DECEMBER 9, 2022
Kolom

Syaefudin Simon: Salim Said dan Dua Raja Jawa

image
Prof. Dr. Salim Said (Foto: Antara)

Tapi apa kenyataannya? Pak Harto dan Jokowi yang semula diprediksi menjadi raja yang akan membawa kemakmuran dan keadilan terhadap negerinya, akhirnya tidak terbukti. Soeharto jatuh karena merasa menjadi raja sehingga memberangus demokrasi. Jokowi juga di akhir masa kepresidenannya merasa menjadi raja sehingga memberangus demokrasi dan membangun kekuasaan dinasti. 

Dalam pikiran "Raja Jokowi" -- Gibran Rakabuming Raka adalah putra mahkota yang harus mewarisi kekuasaannya. Risiko apa pun harus dihadapi karena eksistensi kerajaan tidak boleh hilang.

Soeharto dan Jokowi gagal dalam pemerintahannya. Keduanya lupa bahwa presiden bukanlah raja. Presiden kekuasaannya dibatasi, tidak seperti raja yang punya kekuasaan mutlak. 

Baca Juga: Andre Vincent Wenas: PSI dan Gosip Partai Berkarya, Tommy Soeharto dan Keluarga Cendana

Kedua pemimpin yang menganggap dirinya raja tersebut, terjebak pada halusinasi bahwa dirinya punya kekuasaan mutlak. Tak ada pemisahan antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Sebagai eksekutif puncak, "Raja" Jokowi merasa berhak cawe-cawe pada lembaga apa pun yang ada di negeri miliknya. 

Karena itulah di posisi mana pun, cawe-cawe adalah keniscayaan. Dampaknya demokrasi rusak, ekonomi terpuruk, dan politik hancur. Keduanya lupa bahwa eksekutif itu tugasnya untuk melayani rakyat. Bukan melayani konglomerat dan  kerabat. 

Selamat Jalan, Salim Said. Semoga Tuhan memberimu tempat terbaik di surga. 

Baca Juga: Dirjen Kominfo Usman Kansong: Salim Said Merupakan Sosok Teladan Bagi Wartawan Modern

(Oleh: Syaefudin Simon, kolumnis) ***

Halaman:

Berita Terkait