Erros Djarot, Pemberhentian Prabowo 1998, dan Perintah Penculikan Aktivis

Prabowo Subianto.

Prabowo Subianto.

Review Buku

Erros Djarot. Autobiografi Erros Djarot 3. (Editor: M. Anis, Kukuh Bhimo Nugroho). Penerbit: Lingkar Budaya Cerdas, Jakarta, 2026. Tebal: 802 hlm.

ORBITINDONESIA.COM - Sesudah peluncuran buku Autobiografi Erros Djarot 1 pada 19 Oktober 2025, tahun 2026 ini Erros meluncurkan Autobiografi Erros Djarot 2 dan 3. Erros adalah seniman yang politisi, atau politisi yang seniman. Ia adalah pengarang lagu, penulis, sutradara, pemimpin redaksi tabloid DëTIK yang dibredel rezim Orde Baru pada Juni 1994.

Pada saat yang sama, ia juga dikenal sebagai aktivis nasionalis. Erros adalah pendukung gigih yang berjasa memenangkan Megawati Soekarnoputri menjadi Ketua Umum PDI dalam pertarungan politik era Soeharto, khususnya dalam Kongres Luar Biasa PDI di Surabaya 1993. Ia juga pernah menjadi tangan kanan dan orang kepercayaan Megawati di zaman krisis itu.

Buku Erros yang tebalnya 802 halaman ini mencakup begitu banyak hal, dan bisa dibaca dari berbagai macam aspek. Bagi peminat sinematografi, bisa mengulas tentang lika-liku pembuatan film Tjoet Nja’ Dhien, salah satu karya masterpiece Erros di mana ia menjadi sutradara. Film yang dibintangi Christine Hakim dan Slamet Rahardjo ini merebut delapan Piala Citra.

Bagi para pendukung PDI Perjuangan dan pengamat politik nasional, lewat buku ini bisa mendalami latar belakang kelahiran PDI Perjuangan, lika-liku dinamika internal di dalam “kubu banteng” itu, termasuk konflik-konfliknya yang menyangkut personal.

Yang menarik juga, dengan prinsip “pertemanan di atas politik,” Erros yang secara politik berseberangan dengan Soeharto waktu itu, justru punya hubungan pertemanan yang dekat dengan putra Pak Harto, Bambang Trihatmojo. Juga, dengan menantu Pak Harto sekaligus putra begawan ekonomi Prof. Soemitro Djojohadikusumo, Prabowo Subianto.

Dalam ulasan atau cuplikan buku ini, saya ingin fokus pada hubungan Erros dengan Prabowo, yang sempat menjadi Komandan Jenderal Kopassus. Pada 20 Maret 1998, Prabowo diangkat menjadi Panglima Kostrad. Ini adalah masa krusial sebelum Reformasi Mei 1998, yang diwarnai dengan pergolakan politik dan perlawanan civil society terhadap Soeharto.

Setelah jatuhnya Soeharto, Prabowo diberhentikan dari dinas militer TNI berdasarkan rekomendasi Dewan Kehormatan Perwira (DKP), Agustus 1998. Ia dinilai terlibat dalam kasus penculikan dan penahanan aktivis pro-demokrasi oleh Tim Mawar Kopassus serta melanggar prosedur, hierarki, dan disiplin militer.

Erros sendiri, sesudah tabloid DëTIK dibredel, lalu mendirikan DëTAK dengan semangat yang sama untuk memberi pencerahan kepada bangsa. Pada 6 September 1998, Erros mewawancarai Prof. Soemitro di rumahnya Jl. Kertanegara, Kebayoran Baru, terkait pemberhentian Prabowo.

Saat itu Soemitro mengungkapkan kesedihan dan kekecewaannya atas perlakuan terhadap Prabowo yang dianggapnya tidak fair. Penyelidikan atas kasus penculikan aktivis dianggapnya tidak menyeluruh, tidak mencakup pihak lain yang bertanggung jawab, pihak yang sangat berkuasa di atas Prabowo.

Atas anjuran Soemitro pula, Erros merasa perlu menemui dan bicara langsung sebagai teman dengan Prabowo. Dan karena Erros juga mewakili DëTAK, ia ingin sekaligus mewawancarai. Wawancara akhirnya dilakukan Erros di rumah Prabowo, yang tak jauh dari kediaman Pak Harto di Jl. Cendana, Jakarta.

Waktu itu, dengan wajah ceria, Prabowo menyambut Erros. Prabowo memanggil Erros dengan sebutan “Mas.” Selisih usia mereka cuma setahun. Tahun 1998 itu, usia Prabowo 47 tahun, Erros 48 tahun.

Setelah omongan basa-basi panjang, barulah masalah inti dibuka sebagai tema pembicaraan. Prabowo sudah mulai berdiri dan mondar-mandir sambil bicara.

“Lu dah denger dari my Dad kan tentang diri gue?” tanya Prabowo.

“Sebagian sudahlah,” jawab Erros.

“Gila kan, Mas? Fitnahnya bertubi-tubi. Bahkan ada yang sampai nebarin isu, gue berencana melakukan makarlah, otak kerusuhan dan dalangnya penculikan para aktivis, dan masih banyak lagilah.”

“Sebenernya gimana sih, Wo?”

“Hey Mas, soal penculikan, kepentingan apa buat pribadi gue nyulik para aktivis itu? Pikir dong pake akal sehat. Aku ini militer, Mas. Sebagai prajurit, gak mungkin gue bisa menolak perintah atasan.”

“KASAD yang memerintahkan?”

“Kalau hanya KASAD, gue masih bisa argumenlah.”

“Kalau gitu Panglima ABRI?”

“Ini operasi sangat rahasia dan sangat khusus. Dia mungkin tahu, tapi mana mungkin dia langsung memerintahkan gue untuk tugas khusus ini?”

“Jadi lebih tinggi dari Panglima ABRI dong?”

You’ve got my point. Bisa gue nolak?!”

Sesuai yang diungkapkan Erros dalam bukunya, ketika berkata begitu wajah Prabowo tampak bersungut-sungut. Ia tanpa sadar telah berkali-kali berjalan bolak-balik di ruangan yang tak begitu besar itu.

“Gilanya Mas, suatu hari gue dipanggil, gue langsung menghadap. Waktu gue masuk ruang kerjanya, gue lihat Jenderal Konyol itu sudah berdiri di pojokan. Jadi hanya ada Presiden, Jenderal Konyol itu, dan gue. Hati gue sudah gak enak, pasti ada sesuatu yang akan disampaikan Presiden ke gue. Bener aja, seperti disambar petir, tiba-tiba Presiden mengatakan bahwa mulai saat itu, urusan para aktivis yang diculik bukan lagi urusan gue, tapi sudah menjadi urusan yang berdiri di pojokan itu. Tanggung jawab dan pengawasan, sepenuhnya diambil alih oleh Jenderal Konyol itu.”

“Langsung digantikan?”

“Seketika, Mas. Gimana gak kesal gue?”

“Tapi pasti ada sebabnya dong?”

“Ini versi gue ya. Mungkin yang dianggap sebagai kesalahan gue yang sangat fatal, ya ketika salah menerjemahkan perintah.”

“Perintah apa?”

Erros mendesak Prabowo untuk menceritakan peristiwa itu, tapi tak segera dijawab. Prabowo seperti sedikit ragu untuk menceritakannya.

“Presiden bilang ke gue, kamu selesaikanlah para aktivis yang diculik itu!”

“Masak hanya gara-gara perintah itu?”

“Soalnya perintah itu, gue terjemahkan menurut versi gue dong? Ada sembilan aktivis yang kita sekap. Karena gue lihat mereka baik dan tidak berbahaya, sembilan aktivis itu gue lepas bebas dengan baik dan damai.”

“Bagus dong itu?”

“Buat lu begitu kan? Tapi rupanya itu justru kesalahan gue rupanya. Karena kata ‘selesaikan’ ternyata merupakan perintah yang memiliki arti dan tujuan lain.”

“Mengapa bisa menyimpulkan begitu?”

“Gini aja deh. Mereka yang sembilan orang gue lepasin, mereka hidup bebas sekarang, dan mereka semua secara fisik sehat semua kan? Sisa yang lainnya, masih belasan oranglah, ke mana? Sampai sekarang belum tahu kan? Gue aja gak sepenuhnya tahu. Tanyakan aja sama si Jenderal Konyol itu.”

Prabowo mengatakan hal ini dengan semangat yang terpompa oleh emosi memuncak. Suasana pun mendadak hening. Erros tidak tahu lagi, apa yang ingin ia gali lebih dalam dari Prabowo.

“Jadi Mas, fitnah yang mereka sebar luar biasa kejamnya. Mentang-mentang mereka tahu gue punya ambisi untuk memiliki bintang empat di pundak ini, mereka menyebar kebusukan itu.”

Nada bicara Prabowo mulai tenang, walau raut wajahnya masih tampak menyimpan luka batin teramat dalam.

“Wajar kan kalo gue bercita-cita memiliki bintang empat di pundak? Gue yakin semua tentara pasti mendambakan hal itu. Gue bukan orang munafik, gue juga boleh dong bercita-cita begitu. Tapi gue ini seorang militer yang taat perintah. Dan code of conduct seorang militer sebagaimana perintah Konvensi Geneva, pantang bagi militer bersenjata menghabisi para civilian yang dalam keadaan tak bersenjata, sekali pun dalam keadaan perang. Apalagi dalam keadaan tidak perang. Jadi kalau gue suruh menghabisi para aktivis, para civilian yang tak bersenjata, secara moral tentara yang taat code of conduct, gak mungkin bisa dan akan dilakukan oleh seorang Prabowo Subianto, Mas. You can keep my word for that, Mas!”

Sesaat keadaan seisi ruangan menjadi hening. Dalam benak, Erros sempat mengagumi sikap Prabowo.

“Jadi perintah melakukan penculikan itu datang dari Big Boss, ya?”

Only between you and me ya, yes!”

Erros terkejut. Untuk sesaat Erros terdiam lagi. Suasana jadi hening. Erros dan Prabowo saling pandang.

“Tapi herannya, kenapa Haryanto Taslam dan Desmond diculik? Harusnya aku kan yang lebih pas? Aku tangan kanan Megawati?”

“Gini deh, Mas. Saya gak pernah lho ke rumah Mas Erros. Bilang bener atau salah. Di rumah Mas Erros itu, di belakangnya ada studio musik. Di depan pintu masuk studio, ada meja kaca bulat, kursi, dan di atas meja itu ada lampu gantung yang tutupnya warna-warni. Betul gak?”

Ditanya dengan gambaran yang begitu akurat, Erros sempat terperangah. Terkejut. Kagum dan kembali terdiam.

“Jadi observasi dan rencana sudah matang,” tambah Prabowo.

“Hebat, Wo. Kok bisa akurat begitu?”

“Emangnya anak buah Mas Erros bersih semua? Dari mana saya bisa tahu kalau bukan dari salah satu anak buah Mas?”

Mendengar jawaban Prabowo, muka Erros langsung merah.

“Kalau itu perintah Big Boss, kenapa aku gak diculik?”

“Begini, Mas. Beliau sempat bilang ke gue, ‘Itu yang seniman kawan Bambang, gak usah dulu.’ Kalau gak ada perkataan itu dari beliau, pastilah lu juga gue culik, Mas.”

Mendengar alasan Prabowo, bulu kuduk Erros berdiri. Rasa hormat Erros kepada Bambang Trihatmodjo, sahabatnya, begitu tinggi. Erros merasa, ternyata tidak salah kalau sampai hari ini, ia tetap menjalin persahabatan dengan Bambang dalam kondisi apapun.

Lebih dari dua jam Erros berada di rumah Prabowo. Saat keluar dari rumah Prabowo, dalam pikiran Erros berkecamuk rentetan peristiwa penculikan Haryanto Taslam, Desmond Mahesa, dan kawan-kawan yang lain, muncul silih berganti.

Sebagai jurnalis, apalagi dalam kedudukan sebagai pemimpin redaksi, hasrat untuk menuliskan semua yang terjadi dalam pertemuan dengan Prabowo untuk dijadikan berita begitu menggoda Erros. Tetapi sebagai kawan yang dipercaya, Erros merasa tidak mungkin tega melakukannya.

Apalagi teringat betapa dengan penuh kehati-hatian, ketika satu pertanyaan sangat sensitif ia ajukan kepada Prabowo, Prabowo hanya menjawab dengan satu kalimat singkat yang sangat serius, “Only between you and me ya, yes!”

Jawaban Prabowo inilah yang akhirnya membuat Erros mengambil keputusan untuk tidak mempublikasikannya, terutama yang berkaitan dengan sosok Pak Harto.

Pak Harto secara hukum masih sebagai mertua Prabowo, dan ia baru saja dipecat dan dikorbankan. Pernyataan Prabowo yang mengejutkan itu bisa saja dianggap sebagai luapan kemarahan dan upaya membalas dendam.

Pernyataannya tentang Pak Harto berkaitan dengan penculikan, Erros sadari, tentu akan menjadi berita besar yang sangat sensasional. DëTAK akan diburu sebagai bacaan apabila menurunkan berita tersebut, pasti akan menggelembungkan oplahnya.

“Tapi apalah arti melambungnya oplah penjualan tabloid DëTAK, dibandingkan hilangnya sebuah kepercayaan dari seorang kawan baik yang telah memberi kepercayaan kepada saya,” tulis Erros dalam autobiografinya. Kepercayaan yang begitu besar.

Sempat muncul dalam pikiran Erros, toh suatu hari kelak, cepat atau lambat, masalah sensitif ini pasti terkuak juga. Tapi yang penting bukan DëTAK yang melempar beritanya kepada publik. Maka Erros putuskan, bahwa apa yang telah disampaikan Soemitro Djojohadikusumo, ayah Prabowo Subianto, secara implisit sudah cukup untuk mewakilinya. Wawancara dengan Soemitro itu sudah dipublikasikan utuh, tidak ditambah dan tidak dikurangi.

Kisah wawancara eksklusif dengan Soemitro dan Prabowo ini termuat di buku autobiografi Erros. Karena konstelasi politik dan situasi nasional 2026 sudah jauh berbeda dengan 1998, tampaknya Erros menganggap, sudah tidak masalah jika wawancara lama yang tidak dipublikasikan waktu itu kini dibuka ke publik.

Sebetulnya masih banyak kisah lain yang menarik dari buku Erros. Saya tak ingin berkomentar banyak. Saya hanya menegaskan, jika Anda ingin jadi pengamat atau ingin mendalami dinamika politik nasional secara serius, autobiografi Erros Djarot ini adalah buku yang wajib dibaca. #  

*Satrio Arismunandar, salah satu pendiri AJI (Aliansi Jurnalis Independen) dan Dewan Pimpinan Pusat SBSI (Serikat Buruh Sejahtera Indonesia) di era Orde Baru. Mantan jurnalis Harian Kompas dan Produser Eksekutif Divisi News Trans TV. ***