Self-Care Reset: Riset Ungkap Amerika Butuh Istirahat Sederhana

The Grand Junction Daily Sentinel

The Grand Junction Daily Sentinel

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Self-care reset kini jadi kata kunci yang dicari banyak orang, dan riset terbaru menunjukkan dua pertiga warga Amerika merasa “sudah telat” untuk memulainya. Namun di tengah tren rutinitas self-care berlapis, mayoritas justru menginginkan perawatan diri sederhana yang realistis dan tidak menambah beban.

Survei terhadap 2.000 warga Amerika menemukan 65% merasa “overdue” untuk melakukan reset, tetapi waktu yang tersedia tidak sejalan dengan kebutuhan. Hanya 35% yang mencoba mempraktikkan self-care, dan mereka mengaku kesulitan mencari waktu.

Orang ingin mengisi ulang energi, bahkan rata-rata menginginkan momen untuk diri sendiri sekitar enam kali per hari. Ironisnya, 46% tetap merasa bersalah ketika benar-benar mengambil waktu itu.

Riset ini dikomisioningkan oleh Simply dan dilakukan Talker Research, sehingga konteks komersial perlu dibaca dengan waspada. Meski begitu, angka-angka yang muncul memotret ketegangan yang akrab: kebutuhan pulih bertabrakan dengan budaya serba produktif.

Di era algoritma, inspirasi self-care membanjir, dan 65% responden mengaku mengikuti tren rutinitas online. Tetapi tren itu sering terasa seperti pekerjaan tambahan, karena 21% merasa kewalahan dan 18% menilai terlalu rumit.

Yang menarik, hanya 38% menyebut self-care sebagai bagian konsisten dari rutinitas harian. Ini menandakan bukan sekadar kurang niat, melainkan ada hambatan struktural: waktu, energi, dan rasa bersalah.

Ketika ditanya aktivitas yang dianggap self-care, jawaban teratas justru “istirahat beberapa menit” dengan 51%. Menonton sesuatu yang disukai (47%) atau mendengarkan sesuatu yang disukai (42%) menyusul sebagai bentuk pemulihan yang paling mudah diakses.

Self-care juga muncul dalam bentuk konsumsi kecil yang akrab: menikmati makanan favorit (40%) atau menyeruput minuman favorit (37%). Polanya jelas, pemulihan paling populer adalah yang cepat, murah, dan bisa dilakukan di sela hari.

Temuan kunci lainnya, 76% responden sepakat rutinitas self-care sederhana adalah yang terbaik. Hampir separuh, 48%, mengaku cukup butuh 45 menit atau kurang per hari untuk merasa “penuh” kembali.

Aundrea Graver, Senior Brand Director Simply Beverages, menegaskan narasi “less is more” dalam perawatan diri. “There’s something powerful about realizing that the things that actually restore us aren’t complicated,” ujarnya, sambil mencontohkan rutinitas sederhana seperti menikmati segelas lemonade.

Di sini, data bertemu strategi pesan merek, dan pembaca perlu membedakan antara kebutuhan psikologis dan cara industri mengemasnya. Namun, bahkan jika ada kepentingan promosi, preferensi responden tetap menunjukkan satu hal: orang lelah pada tuntutan “self-improvement” yang tak ada habisnya.

Dimensi nostalgia juga kuat, karena 45% mengatakan sebagian besar hal kecil yang mengangkat mood mereka berakar dari kesenangan masa kecil. Bentuknya konkret: menonton tayangan favorit masa kecil (53%), meraih camilan favorit (46%), atau menuang minuman favorit yang memberi rasa nyaman (39%).

Nostalgia bekerja seperti jalan pintas emosi, karena memanggil memori aman ketika dunia terasa bising. Tetapi nostalgia juga bisa menjadi sinyal: orang tidak sekadar butuh hiburan, mereka butuh rasa “rumah” di tengah ritme hidup yang menekan.

Riset ini mengungkap paradoks modern: self-care dipromosikan sebagai solusi, tetapi sering dipaketkan sebagai proyek baru yang menuntut disiplin, alat, dan waktu. Ketika perawatan diri berubah menjadi daftar tugas, rasa bersalah justru tumbuh, dan tujuan “pulih” menjadi kabur.

Angka 46% yang merasa bersalah saat mengambil waktu untuk diri sendiri bukan sekadar persoalan individu yang kurang tegas. Itu cermin budaya kerja dan budaya sosial yang mengagungkan kesibukan, seolah jeda adalah kemewahan, bukan kebutuhan biologis.

Karena itu, “reset” yang dicari banyak orang tampaknya bukan spa, bukan rutinitas 10 langkah, dan bukan performa di media sosial. Reset yang dimaksud lebih mirip hak dasar: ruang hening, jeda singkat, dan izin untuk tidak produktif sesaat.

Namun ada risiko lain, ketika industri menangkap kelelahan publik dan menjual “kesederhanaan” sebagai komoditas baru. Kita perlu mengingat bahwa self-care paling kuat seringkali tidak berharga mahal, dan tidak memerlukan legitimasi tren.

Jika 48% merasa cukup dengan 45 menit atau kurang, maka masalahnya bukan pada panjang waktu, melainkan pada akses dan batas. Pertanyaannya bergeser: siapa yang punya kendali atas waktunya, dan siapa yang terus-menerus dipaksa menukar jeda dengan target.

Self-care reset, menurut survei ini, semakin terlihat sebagai kebutuhan massal, bukan gaya hidup eksklusif. Data menunjukkan orang ingin pulih dengan cara sederhana, tetapi terhalang waktu dan rasa bersalah yang dipelihara sistem.

Barangkali pelajaran paling relevan adalah ini: istirahat beberapa menit pun sah sebagai perawatan diri, selama kita mengakuinya tanpa malu. Jika kebahagiaan kecil sering berasal dari masa kecil, mungkin yang kita cari bukan masa lalu, melainkan rasa aman yang dulu pernah kita miliki.

Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa bukan “rutinitas self-care apa yang paling trendi,” melainkan “kapan terakhir kali kita memberi izin pada diri sendiri untuk berhenti.” (Orbit dari berbagai sumber, 14 Juni 2026)