Amerika Serikat dan Imperialisme Modern: Kontroversi Greenland
ORBITINDONESIA.COM – Stephen Miller, penasihat utama Presiden Trump, menyatakan bahwa Greenland seharusnya milik Amerika Serikat, memicu perdebatan tentang imperialisme modern.
Pernyataan ini muncul setelah Trump menghidupkan kembali keinginannya untuk menguasai Greenland, meskipun ditentang oleh Denmark, sekutu NATO. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang masa depan aliansi transatlantik dan kebijakan luar negeri AS.
Sejak lama, kebijakan luar negeri AS sering diwarnai oleh tindakan unilateral. Tindakan terhadap Venezuela menyoroti pendekatan AS yang semakin agresif dalam mengejar kepentingan nasional. Amerika Serikat telah menerapkan embargo ketat terhadap Venezuela, mengklaim kontrol atas sumber daya negara tersebut.
Banyak yang melihat langkah ini sebagai bentuk baru imperialisme, di mana negara besar mengeksploitasi negara yang lebih kecil untuk sumber daya mereka. Kritik datang dari berbagai kalangan, termasuk politisi seperti Bernie Sanders, yang melihatnya sebagai pengulangan sejarah kelam eksploitasi.
Apakah dunia sedang menyaksikan kebangkitan imperialisme ala abad ke-20? Kebijakan AS yang berfokus pada kekuatan dan dominasi mungkin menandai era baru geopolitik yang penuh tantangan. Dunia harus waspada terhadap implikasi dari kebijakan semacam ini terhadap tatanan internasional.
(Orbit dari berbagai sumber, 7 Januari 2026)