Lalu Lintas Selat Hormuz Melambat: Dampak Konflik Global
ORBITINDONESIA.COM – Hanya sekitar selusin kapal yang melintasi Selat Hormuz dalam dua hari pertama setelah kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, jauh di bawah tingkat lalu lintas normal sebelum perang, menurut data transit laut.
Selat Hormuz adalah jalur air penting bagi pengiriman sekitar 20% pasokan minyak dunia. Sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata, Iran setuju untuk membuka jalur tersebut. Namun, laporan dari agen berita Iran yang terkait dengan militer negara itu menyatakan bahwa lalu lintas akan ditangguhkan sebagai respons terhadap serangan Israel di Lebanon.
Data dari Marine Traffic menunjukkan bahwa hanya 12 kapal yang melintasi jalur tersebut pada Rabu dan Kamis, jauh lebih sedikit dari rata-rata 129 kapal sebelum perang. Mayoritas kapal yang melintas adalah kapal kargo, dan hanya tiga di antaranya adalah tanker minyak atau kimia yang terkena sanksi AS. Sebelum konflik, sekitar sepertiga minyak mentah dunia diangkut melalui Selat Hormuz, namun sekarang jumlahnya menurun drastis.
Pernyataan dari pemerintah AS menunjukkan ketidakjelasan tentang kesepakatan gencatan senjata. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt membantah klaim Iran dan menegaskan kembali harapan Presiden Trump untuk membuka kembali jalur tersebut segera. Pengurangan lalu lintas ini menjelaskan ketegangan geopolitik dan ketidakpastian yang menyelimuti wilayah tersebut.
Meskipun ada tanda-tanda peningkatan jumlah kapal yang melintas, situasi di Selat Hormuz mencerminkan kerentanan perdagangan global terhadap konflik regional. Akankah stabilitas dan keamanan di jalur vital ini dapat dipulihkan? Hanya waktu yang akan menjawab, dan dunia menunggu dengan penuh harap.
(Orbit dari berbagai sumber, 11 April 2026)