Farid Mustofa: Allah Menyuruh Kita Bukan Karena Dia Butuh

Oleh Farid Mustofa, Fakultas Filsafat UGM

ORBITINDONESIA.COM - Banyak yang bertanya-tanya kalau Allah tidak butuh apa pun dari kita, kenapa Dia menyuruh kita salat, puasa, zakat, dan menjauhi ini-itu? Kenapa ada perintah, kenapa ada larangan, kenapa ada ancaman dosa kalau semua itu Allah tak butuh?

Pertanyaan ini wajar. Bahkan bagus. Karena akan membuat kita memahami ibadah dengan cara yang  berbeda, lebih dalam, lebih jujur, dan lebih membebaskan.

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

"Wahai manusia, kamulah yang membutuhkan Allah, dan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (QS. Fatir: 15)

Maha Kaya di sini bukan sekadar harta. Allah Kaya dalam segala hal. Tidak butuh dipuji, tidak butuh disembah, tidak butuh dijaga nama-Nya oleh manusia. Langit dan bumi, seluruh semesta berjalan bukan karena Allah takut kehilangan kendali.

Semuanya tunduk karena memang begitulah hakikatnya. Dan jika seluruh manusia berhenti menyembah Allah pun, kebesaran-Nya tidak berkurang.  Tidak ada yang goyah. Tidak ada yang berubah. Allah tetap Allah.

Lalu kenapa Dia menyuruh kita? Kenapa ada Al-Quran, kenapa ada Nabi, kenapa ada syariat yang mengatur kehidupan kita?

Bayangkan seorang ibu dengan anak kecilnya. Si anak main pisau. Sang ibu melarang, "Jangan, Nak!" Si anak mungkin merengek, mungkin menangis, mungkin merasa ibunya tidak adil. Tapi apakah ibu sedang menunjukkan siapa yang berkuasa di rumah? Apakah  sedang membuktikan ia lebih kuat dari si anak? Menegaskan pisau itu miliknya dan tidak boleh dipinjam?

Tidak. Sama sekali tidak. Ibu melarang karena tahu bahayanya bagi anaknya. Yang akan terluka bukan ibunya. Yang akan menangis kesakitan, berdarah, menanggung akibatnya, si anak itu sendiri.

Begitu pula ketika ibu menyuruh anaknya tidur cukup, makan sayur, tidak terus-terusan main gadget, tidak jajan sembarangan, tidak salah berteman. Semua perintah dan larangan itu bukan demi kenyamanan sang ibu. Bukan supaya terlihat berwibawa, bukan karena  senang memerintah.

Tapi karena sang ibu sayang, dan karena sayang itulah ia mau repot menyuruh, melarang, mengingatkan, bahkan kadang sampai tak disukai si anak yang belum  mengerti mana baik dan mana mencelakakan.

Itulah gambar paling dekat memahami perintah dan larangan Allah. Allah menyuruh bukan meneguhkan kuasa-Nya, karena kuasa-Nya tidak perlu diteguhkan oleh ketaatan kita. Allah melarang bukan karena khawatir kewibawaan-Nya terganggu. Allah menyuruh dan melarang karena Dia tahu persis, jauh lebih tahu dari siapa pun, apa yang baik dan apa yang merusak kita, manusia yang lemah, yang sering tidak tahu mana baik mana bahaya.

Nabi Muhammad SAW menegaskan ini, Allah berfirman dalam hadis qudsi, "Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan pernah bisa memberi mudarat kepada-Ku, dan kalian tidak akan pernah bisa memberi manfaat kepada-Ku." Selesai. Sejelas itu. Taat kita tidak menambah apa pun pada Allah. Maksiat kita tidak mengurangi apa pun dari-Nya. Yang bertambah dan yang berkurang hanyalah keadaan kita sendiri.

Puasa Ramadan jadi contoh paling gamblang soal ini. Nabi Muhammad SAW bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

"Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya." (HR. Bukhari)

Perhatikan kata-katanya dengan seksama. Allah tidak butuh. Bukan "Allah tidak mau." Bukan "Allah tidak terima." Tapi Allah tidak butuh. Karena memang yang rugi kalau puasa kita hanya lapar tanpa perubahan, kita sendiri. Kita yang menahan lapar haus  tapi keluar Ramadan tanpa membawa apa-apa. Kita yang kehilangan momentum terbaik dalam setahun, kesempatan emas berbenah diri.

Puasa sejatinya sekolah pengendalian diri paling intensif. Sebulan penuh, setiap hari, kita dilatih membuktikan nafsu bisa dikendalikan. Perut, yang setiap hari kita turuti kemauannya, ternyata bisa diperintah.

Amarah yang sering meledak di rumah, di jalan raya, di tempat kerja, ternyata bisa ditahan. Mulut yang gemar bergunjing, membicarakan orang, menyebarkan kabar yang belum tentu benar, bisa dijaga kalau kita sadar betul apa yang  kita lakukan.

Semua latihan itu manfaatnya kembali kepada kita, kepada keluarga kita, kepada orang-orang di sekitar kita. Tidak sedikit pun mengalir  demi kepentingan Allah.

Allah juga berfirman,

وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

"Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barang siapa ingkar, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (QS. Luqman: 12)

Syukur kita tidak menambah apa pun pada Allah. Kekufuran kita tidak mengurangi apa pun dari-Nya. Tapi syukur membuka pintu ketenangan, kejernihan pikiran, dan keberkahan dalam hidup kita sendiri. Kekufuran menutupnya rapat-rapat. Lagi-lagi, yang menanggung akibatnya kita sendiri.

Maka kalau selama ini kita menjalankan ibadah dengan terpaksa, seperti sedang membayar utang kepada Allah, atau seperti sedang memenuhi kewajiban administratif agar tidak kena sanksi, mungkin sudah saatnya cara pandang itu diubah. Ibadah bukan pajak yang harus dibayar kepada penguasa. Ibadah kebutuhan kita sendiri, seperti makan, seperti tidur, seperti menghirup udara.

Bedanya, kebutuhan jasmani terasa langsung di badan, sementara kebutuhan ruhani baru terasa akibatnya perlahan, dalam bentuk ketenangan yang sulit dijelaskan, kejernihan dalam mengambil keputusan, dan kekuatan tidak mudah hancur ketika hidup terasa berat.

Kita yang butuh salat. Kita yang butuh puasa. Kita yang butuh aturan menahan diri dari hal-hal yang perlahan merusak kita dari dalam. Allah, sejak jauh sebelum kita ada, sudah dan akan selalu sempurna. Dia tidak menunggu ketaatan kita menjadi lengkap. Kitalah yang tidak lengkap tanpa-Nya. ***