Ali Samudra: Masjid Sebagai Pusat Peradaban - Mengapa Masjid Perlu Berbicara tentang Sepak Bola?

Ali Samudra, Pembina Yayasan Masjid Baitul Muhajirin - Jakarta Timur.

Ali Samudra, Pembina Yayasan Masjid Baitul Muhajirin - Jakarta Timur.

Opini

MASJID SEBAGAI PUSAT PERADABAN: Mengapa Masjid Perlu Berbicara tentang Sepak Bola?

Oleh Ali Samudra

ORBITINDONESIA.COM - Pada Senin dini hari, 20 Juli 2026 waktu Indonesia, perhatian miliaran manusia akan tertuju ke MetLife Stadium, New Jersey, Amerika Serikat. Di stadion inilah Argentina dan Spanyol bertemu pada partai final Piala Dunia FIFA 2026 edisi ke-23 untuk memperebutkan trofi sepak bola paling bergengsi di dunia.

Selama sembilan puluh menit -atau bahkan lebih- manusia dari berbagai bangsa, agama, bahasa, dan budaya akan menyaksikan pertandingan yang sama. Sulit mencari peristiwa lain yang mampu menyatukan perhatian umat manusia sebesar Piala Dunia.

Bagi sebagian orang, sepak bola hanyalah hiburan. Bagi yang lain, ia adalah industri bernilai miliaran dolar. Ada yang melihatnya sebagai olahraga, ada pula yang menjadikannya simbol identitas bangsa.

Namun, bagi seorang Muslim, fenomena sebesar ini menghadirkan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah sepak bola hanya layak dipandang sebagai tontonan, atau justru dapat dibaca sebagai salah satu "ayat kehidupan" yang menyimpan pelajaran tentang manusia, karakter, dan peradaban?

-000-

Ungkapan "Masjid sebagai pusat peradaban" ini begitu sering kita dengar dalam berbagai seminar, khutbah, dan diskusi keislaman. Hampir semua orang menyetujuinya. Akan tetapi, ketika ditanya apa yang dimaksud dengan "pusat peradaban", jawaban yang muncul sering kali masih terbatas pada memakmurkan masjid melalui shalat berjamaah, pengajian, pendidikan Al-Qur'an, dan kegiatan sosial.

Semua itu tentu merupakan fungsi utama masjid. Namun, bila pemahaman kita berhenti di sana, sesungguhnya kita baru menyentuh sebagian kecil dari misi besar masjid dalam Islam.

Mengapa masjid perlu berbicara tentang sepak bola. Bukan karena sepak bola lebih penting daripada shalat, melainkan karena sepak bola telah menjadi bahasa universal manusia modern. Melalui olahraga ini, miliaran orang berbicara tentang kerja sama, kepemimpinan, strategi, disiplin, sportivitas, kemenangan, dan kekalahan.

Ketika dunia sedang berbicara dengan bahasa itu, Islam tidak boleh hanya menjadi penonton. Islam harus hadir memberikan perspektif, makna, dan arah.

Al-Qur'an sejak awal telah mengajarkan manusia untuk membaca alam dan kehidupan sebagai tanda-tanda kebesaran Allah. Langit, bumi, hujan, gunung, lautan, perjalanan sejarah, hingga pergantian malam dan siang dijadikan bahan renungan bagi orang-orang yang menggunakan akalnya. Seluruh kehidupan adalah "kitab terbuka" yang dapat dibaca oleh ulul albab.

Karena itu, membaca sepak bola melalui perspektif Al-Qur'an bukanlah mengagungkan olahraga, melainkan berusaha menemukan hikmah Allah di balik salah satu fenomena terbesar dalam peradaban modern.

-000-

Menariknya, Piala Dunia FIFA 2026 juga menghadirkan fenomena yang layak dicermati. Dari 48 negara peserta, sekitar 14 negara merupakan negara dengan mayoritas penduduk Muslim, atau hampir sepertiga dari seluruh peserta. Ini merupakan representasi terbesar negara-negara Muslim dalam sejarah penyelenggaraan Piala Dunia.

Fakta tersebut tentu tidak otomatis menunjukkan bahwa dunia Islam telah bangkit. Kemajuan sebuah peradaban tidak pernah diukur hanya dari prestasi olahraga. Namun, fenomena ini tetap menarik untuk direnungkan. Mengapa semakin banyak negara mayoritas Muslim mampu tampil di panggung sepak bola dunia?

Walaupun olahraga bukan ukuran tunggal kemajuan sebuah bangsa, ia sering menjadi cerminan kualitas pendidikan, pembinaan generasi muda, kedisiplinan, kesehatan, ilmu pengetahuan, dan tata kelola yang dibangun selama puluhan tahun.

Sepak bola modern tidak dimenangkan oleh bakat semata. Di balik sebelas pemain yang tampil di lapangan berdiri ribuan orang yang bekerja dalam satu sistem: guru, pelatih, akademi pemain muda, dokter olahraga, ahli gizi, psikolog, ilmuwan, analis data, manajemen yang profesional, hingga budaya disiplin yang ditanamkan sejak usia dini. Kemenangan di lapangan sesungguhnya adalah puncak dari kemenangan sebuah sistem.

-000-

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Kecintaan masyarakat terhadap sepak bola juga luar biasa. Stadion selalu dipenuhi penonton, dan hampir di setiap sudut negeri anak-anak bermain bola dengan penuh kegembiraan. Akan tetapi, kecintaan saja tidak pernah cukup untuk melahirkan prestasi.

Sebagaimana kecintaan kepada agama tidak otomatis melahirkan peradaban yang maju, kecintaan kepada sepak bola juga tidak otomatis menghasilkan tim nasional yang tangguh. Prestasi hanya lahir apabila semangat disertai pendidikan yang berkualitas, pembinaan yang berkelanjutan, disiplin yang kuat, serta kepemimpinan yang jujur dan profesional.

Persoalan Indonesia sesungguhnya tidak hanya tampak di lapangan hijau. Sepak bola hanyalah cermin kecil dari persoalan yang lebih besar. Ketika budaya membaca masih lemah, ketika pendidikan belum sepenuhnya melahirkan manusia yang berpikir kritis dan berkarakter, ketika profesionalisme sering dikalahkan oleh kepentingan jangka pendek, maka dampaknya akan terlihat di mana-mana: dalam ekonomi, birokrasi, politik, ilmu pengetahuan, bahkan olahraga.

Dengan demikian, persoalan sepak bola Indonesia sesungguhnya bukan semata-mata persoalan olahraga. Ia merupakan refleksi dari kualitas pendidikan, karakter, dan tata kelola bangsa. Lapangan hijau hanya memperlihatkan apa yang sesungguhnya telah dibangun jauh sebelumnya.

-000-

Islam tidak pernah mengajarkan umatnya menjauh dari kehidupan. Sebaliknya, Al-Qur'an mengajak manusia membaca setiap fenomena kehidupan sebagai jalan untuk mengenal kebesaran Allah.

Karena itu, seorang Muslim tidak hanya melihat sepak bola sebagai permainan sebelas lawan sebelas. Ia melihatnya sebagai metafora tentang kehidupan: tentang amanah, perjuangan, kerja sama, kepemimpinan, kesabaran, strategi, dan tujuan.

Di sinilah Al-Qur'an memberikan perspektif yang sangat mendalam.                              

Allah SWT berfirman: "Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, dan berlomba-lomba dalam kekayaan serta anak keturunan..." (QS. Al-Hadid [57]:20).

Ayat ini sering dipahami secara keliru seolah-olah Islam mengajak manusia menjauhi dunia. Padahal, yang dikoreksi Al-Qur'an bukanlah dunia, melainkan cara manusia memandang dunia.

Islam tidak melarang manusia menjadi kaya, menjadi pemimpin, menjadi ilmuwan, menjadi atlet, atau meraih prestasi setinggi-tingginya. Yang diperingatkan adalah jangan sampai semua itu berubah menjadi tujuan akhir kehidupan.

Dunia adalah sarana, bukan tujuan. Prestasi adalah amanah, bukan alasan untuk menyombongkan diri. Kekayaan adalah titipan, bukan ukuran kemuliaan. Dengan kata lain, Al-Qur'an mengingatkan agar manusia tidak terpesona oleh simbol, lalu melupakan hakikat yang ingin dicapai.

Betapa banyak manusia yang berhasil "menguasai bola", tetapi lupa ke mana arah gawang yang harus dituju. Mereka mengumpulkan kekayaan tanpa kepedulian, mengejar jabatan tanpa tanggung jawab, mencari popularitas tanpa manfaat, atau memburu kekuasaan tanpa keadilan. Akibatnya, mereka sibuk memainkan dunia, tetapi kehilangan tujuan hidupnya.

Inilah sebabnya Al-Qur'an mengingatkan bahwa dunia adalah arena pertandingan, bukan tujuan pertandingan.

Namun memiliki tujuan hidup yang benar saja belum cukup. Al-Qur'an juga mengajarkan bahwa cita-cita tidak pernah terwujud tanpa usaha yang sungguh-sungguh.

Allah SWT berfirman: "Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." (QS. An-Najm [53]:39).

Ayat ini merupakan salah satu hukum terbesar dalam pembangunan manusia dan peradaban. Allah tidak menjanjikan keberhasilan kepada mereka yang hanya pandai bermimpi atau mengeluh. Allah mengajarkan bahwa hasil mengikuti ikhtiar. Doa, tawakal, dan optimisme harus berjalan bersama ilmu, kerja keras, disiplin, dan ketekunan.

-000-

Semakin tinggi level pertandingan, semakin kecil ruang untuk melakukan kesalahan. Semakin tinggi cita-cita seseorang, semakin berat tantangan yang dihadapinya. Tidak ada bangsa maju tanpa disiplin yang dibangun selama puluhan tahun. Inilah sunnatullah yang berlaku bagi seluruh manusia.

Karena itu, Islam tidak mengajarkan umatnya menghindari persaingan. Al-Qur'an justru memperkenalkan konsep fastabiqul khairat - berlomba-lombalah dalam kebaikan. Kompetisi bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Yang harus dihindari adalah kompetisi yang dibangun di atas kecurangan, kesombongan, dan ketidakjujuran.

Sepak bola kembali memberikan pelajaran yang sangat berharga. Tidak ada pemain yang mampu memenangkan pertandingan seorang diri.

Bahkan pemain terbaik di dunia tetap membutuhkan pelatih, rekan setim, dokter, ahli gizi, analis pertandingan, dan dukungan organisasi yang sehat. Kemenangan adalah hasil kerja sama, bukan kehebatan individu semata.

-000-

Masjid memang tidak mengajarkan teknik menggiring bola atau menyusun formasi permainan. Akan tetapi, masjid memiliki tugas yang jauh lebih besar: membentuk manusia yang memiliki akhlak, integritas, kecintaan kepada ilmu, etos kerja, dan tanggung jawab sosial.

Apabila karakter itu tumbuh, manfaatnya tidak hanya terlihat di ruang ibadah. Ia akan tampak di sekolah, di pasar, di kantor, di laboratorium, di ruang sidang, di parlemen, di dunia usaha, bahkan di lapangan hijau.

Masjid bukan hanya tempat manusia belajar bersujud kepada Allah, tetapi juga tempat membangun cara berpikir yang benar dalam menghadapi seluruh persoalan kehidupan.

Dari masjid seharusnya lahir manusia yang mampu menghadirkan nilai-nilai Islam dalam ilmu pengetahuan, ekonomi, pendidikan, teknologi, seni, olahraga, dan seluruh bidang kehidupan.

Itulah sebabnya masjid perlu berbicara tentang sepak bola, bukan untuk menjadikan olahraga sebagai pusat perhatian umat, melainkan untuk menunjukkan bahwa Islam mampu membaca setiap fenomena kehidupan dengan cahaya wahyu. Bagi seorang mukmin, lapangan hijau pun dapat menjadi ruang tadabbur yang mengingatkan bahwa kemenangan sejati bukan sekadar mengangkat trofi, melainkan memenangkan diri sendiri dari kemalasan, kesombongan, ketidakjujuran, dan keputusasaan.

Pada akhirnya, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling keras bersorak di stadion, melainkan bangsa yang paling serius membangun manusia. Dan pembangunan manusia selalu dimulai dari cara berpikir yang benar. Di situlah hakikat masjid sebagai pusat peradaban.***

 Pondok Kelapa, 18 Juli 2026

Pengantar Diskusi Ba'da Sholat Jum'at, 17 Juli 2026, masjid Baitul Muhajirin - Pondok Kelapa - Jakarta Timur)

*Ali Samudra, Pembina Yayasan Masjid Baitul Muhajirin - Jakarta Timur. ***