Kebangkitan Tak Terduga: Batubara di Tengah Krisis Energi AS 2025

ORBITINDONESIA.COM – Di tengah suhu dingin dan melonjaknya permintaan energi, Amerika Serikat menyaksikan lonjakan penggunaan batubara yang mengejutkan.

Di wilayah dingin Amerika Serikat, sebagian besar rumah tangga mengandalkan gas alam dan bahan bakar fosil lainnya untuk pemanas. Pada awal 2025, konsumsi bahan bakar ini meningkat hampir 7% dibandingkan tahun sebelumnya, didorong oleh suhu rendah dan kebutuhan energi yang kian meningkat.

Kebutuhan energi tambahan juga berasal dari data center dan operasi penambangan kripto di Texas dan Ohio Valley. Peningkatan permintaan ini, dikombinasikan dengan harga gas yang lebih tinggi, menyebabkan lonjakan 13% dalam penggunaan batubara di AS tahun lalu. Sebaliknya, India dan China berhasil menurunkan penggunaan batubara mereka dengan menambah energi angin dan matahari dalam jumlah besar.

Bagi banyak pengamat, harga gas yang tinggi di AS berhubungan erat dengan ekspor gas besar-besaran ke seluruh dunia. Michael Gaffney dari Rhodium Group mencatat bahwa perpindahan penggunaan bahan bakar akibat harga gas yang tinggi membuat batubara kembali diminati. Pemikiran ini didukung oleh Jesse Lee dari Climate Power, yang melihat kebangkitan batubara sebagai akibat langsung dari mahalnya harga gas.

Dengan pengurangan 64% dalam pembangkit listrik dari batubara sejak 2007, kebangkitan ini mungkin tampak seperti anomali. Namun, dengan permintaan energi yang terus tumbuh dari sektor-sektor seperti pusat data dan operasi kripto, kebangkitan batubara ini lebih dari sekadar lonjakan sementara. Pertanyaan besarnya adalah, apakah ini hanya respons sesaat, atau tanda dari perubahan yang lebih mendasar dalam kebijakan energi AS?

(Orbit dari berbagai sumber, 15 Januari 2026)