Puisi Izzatunnisa - Sisyphus di Menara Sampah: Litani Gadis yang Terhenti

ORBITINDONESIA.COM - Di sebuah sudut yang luput dari sapuan fajar 2025,

Ia membangun benteng dari sisa-sisa dunia yang membusuk.
Benda-benda tak bermakna ia tumpuk hingga nalar memijar,
Menjadi gundukan nestapa tempat ia bersembunyi dari kenangan yang menusuk.

Sampah itu adalah kulit kedua, lapisan pelindung dari jamahan masa lalu,
Sebab ia merasa hanya di dalam kotor, ia takkan lagi diganggu.

Meja makannya adalah palung yang sunyi dan berdebu,
Tempat nutrisi menjadi asing dan lapar berubah menjadi mati rasa.

Ia mengunyah hampa, menelan pahitnya waktu yang membeku,
Membiarkan raganya menyusut seiring terkikisnya asa.

Baginya, hidup hanyalah sisa-sisa yang tak sempat dibuang,
Sebuah siklus gagal yang ia rawat dengan kasih yang pincang.

Di balik jendela, dunia berjalan dalam kecepatan yang mencekam,
Setiap deru mesin adalah simfoni kematian yang ia gubah sendiri.
Ilusi menari di matanya; ia melihat aspal yang haus akan darah dan lebam,

Setiap roda yang berputar adalah kecelakaan yang menanti hari.
Pikirannya adalah rahim bagi tragedi yang belum terjadi,

Mengutuk setiap nyawa yang melintas dengan bayang-bayang mati.
Ia adalah arloji yang mesinnya telah lama berkarat,

Gagal sembuh meski musim telah berganti ribuan kali.
Terjebak dalam labirin diri yang penuh dengan karat dan jerat,

Menanti tangan yang mampu menyentuh sisi gelapnya tanpa harus lari.
Namun hingga kini, ia tetaplah puan yang mendekap sampah ingatan,
Sambil memandangi jalan raya, menunggu kiamat yang ia ciptakan dalam bayangan.

Pangkalpinang, akhir tahun 2025

Izzatunnisa adalah mahasiswa PBI (Prodi Bahasa Inggris) di Unmuh Babel. Ia sudah menulis puisi semenjak SLP, hingga kini ikut di beberapa event, dengan beberapa buku antologi puisi dan quotes. Mahasiswa yang berasal dari Pulau Besar ini memandang sastra sebagai tempat menitipkan pesan dan kenangan dalam setiap moment yang ditemuinya. ***