Di Balik Kejeniusan B.J. Habibie, Ada Kesetiaan yang Menguatkan
“Engkau adalah mata airku.”
Ungkapan itu ditulis B. J. Habibie untuk perempuan yang ia cintai seumur hidupnya, Hasri Ainun Besari. Kalimat sederhana, tetapi di sanalah seluruh hidupnya seolah dirangkum. Mata air: sumber yang tak terlihat gemuruhnya, namun darinya kehidupan mengalir.
Publik mengenal Habibie sebagai ilmuwan jenius dan Presiden ketiga Republik Indonesia. Ia membangun reputasi di industri dirgantara Jerman, memimpin bangsa dalam masa transisi, dan meninggalkan jejak penting dalam sejarah. Namun bagi Habibie sendiri, pencapaian itu tidak pernah berdiri sendirian. Ada Ainun yang berjalan bersamanya sejak muda.
Cinta mereka tumbuh jauh sebelum sorotan datang. Dari masa remaja, dari percakapan-percakapan sederhana, dari keyakinan bahwa masa depan layak diperjuangkan bersama. Saat Habibie berangkat ke Jerman untuk menuntut ilmu, Ainun menyusul dan mendampingi. Hidup di negeri orang bukan perkara mudah. Mereka memulai dari kesederhanaan, dari ruang-ruang kecil yang dipenuhi mimpi besar.
Habibie tenggelam dalam riset dan teknologi pesawat terbang. Ainun menjaga rumah tetap hangat, memastikan suaminya memiliki ketenangan untuk berpikir dan berkarya. Ia bukan sekadar pendamping; ia adalah penopang. Dalam berbagai catatannya, Habibie mengakui bahwa Ainunlah yang membuatnya tetap tegak saat tekanan datang.
Namun ujian terberat hadir ketika Ainun jatuh sakit. Perempuan yang selama puluhan tahun menjadi sumber kekuatan itu harus menjalani perawatan intensif di Jerman. Pada fase itu, Habibie memperlihatkan kebesaran yang berbeda. Ia tidak berbicara tentang politik atau teknologi. Ia duduk setia di sisi ranjang, menggenggam tangan Ainun, membaca doa, menunggu dengan harap yang tak putus. Namun takdir berkata lain, maut memisahkan mereka.
Kepergian Ainun pada 2010 meninggalkan luka yang nyata. Wajah Habibie menyimpan kesedihan yang tak disembunyikan. Namun cinta yang ia miliki tidak berakhir bersama pemakaman. Ia menuliskan kisah mereka, merawat kenangan dalam buku dan doa. Setiap kali menyebut nama Ainun, suaranya melunak, seolah mata air itu masih mengalir.
Valentine mungkin datang dengan setangkai bunga yang esok mulai gugur, dengan cokelat manis yang larut dalam sekejap. Namun kisah Habibie dan Ainun menghadirkan cinta yang tak mengenal musim, kesetiaan yang tak lekang oleh waktu, dan cinta yang dirawat hingga akhir hayat.
Sosok Habibie memberi teladan bahwa mencintai adalah keputusan untuk bertahan, bukan karena segalanya mudah, tetapi karena hati telah memilih pada satu hati dan tidak ingin mencari pengganti.
Barangkali itulah warisan terindahnya: bukan hanya pesawat yang terbang tinggi, bukan pula jabatan yang pernah ia duduki, melainkan bukti bahwa cinta yang dirawat dengan setia mampu melampaui usia, melampaui kehilangan, bahkan melampaui kematian.