Trump di Bawah Tekanan Berat: Perubahan Rezim di Iran atau Bunuh Diri Politik?
ORBITINDONESIA.COM - Apa yang terjadi di Washington, D.C. saat ini bukanlah diplomasi — melainkan tekanan demi tekanan. Pertemuan-pertemuan yang tenang antara pejabat AS dan Israel. Senyum yang dipaksakan. Foto-foto yang dipilih dengan cermat. Bahasa tubuh yang mengatakan lebih banyak daripada yang pernah diungkapkan dalam konferensi pers.
Setiba di Washington, sebelum menemui Trump, PM Israel Benjamin Netanyahu pertama kali bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio — dan postur Rubio tampak sangat cemas, hampir waspada. Ini menarik.
Rubio dilaporkan mendapatkan posisi Menlu melalui dukungan Susie Wiles — yang sering disebut "Susie Trump" — sekarang Kepala Staf Gedung Putih. Susie Wiles pernah berkonsultasi tentang upaya pemilihan kembali Netanyahu di Israel. Kini kita bisa melihat hubungan antara Netanyahu-Rubio-Wiles.
Kemudian Trump. Kita tidak menyangka ada pancaran energi kecemasan seperti itu dari Rubio. Dan Trump juga menunjukkan gejala yang mirip— ada sesuatu yang terasa aneh.
Trump berada di bawah tekanan hebat dari Netanyahu, AIPAC (lobby Yahudi pendukung Israel), para donor Yahudi utama, dan para pendukung perang, untuk meningkatkan eskalasi menuju perang terhadap Iran. Begitulah cara kerja politik di Washington.
Ketika Trump menerima lebih dari $200 juta dari para donor Yahudi ini untuk masuk ke Gedung Putih, ia harus memenuhi janjinya. Begitu aturan mainnya: seorang politisi AS yang mendapatkan uang dan dukungan AIPAC, maka ia terikat untuk melakukan pekerjaan mereka, dan melayani kepentingan mereka.
Jika tidak, mereka akan memeras, mempermalukan, dan memastikan si politisi itu dimakzulkan atau “dibunuh.” Jika si politisi tidak memenuhi janji, tekanan akan meningkat — secara politik dan publik.
Trump sebenarnya tidak menginginkan perang yang berkepanjangan. Ia memang membenci pemerintahan Islam di Iran, tetapi ia lebih suka opsi yang cepat — masuk cepat dan keluar cepat. Sama seperti yang ia lakukan terhadap Maduro di Venezuela, ia akan mengikuti hal itu.
Tetapi Trump memahami risikonya. Perang skala penuh dengan Iran akan menggoyahkan kawasan Timur Tengah dan lepas kendali. Jika Trump dapat menyingkirkan kepemimpinan di Iran tanpa memicu kekacauan — sesuatu yang tepat dan terkendali — ia mungkin akan mempertimbangkannya. Tetapi, sayangnya, bukan begitu cara kerja Iran.
Ketangguhan, daya tahan, dan kekuatan Iran tidak sama dengan Venezuela. Sebelumnya, Trump mengklaim fasilitas nuklir Iran telah hancur oleh pemboman AS tahun lalu. Jadi Trump kini tidak bisa berperang dengan Iran dengan alasan fasilitas nuklir.
Tetapi Israel tidak puas dan menginginkan lebih. Israel menginginkan hasil akhir: perubahan rezim di Teheran. Masalahnya, pemerintahan Islam masih memiliki dukungan yang cukup besar di dalam negeri Iran dan tidak akan runtuh dalam semalam.
Teheran juga memiliki kekuatan senjata untuk menyebabkan kerusakan pada pangkalan dan pasukan Amerika di wilayah Timur Tengah, dan berpotensi membuat kerusakan yang lebih besar jika pasukan AS selamat dari serangan awal.
Di sisi lain, Netanyahu dan para pendukungnya di AS akan terus memberikan tekanan pada Trump.
Trump memahami taruhannya. Jika pasukan AS memasuki Iran dan itu berubah menjadi bencana, kepresidenannya akan terpukul. Basis pendukungnya, yang menolak keterlibatan AS dalam perang berkepanjangan, bisa memberontak.
Pemilu paruh waktu 2026 di AS bisa berbalik menghantam Trump. Jika kubu Partai Demokrat sukses mengambil alih DPR AS, pemakzulan menjadi ancaman nyata lagi bagi Trump. Kelangsungan politiknya terkait dengan keputusan ini.
Tekanan untuk memberikan pukulan telak kepada Teheran sangat kuat. Beberapa orang percaya ini adalah saatnya. Tetapi Trump ragu-ragu. Ia mati-matian menahan diri.
Untuk sementara ini, Iran lolos dari ancaman serangan militer AS. Tetapi untuk berapa lama? Waktu akan membuktikan. Dan begitu pula negosiasi Iran-AS, yang kabarnya masih akan berlanjut.***
*Satrio Arismunandar, pakar SCSC (South China Sea Council). Dinarasikan dari sumber data: The Movement For Social Change-GH ***