Siapa Sangka, Sepatu HOKA yang Berkelas Global Ternyata Diproduksi di Batang

Siapa sangka, brand sepatu yang namanya sudah lama wara-wiri di panggung global, muncul di etalase premium, dipakai lintas negara, dan lekat dengan gaya hidup aktif modern, ternyata punya jejak produksi di Batang, Jawa Tengah.

Bagi banyak orang, HOKA bukan sekadar sepatu olahraga. Ia sudah tumbuh menjadi simbol kenyamanan, performa, sekaligus gaya hidup. Solnya tebal, desainnya khas, dan namanya makin sering terdengar di kalangan atlet, selebritas hingga para pecinta fashion.

Sekilas, brand ini terdengar seperti merek luar yang modern, nyaris seperti bagian dari produk impor. Karena itu, cukup mengejutkan ketika pada kenyataannya sepatu ini justru memiliki jejak produksi yang bersinggungan langsung dengan salah satu wilayah di Indonesia, yakni Batang.

Nama Batang barangkali tidak sering masuk ke percakapan soal industri alas kaki dunia. Ia bahkan bukan kota mode seperti Paris atau London. Bukan pula pusat tren yang ramai dibicarakan. Tetapi justru dari wilayah inilah, rantai produksi brand global diam-diam bergerak. Batang menjadi salah satu titik manufaktur yang ikut menopang lahirnya produk-produk yang kemudian melangkah ke pasar internasional.

Fakta itu mengemuka ketika Presiden Joko Widodo pada 26 Juli 2024 melepas ekspor perdana 16.000 pasang sepatu HOKA ke Amerika Serikat dari Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang. Sepatu-sepatu itu diproduksi oleh PT Yih Quan Footwear Indonesia, perusahaan alas kaki asal Taiwan yang beroperasi di kawasan tersebut.

Nama PT Yih Quan Footwear Indonesia mungkin tidak terlalu akrab di telinga publik. Tetapi dari perusahaan inilah sepatu HOKA itu diproduksi di Batang. Perusahaan tersebut merupakan bagian dari Lai Yih Group, produsen alas kaki asal Taiwan yang memang bergerak di jalur manufaktur untuk pasar global.

Kehadiran perusahaan ini di Batang bukan hanya bicara soal pabrik dan mesin produksi. Ia juga membuka gambaran yang lebih besar tentang bagaimana Indonesia, khususnya daerah-daerah di luar pusat industri yang selama ini lebih sering disorot, mulai memainkan peran penting dalam rantai pasok dunia. Dari Batang, produk dengan standar global itu dirakit, disusun, dan disiapkan untuk menembus pasar luar negeri.

Selama ini, banyak orang mungkin mengenal HOKA dari reputasinya sebagai sepatu yang nyaman dipakai lari, walking, hingga aktivitas harian. Ciri khasnya ada pada bantalan tebal yang tetap terasa ringan, serta desain yang kini bukan cuma disukai pelari, tetapi juga kalangan yang menjadikan sneakers sebagai bagian dari gaya hidup. Karena itu, tak berlebihan jika HOKA kini dipandang bukan hanya sebagai produk olahraga, melainkan juga simbol kenyamanan modern.

Namun di balik citra premium itu, ada cerita yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Ada tenaga kerja lokal, ada ritme pabrik, ada keterampilan tangan-tangan pekerja, dan ada harapan ekonomi yang tumbuh pelan-pelan dari sebuah kawasan industri. Produk yang mungkin selama ini tampak “jauh” dan identik dengan luar negeri, ternyata juga menyimpan jejak kerja orang-orang Indonesia di dalamnya.

Inilah yang membuat kabar produksi HOKA di Batang terasa menarik. Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya nama besar brand, melainkan juga kepercayaan dunia terhadap kemampuan manufaktur Indonesia. Saat sebuah merek global memilih memproduksi barangnya di sini, itu berarti ada standar kualitas, efisiensi, dan kapasitas tenaga kerja yang dianggap layak untuk menopang pasar internasional.