Ali Lubis: Wajar, Jika Masyarakat dan Mahasiswa Curiga ke Tiyo Ardianto, Mantan Ketua BEM UGM
Oleh Ali Lubis, SH MH, Politisi Gerindra
ORBITINDONESIA.COM - Pernyataan yang disampaikan oleh Aliansi BEM Bersatu yang menduga adanya hubungan kedekatan antara Tiyo Ardianto mantan ketua BEM UGM dengan Letjend Purn Setyo Sularso saat ini telah menimbulkan pertanyaan dan kecurigaan di tengah masyarakat dan di kalangan mahasiswa.
Saya kira kecurigaan publik atau masyarakat dan para mahasiswa kepada Tiyo sangat wajar. Sebagaimana manusia yang bermoral, sebaiknya dia harus menjelaskan ke publik atau masyarakat terkait dugaan ini.
Sebab, jika diam saja, berarti benar dugaan kedekatan tersebut. Apalagi sampai mengalihkan opini atau isu seperti membahas soal MBG yang jelas merupakan program Pro Rakyat.
Di negara demokrasi, setiap pihak yang tampil di ruang publik dan aktif menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah juga harus siap memberikan penjelasan secara terbuka, apabila muncul pertanyaan yang menjadi perhatian publik terhadap dirinya.
Saat ini setidaknya ada tiga pertanyaan yang harus di jawab oleh si Tiyo, mantan Ketua BEM UGM, yaitu :
1. Apakah benar mobil Fortuner yang digunakan Tiyo Ardianto merupakan milik Siti Nuraeni, yang disebut sebagai adik Letjen TNI (Purn.) Setyo Sularso? Sebagaimana pernyataan BEM Bersatu.
2. Apakah benar Letjen TNI (Purn.) Setyo Sularso pernah menjadi bagian dari tim sukses Ganjar Pranowo pada Pilpres tahun 2024?
3. Apakah benar Tiyo Ardianto telah lama menjalin komunikasi atau hubungan dengan Letjen TNI (Purn.) Setyo Sularso?
Oleh karena itu, daripada bicara hal lain dengan gaya sok paling pintar, sok paling ngerti, sok suci, dan selalu menuduh serta menjelekkan pemerintah dengan tujuan pengalihan isu, lebih baik menjawab secara jujur apa yang menjadi pertanyaan publik atau masyarakat kepada Anda.
Karena jangan sampai ruang publik diisi oleh narasi, yang bertujuan untuk mengadu domba masyarakat dan anak bangsa. Apalagi ada agenda politik tertentu yang berasal dari politisi partai, yang dibungkus dengan gerakan mahasiswa untuk menjelek-jelekkan pemerintah. ***