Fenomena 996: Kerja Keras atau Eksploitasi Modern?
ORBITINDONESIA.COM – Dalam era digital yang serba cepat, gaya kerja '996' kembali mengemuka di Silicon Valley, menantang batas keseimbangan hidup.
Praktik kerja 996, yang berarti bekerja dari pukul 9 pagi hingga 9 malam selama enam hari seminggu, telah menjadi sorotan di dunia teknologi. Meskipun ilegal di China sejak 2021, budaya kerja ekstrem ini masih diaplikasikan oleh beberapa perusahaan rintisan di Amerika Serikat. Silicon Valley, pusat inovasi teknologi, kini menghadapi dilema antara produktivitas dan kesejahteraan karyawan.
Sejarah panjang budaya kerja keras di industri teknologi dimulai sejak tahun 1960-an, di mana persaingan ketat mendorong jam kerja panjang. Menurut data dari Ramp, penggunaan kartu kredit korporat untuk pembelian makanan pada hari Sabtu meningkat di San Francisco, mengindikasikan praktik kerja 996 yang terus berlanjut. Dengan pemutusan hubungan kerja besar-besaran sejak 2022, rasa ketidakamanan pekerjaan dapat mendorong karyawan untuk menerima jadwal kerja panjang.
Para pemimpin industri, seperti mantan CEO Google Eric Schmidt, melihat 996 sebagai cara untuk bersaing dengan China. Namun, ini menghadapkan pekerja pada risiko burn out dan menurunkan kualitas hidup. Perlu adanya keseimbangan antara ambisi perusahaan dan kesehatan mental karyawan. Pertanyaannya adalah kapan kita akan melihat perubahan yang lebih manusiawi dalam pendekatan kerja di sektor teknologi?
Menghadapi kenyataan ini, penting bagi perusahaan dan karyawan untuk menilai kembali nilai dan prioritas mereka. Apakah keuntungan jangka pendek sepadan dengan potensi kerugian jangka panjang bagi individu? Mungkin sudah saatnya kita mempertimbangkan kembali definisi produktivitas dan sukses di era modern.
(Orbit dari berbagai sumber, 4 November 2025)