Betulkah Iran Naik Kelas Menjadi Kutub Kekuatan Global Keempat?

Oleh Satrio Arismunandar, pakar SCSC (South China Sea Council).

ORBITINDONESIA.COM - Di tengah dinamika geopolitik yang kian memanas, muncul sebuah narasi provokatif: perang yang sedang berlangsung disebut-sebut mendorong Iran naik kelas menjadi kutub kekuatan global keempat, sejajar dengan Amerika Serikat, China, dan Rusia. Narasi ini bahkan dikaitkan dengan analisis media besar seperti The New York Times. Namun, benarkah demikian?

Jika ditelusuri secara cermat, pandangan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan posisi arus utama analisis media internasional. Tidak ada kesimpulan eksplisit dari The New York Times yang menyebut Iran telah menjadi kutub global baru. Meski begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa posisi Iran dalam percaturan dunia memang tengah mengalami penguatan—dan di sinilah akar dari narasi tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, Iran menunjukkan peningkatan pengaruh yang signifikan, terutama di kawasan Timur Tengah. Melalui keterlibatan di berbagai konflik regional—mulai dari Irak, Suriah, hingga Yaman—Teheran berhasil membangun jejaring pengaruh yang luas, baik melalui negara maupun aktor non-negara.

Strategi ini membuat Iran mampu memainkan peran penting dalam membentuk dinamika kawasan, bahkan tanpa harus menjadi kekuatan militer konvensional terbesar.

Di sisi lain, Iran juga mengembangkan kemampuan militer asimetris yang relatif efektif. Teknologi drone, rudal balistik, serta pendekatan perang hibrida menjadi instrumen utama untuk menciptakan efek gentar terhadap lawan-lawannya.

Dalam konteks ini, kekuatan Iran tidak lagi diukur dari jumlah tank atau jet tempur, melainkan dari kemampuannya mengganggu dan mengimbangi kekuatan yang lebih besar.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah posisi geografis Iran yang strategis, terutama kedekatannya dengan Selat Hormuz—jalur vital bagi distribusi energi dunia. Kontrol atas kawasan ini memberi Iran leverage geopolitik yang tidak bisa diabaikan oleh kekuatan global mana pun.

Namun, semua itu belum cukup untuk menempatkan Iran sebagai kutub kekuatan global dalam arti klasik. Sebuah kutub dunia umumnya ditopang oleh kekuatan ekonomi besar, pengaruh institusional global, serta kemampuan proyeksi kekuatan lintas kawasan. Dalam aspek-aspek ini, Iran masih menghadapi keterbatasan, terutama akibat sanksi ekonomi dan keterbatasan jaringan aliansi internasional.

Lalu mengapa narasi “kutub keempat” ini menguat? Salah satu jawabannya terletak pada perubahan cara dunia memandang kekuatan. Di era sebelumnya, kekuatan identik dengan dominasi ekonomi dan militer konvensional.

Kini, kemampuan untuk mengganggu sistem global, memaksa respons dari kekuatan besar, serta bertahan dalam tekanan justru menjadi indikator baru. Dalam definisi inilah Iran tampak “naik kelas”.

Selain itu, kelelahan hegemoni Barat dan pergeseran menuju dunia yang lebih multipolar membuka ruang bagi aktor-aktor non-tradisional untuk tampil lebih menonjol. Iran, dalam hal ini, menjadi salah satu contoh paling nyata.

Pada akhirnya, menyebut Iran sebagai kutub kekuatan global keempat saat ini masih merupakan klaim yang berlebihan. Namun, mengabaikan peningkatan perannya juga akan menjadi kesalahan analisis. Iran mungkin belum menjadi pusat kekuatan dunia, tetapi ia jelas bukan lagi sekadar pemain regional biasa.

Dunia, tampaknya, sedang bergerak menuju tatanan baru—bukan sekadar multipolar, tetapi juga lebih kompleks dan tidak stabil. Dalam lanskap seperti ini, kekuatan tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang paling besar, melainkan oleh siapa yang paling mampu memengaruhi arah permainan. ***