Israel-Lebanon: Menelusuri Ketegangan dan Negosiasi Ceasefire
ORBITINDONESIA.COM – Pemerintah Lebanon dan pemerintahan Trump telah meminta Israel untuk 'jeda' dalam serangannya terhadap Hezbollah sebelum negosiasi langsung antara Israel dan Lebanon dimulai minggu depan. Langkah ini dipandang penting dalam upaya menurunkan ketegangan di kawasan tersebut.
Serangan Israel ke Lebanon telah menjadi titik pertikaian dalam negosiasi antara AS dan Iran, yang menuduh Israel melanggar gencatan senjata. Sementara AS menyangkal bahwa Lebanon termasuk dalam gencatan senjata tersebut, mereka tetap meminta Israel untuk meredakan situasi. Namun, AS, pemerintah Lebanon, dan Israel tidak ingin Iran mendikte langkah apapun di Lebanon yang dapat menguntungkan proksinya, Hezbollah.
Beberapa pejabat Israel setuju dengan pendapat Beirut bahwa gencatan senjata seharusnya menjadi hasil dari negosiasi antara Israel dan pemerintah Lebanon. Pada hari Selasa, duta besar Israel dan Lebanon di Washington akan bertemu di bawah naungan Departemen Luar Negeri AS untuk putaran pertama pembicaraan langsung. Negosiasi lebih mendetail diharapkan akan menyusul.
Di balik layar, pemerintah Lebanon meminta Israel, melalui mediator AS, untuk setuju membuat 'gestur' menjelang pertemuan hari Selasa dan 'jeda' serangan udara di negara tersebut. Permintaan ini didukung oleh AS, yang mendesak Israel untuk menerimanya. Namun, bagi Netanyahu, menyetujui gencatan senjata akan menjadi masalah politik. Meski begitu, ada kemungkinan Netanyahu setuju untuk jeda taktis singkat dalam serangan udara.
Menarik untuk dinantikan bagaimana kunjungan Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam ke Washington minggu depan akan mempengaruhi negosiasi ini. Pertemuan ini juga akan menjadi kunjungan bilateral pertama oleh pejabat senior pemerintah Lebanon ke Washington sejak pemerintahan Trump menjabat. Akankah pertemuan ini membawa angin perubahan di Timur Tengah? (Orbit dari berbagai sumber, 13 April 2026)