Perayaan Natal di Bethlehem: Di Bawah Bayang-bayang Konflik
ORBITINDONESIA.COM – Perayaan Natal kembali diadakan di Bethlehem setelah dua tahun absen, namun dirundung ketidakpastian akibat konflik di wilayah Palestina.
Setelah dua tahun terhenti, perayaan Natal kembali digelar di Bethlehem, tempat kelahiran Yesus. Namun, kebahagiaan tersebut dibayangi oleh ketegangan di Tepi Barat yang dikuasai oleh Israel. Pembatasan militer Israel membatasi jumlah pengunjung yang dapat menghadiri Misa Natal di Gereja Kelahiran di Bethlehem.
Pada tahun 2025, lebih dari 30.000 warga Palestina di Tepi Barat terpaksa mengungsi akibat meningkatnya operasi militer Israel dan perluasan permukiman Yahudi. Penghancuran rumah-rumah Palestina oleh militer Israel mencapai rekor tertinggi, yang menurut kelompok hak asasi manusia merupakan kebijakan penggusuran yang disengaja.
Mustafa Barghouti dan kelompok-kelompok hak asasi manusia menyoroti bahwa tindakan Israel di Tepi Barat melanggar hukum internasional dan memicu ketidakstabilan. Kebijakan ini dinilai sebagai upaya sistematis untuk mengusir warga Palestina dan memperluas permukiman Yahudi. Pernyataan Israel mencerminkan penolakan terhadap solusi dua negara, meski ada seruan internasional untuk negosiasi damai.
Perayaan Natal di Bethlehem seharusnya menjadi momen persatuan dan kedamaian, namun kenyataannya berbeda. Dengan meningkatnya ketegangan dan kebijakan yang memicu konflik, masa depan perdamaian di kawasan ini tampak suram. Masyarakat internasional perlu bertindak untuk mendorong solusi damai dan menghentikan siklus kekerasan yang tak berkesudahan.