Edhy Aruman: Editorial Intelligence - Ketika Ruang Redaksi Tidak Lagi Berpikir Sendiri

Ilustrasi ruang redaksi.

Ilustrasi ruang redaksi.

Opini

Oleh Edhy Aruman, wartawan senior, kolumnis Jam 6 Teng

ORBITINDONESIA.COM - Beberapa kali dalam dua tahun terakhir saya mendapat kesempatan menjadi peer reviewer untuk dua artikel yang akan diterbitkan di jurnal internasional bereputasi. Artikel pertama sudah terbit, sedangkan artikel kedua masih menunggu giliran untuk dipublikasikan.

Keduanya ditulis oleh peneliti yang berbeda, tetapi membahas tema yang hampir sama: bagaimana kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai masuk ke ruang redaksi dan mengubah praktik jurnalistik di Indonesia.

Pada waktu yang hampir bersamaan, seorang mahasiswa postgraduate LSPR yang saya bimbing sedang meneliti sesuatu yang tidak kalah menarik. Ia tidak bertanya apakah AI bisa menulis berita. Ia justru mengamati bagaimana wartawan senior memutuskan apakah sebuah naskah yang disusun dengan bantuan AI layak untuk diterbitkan.

Semakin saya membaca artikel-artikel ilmiah itu dan semakin sering berdiskusi dengan mahasiswa tersebut, semakin saya merasa bahwa kita sedang memperdebatkan hal yang keliru.

Selama ini kita sibuk bertanya, "Apakah AI akan menggantikan wartawan?"

Padahal, mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah:

"Siapa yang sebenarnya sedang memengaruhi cara editor mengambil keputusan?"

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun, jawabannya dapat menentukan masa depan jurnalisme.

Dulu, rapat redaksi hampir selalu dimulai dengan cerita para reporter. Mereka membawa hasil liputan, editor mengajukan pertanyaan, lalu bersama-sama menentukan berita mana yang paling penting bagi publik.

Hari ini suasananya mulai berubah.

Sebelum rapat dimulai, layar komputer sudah berbicara lebih dulu. Ada daftar topik yang sedang tren. Ada grafik perilaku pembaca. Ada rekomendasi judul. Ada prediksi jumlah klik. Bahkan ada perkiraan kapan berita sebaiknya dipublikasikan agar menjangkau lebih banyak orang.

Semua itu dihasilkan oleh AI.

Editor datang ke rapat bukan dengan tangan kosong, melainkan dengan berbagai rekomendasi yang disusun oleh algoritma.

Perubahan seperti itu bukan lagi cerita masa depan.

The Washington Post menggunakan AI untuk membantu pembaca memperoleh jawaban dari arsip berita yang telah diverifikasi redaksi. Reuters memanfaatkan AI untuk mentranskrip wawancara, menerjemahkan dokumen, dan mengolah informasi dalam jumlah besar. Associated Press telah lama mengotomatisasi laporan keuangan dan olahraga agar wartawannya memiliki lebih banyak waktu untuk mengerjakan liputan yang membutuhkan investigasi dan analisis. Bloomberg dan BBC juga mulai mengintegrasikan AI ke dalam berbagai proses editorial.

Kalau diperhatikan, tidak satu pun dari media itu menyerahkan ruang redaksinya kepada AI.

Mereka menyerahkan pekerjaan.

Bukan keputusan.

Di sinilah saya melihat paradoks yang jarang dibahas.

Semakin pintar AI membaca data, semakin besar godaan bagi manusia untuk berhenti membaca realitas.

Ketika algoritma mengatakan sebuah berita akan menjadi viral, apakah editor masih berani memilih berita lain yang mungkin hanya dibaca oleh sedikit orang, tetapi jauh lebih penting bagi masyarakat?

AI tidak akan pernah menjawab pertanyaan itu.

Karena AI tidak mengenal kepentingan publik.

AI hanya mengenal pola.

Teori gatekeeping yang diperkenalkan David Manning White lebih dari tujuh puluh tahun lalu menjelaskan bahwa editor adalah penjaga gerbang informasi. Mereka menentukan berita mana yang boleh masuk ke ruang publik dan mana yang tidak (White, 1950).

Shoemaker dan Vos kemudian menunjukkan bahwa keputusan tersebut dipengaruhi oleh nilai profesional, rutinitas organisasi, dan lingkungan sosial tempat media bekerja (Shoemaker & Vos, 2009).

Hari ini gerbang itu masih ada.

Editornya juga masih ada.

Yang berubah adalah kini ada "penasihat" baru yang setiap saat membisikkan rekomendasi.

Namanya algoritma.

Berbagai penelitian terbaru menunjukkan bahwa AI memang semakin banyak digunakan dalam proses jurnalistik. AI membantu mencari ide liputan, menyusun ringkasan, menulis draf awal, menyunting bahasa, hingga mendistribusikan berita kepada audiens.

Namun para peneliti juga sampai pada kesimpulan yang sama: keputusan editorial tetap harus berada di tangan manusia melalui pendekatan human-in-the-loop.

Penelitian lain bahkan menunjukkan bahwa seiring berkembangnya AI, semakin penting pula kemampuan yang tidak dimiliki mesin, yaitu intuisi, empati, kreativitas, dan tanggung jawab moral.

AI dapat mengenali pola dari miliaran data, tetapi belum mampu memahami mengapa sebuah berita kecil tentang warga miskin kadang lebih penting daripada berita yang sedang ramai diperbincangkan.

Semua itulah yang membuat saya merasa bahwa kita memerlukan cara pandang baru.

Selama ini kita hanya berbicara tentang Artificial Intelligence.

Padahal, yang sesungguhnya sedang diuji bukanlah kecerdasan mesin.

Yang sedang diuji adalah kecerdasan ruang redaksi.

Saya menyebutnya Editorial Intelligence.

Editorial Intelligence bukan teknologi baru.

Ia adalah kemampuan editor untuk menggunakan AI tanpa menyerahkan penilaiannya kepada AI.

Ia adalah keberanian untuk berkata, "Algoritma mungkin benar menurut data, tetapi belum tentu benar menurut kepentingan publik."

Di era ketika hampir semua keputusan dapat dihitung oleh mesin, mungkin kualitas jurnalisme tidak lagi ditentukan oleh seberapa canggih AI yang dimiliki sebuah media.

Kualitas jurnalisme justru ditentukan oleh kapan editor memutuskan untuk tidak mengikuti AI.

Pembaca tidak datang ke media hanya untuk memperoleh informasi.

Mereka datang karena percaya bahwa di balik setiap berita masih ada manusia yang berpikir.

Dan mungkin, itulah pekerjaan terakhir yang tidak akan pernah bisa sepenuhnya diambil alih oleh kecerdasan buatan.

Sebab bahaya terbesar AI bagi jurnalisme bukan ketika mesin mulai menulis berita, melainkan ketika editor berhenti meragukan jawaban mesin. ***