Perubahan Paradigma: Nasib Tragis Buku Saku di Era Digital
ORBITINDONESIA.COM – Buku saku yang dulu mendominasi rak toko bandara, kini perlahan menghilang dari peredaran, digantikan oleh format digital dan lebih mahal.
Di awal abad ke-20, buku saku menjadi pilihan utama dalam menyediakan literatur dengan harga terjangkau. Namun, dengan munculnya e-book dan audiobooks, penjualan buku saku merosot tajam. Penurunan ini diperparah oleh keputusan distributor besar seperti ReaderLink yang mengakhiri distribusi buku saku. Format ini sekarang hampir punah, digantikan oleh format lain yang lebih mahal seperti hardcover dan trade paperback.
Menurut data Circana BookScan, penjualan buku saku di AS merosot dari 103 juta pada 2006 menjadi kurang dari 18 juta pada 2025. Sementara itu, jumlah judul buku saku yang diterbitkan turun dari 54.000 menjadi 44.000. Perubahan ini bukan dipimpin oleh penerbit, melainkan oleh pembaca yang beralih ke format digital yang lebih murah dan mudah diakses.
Perubahan ini bukan sekadar fenomena ekonomi, tetapi juga budaya. Buku saku, yang pernah dianggap sebagai teknologi brilian karena kemudahan dan harga terjangkaunya, kini menjadi simbol nostalgia. Keputusan pembaca untuk beralih dari buku saku ke format digital menunjukkan perubahan preferensi dalam konsumsi literatur, dipengaruhi oleh kenyamanan dan harga.
Kematian buku saku menandai akhir sebuah era dalam dunia literatur. Ini membawa kita pada pertanyaan reflektif: Apakah kita kehilangan sesuatu yang berharga dalam transisi ke digital? Mungkin saatnya kita merenungkan nilai dari pengalaman membaca fisik di tengah kemajuan teknologi.
(Orbit dari berbagai sumber, 8 Februari 2026)