ACFFEST 2026 dan Ruang Nonton Hadirkan Ruang Nonton Publik untuk Mendorong Percakapan Sosial Lewat Film

Jakarta — Anti-Corruption Film Festival (ACFFEST) 2026 bersama komunitas Ruang Nonton kembali menghadirkan program Ruang Nonton Publik pada Sabtu, 23 Mei 2026 di Gripa Studio, Jakarta Selatan. Kegiatan ini menjadi ruang bertemu lintas generasi dan lintas profesi untuk menonton, berdiskusi, serta menggali berbagai perspektif sosial melalui media film.

Mengusung tema ACFFEST 2026, “Dari Lensa, Integritas Terjaga!”, kegiatan ini dihadiri lebih dari 150 peserta yang terdiri dari sineas muda, mahasiswa, komunitas kreatif, hingga masyarakat umum. Melalui pendekatan yang santai dan interaktif, Ruang Nonton Publik mendorong terciptanya ruang diskusi yang hidup dan menyenangkan mengenai isu sosial dan nilai integritas di tengah masyarakat.

Dalam kegiatan ini, peserta menonton tiga film pendek, yaitu Review Klinik Baru, How to Be an Actor, dan Air Mata Penyesalan. Ketiga film tersebut menghadirkan berbagai sudut pandang mengenai realitas sosial, perilaku koruptif, serta dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Ruang Nonton Publik turut menghadirkan dua sineas muda, Irfan Ramli dan Mizam Fadhilah, yang berbagi pengalaman mengenai proses kreatif dalam membuat film bertema sosial. Diskusi membahas bagaimana ide-ide sederhana dari fenomena sehari-hari dapat diterjemahkan menjadi karya audiovisual yang dekat dengan publik sekaligus memiliki pesan yang kuat.

Dalam sesi diskusi, Mizam Fadhilah menyampaikan bahwa perdebatan mengenai idealisme dan selera penonton akan selalu ada dalam dunia perfilman. Namun menurutnya, yang paling penting bagi seorang pembuat film adalah memahami tujuan dan siapa audiens yang ingin disasar. “Kalau ngomongin soal idealisme versus selera penonton nggak akan ada habisnya. Yang penting kita sebagai movie maker tahu dulu apa yang mau diraih dan siapa yang mau disasar,” ujar Mizam.

Sementara itu, Irfan Ramli menyoroti bagaimana sebuah film pada akhirnya akan hidup melalui interpretasi penontonnya. “Film itu ketika sudah tayang, sudah menjadi milik penonton atau publik. Bagaimana sebuah karya diterima dan diartikan itu tergantung interpretasi penonton,” ungkap Irfan.

Turut hadir pula Morana Angelica, Putri Indonesia Sumatera Utara 2 2025 yang membagikan pengalamannya sebagai penonton yang merasa dekat dengan pesan dalam sebuah film. Ia mencontohkan bagaimana film Laskar Pelangi menjadi karya yang membekas baginya karena nilai yang dibawa terasa relevan secara personal. “Film bisa ‘tinggal’ di diri aku karena ada poin relate dari sisi value yang diberikan. Aku sampai nonton Laskar Pelangi sepuluh kali di bioskop karena aku suka banget dengan pesannya, terutama bagaimana film itu menjaga mimpi aku,” tutur Morana.

Dalam kesempatan yang sama, Halim Nuswantoro menegaskan bahwa film dapat menjadi medium edukasi antikorupsi yang lebih segar dan dekat dengan generasi muda.

“Pencegahan korupsi tidak harus selalu disampaikan dengan cara yang formal dan berat. Film mampu menghadirkan refleksi melalui cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” jelas Halim.

Diskusi juga menyinggung bagaimana batas antara toleransi dan kebiasaan dalam masyarakat terkadang menjadi kabur akibat tekanan lingkungan sosial. Hal ini menjadi refleksi bersama mengenai pentingnya keberanian untuk tetap menjaga nilai integritas di tengah kebiasaan yang sudah dianggap lumrah. “Soal toleransi dan kebiasaan, kadang jadi sangat tipis perbedaannya di masyarakat karena ada tekanan dari lingkungan sekitar untuk mentoleransi atau membenarkan suatu perbuatan tertentu yang akhirnya menjadi kebiasaan,” ujar Halim Nuswantoro.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang acara berlangsung. Diskusi berjalan aktif dengan berbagai pertanyaan dan pandangan mengenai peran film dalam membangun kesadaran sosial serta pentingnya kolaborasi lintas komunitas untuk menciptakan budaya antikorupsi yang lebih dekat dengan masyarakat.

Melalui program Ruang Nonton Publik, ACFFEST 2026 dan Ruang Nonton berharap film dapat terus menjadi medium percakapan yang relevan bagi publik, sekaligus menghadirkan ruang diskusi yang terbuka, reflektif, dan menyenangkan untuk membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya integritas dalam kehidupan sehari-hari.