Optimisme dan Kekhawatiran di Tengah Intervensi AS di Venezuela

ORBITINDONESIA.COM – Di tengah lautan bendera Venezuela, Miluixsy Miranda memimpin barisan congo di tempat parkir pusat perbelanjaan Katy pada Sabtu malam, merayakan penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores.

Pada hari yang sama, Amerika Serikat melakukan serangan besar-besaran ke Venezuela dan menahan Presiden Maduro. Peristiwa ini menimbulkan reaksi beragam di kalangan imigran Venezuela di Houston, yang memiliki populasi ketiga terbesar di AS. Sebagai pusat perusahaan energi besar, Houston menjadi pusat perhatian dalam upaya memanfaatkan cadangan minyak Venezuela.

Setelah penangkapan Maduro, banyak warga Venezuela di Houston merasa optimis namun waspada. Beberapa, seperti Hector Machuca, berharap penggulingan Maduro akan membawa masa depan yang lebih baik. Namun, transisi itu masih belum jelas, mengingat pernyataan Trump tentang pengambilalihan AS dan penolakan dari Wakil Presiden Delcy Rodríguez.

Di sisi lain, ada protes di Houston yang mengecam intervensi AS. Caleb Kurowski dari Partai Sosialisme dan Pembebasan membandingkan situasi ini dengan intervensi AS di Irak dan Afghanistan. Travis Lejune, meski memahami perayaan penggulingan Maduro, menentang intervensi AS yang dinilainya sebagai akar masalah diktator seperti Maduro.

Intervensi AS di Venezuela menimbulkan spekulasi dan perdebatan. Pertanyaannya, apakah ini akan membuka jalan bagi masa depan yang lebih baik, atau justru memperpanjang penderitaan? Masyarakat internasional harus mencermati langkah berikutnya.

(Orbit dari berbagai sumber, 6 Januari 2026)