— Albert Einstein
ORBITINDONESIA.COM - Buku Memaknai Nuklir untuk Kesejahteraan dan Perdamaian atau Bumi Hangus karya Togap Marpaung pada akhirnya bukan sekadar paparan ilmiah tentang energi nuklir.
Ia adalah sebuah ajakan reflektif—bahkan bisa disebut sebagai seruan moral—kepada pembaca untuk berdiri di persimpangan sejarah: apakah manusia akan menjadikan nuklir sebagai instrumen kemajuan, atau justru sebagai alat pemusnah yang membawa peradaban ke jurang kehancuran.
Sejak Bab I, Togap mengajak kita kembali ke akar sejarah penemuan energi nuklir. Ia tidak hanya menyebut nama-nama besar dalam fisika, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pengetahuan yang lahir dari rasa ingin tahu manusia perlahan berubah menjadi kekuatan yang ambivalen. Di satu sisi, nuklir adalah simbol kejayaan sains; di sisi lain, ia adalah bayang-bayang kehancuran yang selalu mengintai.
Bab II hingga Bab III membawa pembaca masuk ke ranah teknis: bahan bakar nuklir seperti uranium, plutonium, dan thorium, serta berbagai jenis reaktor, baik reaktor riset maupun reaktor daya. Togap menulis dengan gaya yang relatif sederhana namun tetap presisi, sehingga pembaca awam sekalipun dapat mengikuti.
Penjelasan tentang reaktor TRIGA, Kartini, dan G.A. Siwabessy menjadi penting, karena menunjukkan bahwa Indonesia sesungguhnya tidak asing dengan teknologi nuklir. Kita bukan penonton, melainkan sudah lama menjadi bagian dari ekosistem nuklir global—meski dalam skala terbatas.
Namun, buku ini tidak berhenti pada optimisme teknologi. Togap dengan jujur mengajak pembaca menatap sisi gelap nuklir. Tragedi Chernobyl dan Fukushima dihadirkan bukan sekadar sebagai catatan sejarah, melainkan sebagai peringatan keras: bahwa kesalahan kecil dalam sistem yang sangat kompleks dapat berujung pada bencana besar yang melampaui batas generasi.
Puncak ketegangan moral buku ini tampak pada Bab IV dan Bab V, ketika Togap membahas bom atom dan bom nuklir. Narasi tentang Hiroshima dan Nagasaki tidak hanya disajikan sebagai fakta sejarah, tetapi sebagai luka kemanusiaan yang belum sepenuhnya sembuh.
Di sini, pembaca dipaksa berhadapan dengan realitas paling getir: bahwa ilmu pengetahuan yang seharusnya membebaskan manusia justru pernah digunakan untuk memusnahkan manusia dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Bab VI tentang bom kotor memperluas spektrum ancaman. Jika bom nuklir adalah senjata negara, maka bom kotor membuka kemungkinan ancaman dari aktor non-negara. Ini adalah wajah baru terorisme di era modern—lebih sederhana secara teknis, tetapi tetap menakutkan secara psikologis dan sosial.
Masuk ke Bab VII, Togap menekankan pentingnya pengawasan nuklir. Ia tidak hanya menjelaskan peran lembaga nasional seperti BAPETEN, tetapi juga struktur pengawasan internasional.
Di sini terlihat jelas latar belakang Togap sebagai praktisi dan regulator. Ia tidak berbicara dari menara gading, melainkan dari pengalaman langsung di lapangan. Ia memahami bahwa nuklir bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal tata kelola, integritas, dan disiplin sistem.
Bab VIII hingga Bab XVII menjadi bagian yang unik dan khas dari buku ini. Togap mengulas pandangan berbagai tokoh nasional—dari presiden hingga menteri, dari akademisi hingga pengamat publik—tentang nuklir.
Ini bukan sekadar kompilasi pendapat, melainkan upaya untuk memetakan tingkat pemahaman elite terhadap isu strategis yang sangat krusial ini. Dalam banyak kasus, Togap tidak ragu memberikan tanggapan kritis. Ia menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan antara kompleksitas isu nuklir dengan pemahaman para pengambil keputusan.
Bagian ini terasa penting dalam konteks Indonesia ke depan. Di tengah kebutuhan energi yang terus meningkat dan dinamika geopolitik global yang semakin kompleks, nuklir tidak bisa lagi dipandang sebagai isu pinggiran. Ia akan—cepat atau lambat—menjadi bagian dari perdebatan strategis nasional.
Bab XVIII menjadi semacam klimaks reflektif. Togap menyampaikan pandangannya sendiri, yang pada dasarnya menegaskan satu hal: bahwa nuklir harus dimaknai sebagai alat untuk kesejahteraan dan perdamaian. Namun, ia juga realistis. Ia tidak menutup mata terhadap potensi destruktif nuklir. Justru karena itulah, ia menekankan pentingnya kesadaran moral, tanggung jawab kolektif, dan pengawasan yang ketat.
Semangat Intelektual dan Idealisme
Di luar isi buku, sosok Togap Marpaung sendiri layak mendapatkan apresiasi tersendiri. Lahir di Sumatra Utara pada 1958, ia menempuh perjalanan panjang sebagai seorang aparatur negara di bidang nuklir—mulai dari BATAN hingga BAPETEN, khususnya dalam bidang fasilitas radiasi dan zat radioaktif.
Menariknya, ia tidak berhenti pada bidang awalnya. Ia juga berupaya mendalami reaktor dan bahan nuklir, sebuah langkah yang menunjukkan semangat belajar yang tidak pernah padam.
Kariernya bukan hanya administratif, tetapi juga intelektual. Ia terlibat dalam berbagai forum ilmiah, baik nasional maupun internasional, menulis makalah, dan bahkan berkontribusi dalam jurnal internasional.
Ia juga aktif dalam organisasi profesional seperti IKAFMI, HFMBI, dan APRI. Semua ini menunjukkan bahwa Togap adalah bagian dari komunitas epistemik yang serius dalam mengembangkan dan menjaga keselamatan nuklir.
Namun, yang membuat Togap berbeda dari banyak ilmuwan lain adalah keberaniannya menulis secara ekstensif untuk publik. Ia tidak menyimpan pengetahuannya dalam lingkaran sempit akademik atau birokrasi. Ia memilih untuk membagikannya, bahkan ketika topik yang dibahas tidak populer atau berisiko menimbulkan kontroversi.
Lebih jauh lagi, Togap dikenal sebagai pegiat antikorupsi yang gigih. Dalam konteks ini, keberaniannya menulis dan bersuara tidak bisa dilepaskan dari sikap idealisnya. Ia memahami bahwa dalam sektor strategis seperti nuklir, integritas adalah segalanya. Tanpa integritas, teknologi secanggih apa pun dapat berubah menjadi bencana.
Perjalanan hidupnya tidak selalu mudah. Tekanan, tantangan, bahkan pengorbanan dalam karier adalah bagian dari konsekuensi pilihan hidupnya. Namun justru di situlah letak nilai moral yang ingin ia sampaikan melalui buku ini: bahwa pengetahuan harus diiringi dengan keberanian, dan keberanian harus berakar pada integritas.
Mengapa Kita Harus Peduli
Sebagai bagian dari rencana Pentalogi Nuklir, buku ini memiliki posisi yang sangat penting. Ia berfungsi sebagai fondasi—baik dari sisi pengetahuan maupun dari sisi moral. Ia tidak hanya menjelaskan apa itu nuklir, tetapi juga mengapa kita harus peduli, dan bagaimana seharusnya kita bersikap.
Dalam dunia yang semakin tidak pasti, di mana persaingan geopolitik kembali menguat dan ancaman nuklir tidak pernah benar-benar hilang, buku ini menjadi pengingat bahwa masa depan tidak ditentukan oleh teknologi semata, tetapi oleh pilihan manusia dalam menggunakan teknologi tersebut.
Epilog ini pada akhirnya ingin menegaskan kembali pesan utama Togap: bahwa nuklir adalah cermin dari peradaban manusia itu sendiri. Ia bisa menjadi sumber cahaya yang menerangi jalan menuju kesejahteraan, tetapi juga bisa menjadi api yang membakar segalanya menjadi abu.
Pilihan itu tidak berada di tangan teknologi. Ia berada di tangan kita.
Dan melalui buku ini, Togap Marpaung telah menjalankan perannya: mengingatkan, mengedukasi, dan—yang paling penting—mengajak kita untuk tidak lengah dalam menentukan arah masa depan.
Dr. Ir. Satrio Arismunandar, M.Si., MBA
Pemimpin Redaksi Majalah Pertahanan/Geopolitik ARMORY REBORN.
Sekjen Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA 2021-2026. ***