Lidya Arista: Tentang Dayung yang Tak Pernah Berhenti

Oleh Lidya Arista, Wakil Ketua Banat Angkatan Fulkunnajihin KMM, Mesir

ORBITINDONESIA.COM - Di balik riuh agenda yang saling bertabrakan, ada sebuah ruang tamu kecil di rumah Rio. Ruangan sederhana itu menjadi saksi sunyi perjuangan Kabinet Angkatan Fulkunnajihin. Karena terlalu sering dijadikan markas rapat, mereka pun sepakat menjulukinya Sekretariat Fulkunnajihin.

Siang itu udara terasa lebih berat dari biasanya. Agenda besar angkatan sudah di depan mata, tetapi keluhan demi keluhan dari anggota mulai bermunculan, menguji kesabaran para pengurus. Rio, sang ketua, memijat pangkal hidungnya. Ia dikenal setenang telaga, namun kali ini sorot matanya tak mampu sepenuhnya menyembunyikan lelah yang menumpuk.

Di sampingnya, Sholeh mencoba mencairkan suasana. “Tenang, Yo. Kapal Fulkunnajihin tidak akan karam hanya karena ombak sekecil ini,” ujarnya sambil menepuk bahu Rio, menyuntikkan semangat.

Namun Lidia, Wakil Ketua Banat, tak sependapat. “Sholeh, kita butuh solusi nyata. Bukan sekadar untaian kata puitis,” katanya tegas sambil menunjuk tumpukan berkas di meja. “Tenggat semakin dekat, sementara keluhan warga Fulkunnajihin terus bertambah.”

Cindy, Ketua Banat yang biasa menjadi penengah, segera masuk ke dalam percakapan. Suaranya lembut, berusaha meredam bara yang mulai menyala.

“Teman-teman, bagaimana kalau kita selesaikan satu per satu? Untuk keluhan ini, kita berikan tanbih terlebih dahulu. Sampaikan bahwa acara tetap berjalan, tapi mohon bersabar karena kita sedang mengupayakan dananya.”

Di sudut lain, Falih dan Dwi bergulat dengan berkas dan layar laptop. Sebagai Sekretaris Umum, jemari mereka nyaris tak pernah berhenti bergerak. Falih tangkas mengelola dokumen digital, sementara Dwi teliti pada detail—meski kadang mudah panik jika ada yang terlewat.

“Falih, draf dari Divisi Humas kenapa belum masuk?” tanya Dwi cemas.

“Aman, tinggal aku salin sebentar lagi. Kamu fokus saja ke draf PSDM. Sisanya biar aku yang rapikan dan amankan,” jawab Falih tenang, tanpa mengalihkan pandangan dari papan ketik.

Sementara itu, urusan paling krusial berada di tangan Razif dan Maysun. Sebagai bendahara, mereka menjaga napas seluruh kegiatan.

“Zif, kalau dana yang kita ajukan ke Bang Anca segini, kira-kira aman tidak?” bisik Maysun sambil menunjukkan layar laptopnya.

Razif menghela napas panjang, menatap angka-angka yang terasa seperti teka-teki.

“Aku akan coba hubungi bendahara KMM. Kita tidak bisa terus memotong anggaran konsumsi. Kasihan teman-teman kalau harus bekerja dengan perut kosong.”

Memasuki minggu kedua, perjuangan mencapai puncaknya. Falih dan Dwi begadang menyempurnakan proposal untuk diajukan kepada Gubernur KMM, Bang Anca. Di saat yang sama, Razif dan Maysun mengunci angka final dengan segala pertimbangan matang. Tiga hari menjelang hari-H, kedelapan Badan Pengurus Harian (BPH) berangkat ke Tagamu’ Awal, menuju sekretariat KMM.

Perbincangan berlangsung panjang. Penjelasan demi penjelasan disampaikan dengan penuh keyakinan tentang urgensi acara tersebut.

Hingga akhirnya Bang Anca mengangguk mantap. “Insyaallah, dana akan turun malam ini.”

Kalimat itu bagai oase di tengah padang tandus. Lega menyeruak dalam dada mereka. Kabar baik segera disampaikan ke seluruh divisi—acara resmi mendapat lampu hijau.

Malam itu, para BPH pulang dengan pundak yang terasa lebih ringan, meski persiapan teknis masih menanti. Hari yang dinanti pun tiba. Setelah rumitnya birokrasi dan peliknya urusan prasarana, acara akhirnya dimulai—meriah, hangat, dan penuh kebersamaan.

Di puncak acara, Rio dan Sholeh berdiri di belakang panggung, menyaksikan puluhan anggota Fulkunnajihin bersorak gembira.
“Kita berhasil, Yo,” ujar Sholeh dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Rio tersenyum. Ia melihat Cindy dan Lidia tertawa lega. Ia melihat Falih dan Dwi tersenyum tenang—wajah-wajah lelah yang kini berubah menjadi kepuasan. Di sudut lain, Razif dan Maysun akhirnya bisa menikmati hidangan tanpa dihantui angka-angka anggaran.

“Bukan kita, Leh,” koreksi Rio pelan. “Tapi kapal ini. Fulkunnajihin berlayar karena setiap orang di dalamnya tidak pernah berhenti mendayung.”

Malam itu, di bawah langit yang cerah, mereka memahami satu hal: BPH bukan sekadar jabatan di atas kertas. Ia adalah delapan jiwa yang belajar menundukkan ego, saling menguatkan, dan terus mendayung bersama—hingga kapal besar bernama Fulkunnajihin tiba di dermaga keberhasilan.***