Puisi Izzatunnisa: Melawan Gravitasi, Memeluk Hidup
ORBITINDONESIA.COM - Di tepi tebing yang curam, aku berdiri menantang sunyi,
Saat tali rappeling memeluk tubuh, aku belajar percaya lagi.
Turun perlahan di dinding batu, setiap inci adalah bukti,
Bahwa gravitasi tak selalu berarti jatuh, tapi cara untuk kembali memijak bumi.
Lalu aku melesat, menjadi angin di lintasan flying fox,
Melepas semua beban yang selama ini mengunci kotak-kotak cemas.
Dalam kecepatan itu, aku melihat dunia begitu luas,
Tak ada ruang untuk menyerah, hanya ada syukur yang lepas.
Kaki ini terus melangkah, mendaki setapak demi setapak,
Napas yang tersengal adalah tanda jantungku masih berdetak kuat.
Di puncak yang dingin, aku menemukan tempat tenang yang aku cari,
Bukan untuk mengakhiri, tapi untuk memulai kembali janji pada diri sendiri.
Di sini, di antara awan dan riuh rendah hutan yang asri,
Aku memilih untuk tetap ada, menolak tunduk pada gelapnya nurani.
Sebab setiap puncak adalah kemenangan atas lelahnya perjalanan,
Dan setiap napas adalah alasan untuk menolak sebuah perpisahan.
Februari 2026
Izzatunnisa, adalah nahasiswa program studi Bahasa Inggris di Universitas Bangka Belitung. Menulis puisi adalah bagian dari rekreasi jiwa.***