Sumber Intelijen Rusia: 6 Jenderal Senior IDF dan 32 Agen Mossad Israel Tewas dalam Serangan Balasan Iran
ORBITINDONESIA.COM - Sumber intelijen Rusia telah merilis penilaian dramatis yang mengklaim bahwa Israel telah menderita kerugian personel dan strategis yang signifikan selama 72 jam pertama serangan balasan Iran.
Laporan tersebut menggambarkan fase konflik yang intens dan sangat terkoordinasi, yang menargetkan tidak hanya infrastruktur militer tetapi juga tokoh-tokoh kunci dalam komunitas pertahanan dan ilmiah Israel.
Menurut klaim intelijen, korban jiwa diduga termasuk beberapa pejabat tinggi dan personel khusus, di antaranya 11 ilmuwan nuklir dan 6 jenderal senior IDF. Jika akurat, kerugian tersebut akan menjadi pukulan besar bagi kepemimpinan militer Israel dan program ilmiah canggihnya.
Salah satu poin yang paling mengkhawatirkan dalam laporan tersebut berpusat pada fasilitas nuklir Dimona, sebuah lokasi yang telah lama dikaitkan dengan kemampuan pertahanan strategis Israel.
Sumber-sumber Rusia menunjukkan bahwa selama puncak pemboman, Israel mungkin telah kehilangan akses operasional atau kendali sementara atas sebagian fasilitas tersebut, menimbulkan pertanyaan serius tentang keamanan salah satu instalasi paling sensitif di negara itu.
Di luar kerugian kepemimpinan, laporan tersebut juga mengklaim kerugian besar pada struktur militer Israel yang lebih luas. Menurut angka yang dikutip, 198 perwira angkatan udara dan 462 tentara dilaporkan tewas, menunjukkan tekanan signifikan pada kapasitas operasional angkatan bersenjata Israel selama tahap awal kampanye pembalasan.
Penilaian intelijen juga menuduh adanya kerusakan di dalam komunitas intelijen Israel. Hingga 32 agen Mossad dilaporkan tewas, menunjukkan bahwa serangan Iran mungkin tidak hanya menargetkan infrastruktur fisik tetapi juga jaringan intelijen yang penting.
Otoritas Israel belum mengkonfirmasi angka-angka ini, dan verifikasi independen tetap sulit di tengah kekacauan konflik yang sedang berlangsung. Namun, klaim yang muncul dari Moskow menyoroti intensitas ekstrem dari apa yang disebut analis sebagai "fase pembalasan" dari konfrontasi 2026.
Pengamat militer mencatat bahwa tingkat presisi yang dijelaskan dalam laporan tersebut—terutama serangan terhadap ilmuwan, jenderal, dan tokoh intelijen—akan membutuhkan intelijen penargetan yang sangat canggih.
Hal ini telah menyebabkan spekulasi bahwa Iran mungkin telah mengandalkan pengawasan canggih, kemampuan siber, atau dukungan intelijen eksternal untuk menembus sistem pertahanan udara dan keamanan Israel yang secara tradisional kuat.
Untuk saat ini, sebagian besar situasi sebenarnya masih diselimuti kabut perang, dengan klaim yang saling bertentangan muncul dari berbagai pihak yang bertikai.
Seiring perkembangan situasi, para pengamat global mengamati dengan saksama bagaimana Israel dan IDF akan menanggapi kerugian yang dilaporkan ini, dan apakah status situs-situs sensitif seperti fasilitas Dimona akan diklarifikasi dalam beberapa hari mendatang.
(Sumber: FB TechTimes) ***