Konflik di Yaman: Dampak Serangan Udara Saudi dan Keretakan Aliansi
ORBITINDONESIA.COM – Ketegangan meningkat di Yaman ketika pesawat tempur Saudi melancarkan serangan baru terhadap kamp militer di Mukalla, memperburuk keretakan dalam aliansi anti-Houthi.
Yaman telah dilanda perang saudara selama lebih dari satu dekade. Konflik ini melibatkan pemberontak Houthi yang didukung Iran menguasai wilayah utara dan koalisi yang dipimpin Saudi mendukung pemerintah yang diakui internasional di selatan. Namun, Uni Emirat Arab (UEA), anggota koalisi, juga mendukung separatis yang ingin Yaman Selatan merdeka kembali.
Serangan udara terbaru Saudi di Mukalla menargetkan kamp Barshid Brigade, menambah ketegangan antara Saudi dan UEA. Serangan ini terjadi setelah STC memproklamirkan konstitusi negara merdeka di selatan. Langkah STC di Hadramout dan Mahra bulan lalu semakin memanas situasi, menyingkirkan sekutu Saudi dari wilayah kaya minyak tersebut.
Perpecahan dalam aliansi anti-Houthi menunjukkan dinamika kekuasaan yang kompleks di Timur Tengah. Persaingan antara Saudi dan UEA mencerminkan kepentingan geopolitik yang saling bertentangan, terutama di Laut Merah. Bagi Saudi, tindakan STC yang didukung UEA di perbatasan kerajaan dianggap sebagai ancaman yang harus dihentikan.
Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana koalisi ini akan bertahan dalam menghadapi ketegangan internal yang meningkat. Apakah dialog yang direncanakan di Riyadh dapat menemukan jalan keluar dari kebuntuan ini? Masa depan Yaman kini semakin tidak pasti di tengah konflik yang terus berkepanjangan.
(Orbit dari berbagai sumber, 5 Januari 2026)