Hindari Rudal Balasan Iran, Pesawat Intelijen RC-135 Milik AS "Diungsikan" dari Kawasan Teluk Persia ke Yunani
ORBITINDONESIA.COM - Saat Perang Iran 2026 memasuki fase berisiko tinggi berupa serangan rudal balasan, Angkatan Udara AS telah memulai "penipisan" strategis aset intelijen bernilai tinggi dari Teluk Persia.
Di antara langkah-langkah paling signifikan adalah relokasi armada RC-135V/W Rivet Joint, "penyedot debu elektronik" intelijen sinyal (SIGINT) utama Pentagon, dari Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar ke Teluk Souda, Kreta (Yunani).
Relokasi tersebut, yang dikonfirmasi oleh data pelacakan penerbangan dan sumber militer pada 9 Maret 2026, dirancang untuk menjaga agar pesawat-pesawat sensitif ini berada di luar "zona mematikan" rudal balistik jarak pendek Iran sambil mempertahankan "pendengaran" 24/7 di medan perang.
Selama beberapa dekade, Al Udeid berfungsi sebagai pusat "tak tergoyahkan" untuk operasi udara AS di Timur Tengah. Namun, salvo pembuka Operasi Epic Fury pada 28 Februari membuktikan bahwa era perlindungan telah berakhir.
Preseden Juni 2025: Kenangan akan serangan rudal Iran di Al Udeid pada Juni 2025 masih segar. Dengan Iran sekarang mengerahkan Khorramshahr-4 dan kawanan drone besar-besaran, Pentagon memutuskan bahwa mempertahankan armada pesawat era 1960-an senilai miliaran dolar di Doha merupakan "risiko yang tidak dapat diterima."
Mengurangi Jejak: Langkah ini bertepatan dengan laporan bahwa Markas Besar Armada AS di Bahrain dan pusat-pusat utama lainnya di UEA telah dikurangi menjadi personel "hanya untuk misi penting", dengan ratusan staf pendukung dan pesawat dipindahkan ke pusat-pusat NATO yang lebih aman di Eropa.
Teluk Souda, pelabuhan air dalam dan lapangan terbang di pulau Kreta, Yunani, telah menjadi "rumah aman" utama untuk sensor-sensor paling canggih milik Sekutu.
Jangkauan dan Penyebaran: Dari Kreta, RC-135 dapat melintasi wilayah udara Mediterania dan Turki yang bersahabat untuk mencapai perbatasan Iran. Meskipun waktu penerbangannya lebih lama, penggunaan pesawat tanker KC-135 (beberapa di antaranya telah terlihat di Bandara Ben Gurion di Israel) memungkinkan "pesawat mata-mata" ini untuk tetap berada di posisinya selama 12 hingga 24 jam sekaligus.
Dominasi SIGINT: Misi utama Rivet Joint adalah untuk "menyerap" spektrum elektromagnetik. Dengan memantau frekuensi komando dan kendali Iran, pesawat ini dapat mendeteksi "sidik jari elektronik" peluncuran rudal sebelum terjadi, memberikan peringatan dini yang vital kepada pasukan Sekutu di Teluk.
Integrasi NATO: Beroperasi dari pusat NATO memungkinkan armada AS untuk berkoordinasi lebih erat dengan Rivet Joint RAF dan AWACS E-3A NATO yang beroperasi dari Konya, Turki, menciptakan "tirai intelijen" yang mulus dari Mediterania hingga Teluk Persia.
Sejak relokasi, pesawat yang menggunakan kode panggilan seperti OLIVE48 dan HOMER19 telah dilacak terbang dalam pola elips yang panjang di sepanjang perbatasan utara dan barat Iran.
Misi-misi ini sangat penting untuk membangun "Order of Battle Elektronik," yang mengidentifikasi situs radar Iran mana yang telah berhasil dilumpuhkan dan mana yang masih menjadi ancaman bagi pesawat pembom B-1B dan B-52 yang kini membanjiri medan perang.
"Kami tidak meninggalkan pertempuran," kata seorang analis Angkatan Udara. "Kami hanya memindahkan penyedot debu ke ruangan di mana langit-langitnya tidak runtuh."
(Sumber: The Military Channel) ***