Perlombaan Kapal Selam Nuklir Korea: Dampak Global dan Risiko
ORBITINDONESIA.COM – Ketegangan meningkat di Semenanjung Korea dengan perlombaan senjata kapal selam nuklir antara Korea Utara dan Selatan, memicu kekhawatiran akan keamanan regional.
Perlombaan kapal selam nuklir ini dipicu oleh perubahan strategi keamanan Amerika Serikat di kawasan tersebut. Korea Utara baru saja mengungkapkan kapal selam berdaya nuklir 8.700 ton, sementara Korea Selatan bergerak cepat membangun kapalnya sendiri. Persaingan ini berakar pada ancaman nuklir Korea Utara yang meluas ke ranah maritim.
Amerika Serikat mendorong sekutunya untuk mengambil lebih banyak tanggung jawab keamanan dan meningkatkan kapabilitas pertahanan. Korea Selatan telah lama berupaya membangun kapal selam nuklir untuk menandingi ancaman Korea Utara. Selain itu, ada ekspektasi bahwa kapal selam ini juga akan berfungsi untuk menyeimbangkan ancaman dari China di kawasan Indo-Pasifik.
Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, menyebutkan keterbatasan kapal selam diesel dalam melacak kapal selam Korea Utara atau China. Namun, pemerintah Korea Selatan berhati-hati untuk tidak mengesankan konfrontasi militer dengan China, yang merupakan mitra dagang terbesar mereka. Sementara itu, sebagian besar masyarakat Korea Selatan mendukung persenjataan nuklir meskipun ada risiko sanksi internasional.
Dalam tatanan internasional baru tanpa kehadiran dominan AS di Pasifik Barat, Korea Selatan mungkin perlu strategi bertahan yang melibatkan senjata nuklir. Kapal selam bertenaga nuklir bisa menjadi langkah awal menuju tujuan yang lebih besar. Ke depan, akan menarik untuk melihat bagaimana dinamika kekuatan di Asia Timur akan berkembang.
(Orbit dari berbagai sumber, 28 Desember 2025)