Balqis Humaira: Lamine Yamal Merobek Topeng Kemunafikan Industri Sepak Bola

Balqis Humaira dan Lamine Yamal.

Balqis Humaira dan Lamine Yamal.

Opini

Oleh Balqis Humaira

ORBITINDONESIA.COM - Gue selalu ngerasa lucu sekaligus muak tiap kali ngelihat kepanikan para komentator, petinggi FIFA, dan para pemuja industri olahraga tiap kali ada atlet yang berani menyuarakan isi kepalanya. Kemarin, Lamine Yamal, seorang bocah ajaib yang baru aja menginjak usia tujuh belas tahun, ngebawa selembar bendera Palestina ke tengah lapangan saat perayaan juara. Dan dalam hitungan detik, dunia langsung terbelah jadi dua.

Kita singkirkan dulu emosi murahan dan kita bedah kritik-kritik yang dilemparkan ke muka Yamal pakai pisau bedah sosiologi dan politik.

Kritik pertama dan yang paling sering dikumandangkan oleh para pengamat konservatif adalah: TOLONG JANGAN BAWA POLITIK KE DALAM SEPAK BOLA. SEPAK BOLA ITU NETRAL.

Dengerin gue baik-baik. Kalau lo masih percaya bahwa sepak bola modern itu ruang yang netral dan steril dari politik, berarti lo lagi hidup di dalam gua. SEPAK BOLA TIDAK PERNAH NETRAL.

Coba lo pikir pakai akal sehat. Ketika Piala Dunia digelar di negara-negara dengan catatan hak asasi manusia yang dipertanyakan, apakah itu bukan politik? Ketika klub-klub raksasa Eropa dibeli oleh lembaga dana abadi milik negara-negara Timur Tengah atau oligarki Rusia, apakah itu bukan politik? Ketika jersey pemain dipenuhi logo maskapai penerbangan pelat merah milik sebuah rezim, APAKAH ITU BUKAN POLITIK?

Industri sepak bola itu dari ujung rambut sampai ujung kaki berlumuran politik dan geopolitik. Mereka cuma berteriak soal netralitas KETIKA ISU POLITIK YANG DIBAWA ITU TIDAK SESUAI DENGAN KEPENTINGAN BISNIS MEREKA. Saat Yamal mengibarkan bendera itu, dia aslinya cuma merobek topeng kemunafikan industri tersebut. Dia mengubah panggung hiburan korporat menjadi mimbar kemanusiaan.

Lalu kita masuk ke kritik kedua, serangan dari media dan kelompok pro-Israel yang menuduh Yamal mengabaikan penderitaan satu pihak dan memilih berpihak di tengah konflik berdarah.

Di dalam ilmu semiotika atau ilmu tentang simbol, sebuah bendera itu maknanya sangat tergantung pada siapa yang melihatnya. Bagi kelompok pro-Israel, bendera itu dianggap sebagai ancaman eksistensial. Tapi bagi Yamal dan jutaan orang yang mendukungnya, bendera itu BUKANLAH SIMBOL DUKUNGAN TERHADAP KELOMPOK BERSENJATA ATAU FRAKSI POLITIK TERTENTU.

Bendera itu adalah SIMBOL PENDERITAAN UNIVERSAL. Itu adalah jeritan solidaritas untuk puluhan ribu warga sipil, anak-anak, dan ibu-ibu yang rumahnya hancur lebur jadi debu. Menuntut Yamal untuk memikirkan perasaan semua pihak di tengah genosida yang disiarkan secara langsung di media sosial adalah sebuah tuntutan yang cacat moral. Lo nggak bisa menyuruh seseorang untuk bersikap netral di hadapan tumpukan mayat anak kecil.

Sekarang coba kita bedah kritik ketiga, yang menurut gue adalah argumen yang paling konyol, paling merendahkan, dan paling elitis: YAMAL MASIH TERLALU MUDA UNTUK IKUT CAMPUR URUSAN GEOPOLITIK YANG KOMPLEKS.

Wow. Coba lo cerna kalimat itu. Di satu sisi, dunia menuntut seorang bocah belasan tahun untuk memikul beban ekspektasi ratusan juta penggemar di pundaknya. Dunia menuntut dia untuk memiliki mental baja, mengeksekusi penalti penentu, dan menjadi mesin pencetak gol di level kompetisi paling elit dan paling brutal di muka bumi. Dunia menganggap dia cukup dewasa untuk menandatangani kontrak jutaan Euro.

TAPI GILIRAN DIA PUNYA HATI NURANI, DUNIA TIBA-TIBA MENGANGGAP DIA SEBAGAI ANAK KECIL YANG NGGAK TAHU APA-APA.

Ini adalah bentuk kesombongan orang dewasa yang menjijikkan. Di era digital hari ini, anak umur tujuh belas tahun itu mengkonsumsi informasi geopolitik langsung dari sumbernya di TikTok dan Twitter setiap detik.

Menganggap Yamal harusnya cuma fokus nendang bola dan tutup mata sama pembantaian massal adalah bentuk perbudakan modern. Kalian mau bakatnya, tapi kalian mau membungkam otaknya. Kalau dia cukup dewasa untuk menjadi pahlawan di lapangan, maka dia SANGAT CUKUP DEWASA untuk memilih bendera kemanusiaan mana yang mau dia angkat.

Dan akhirnya, kita sampai pada kritik keempat, akar dari segala ketakutan di dunia sepak bola: KEKHAWATIRAN DAMPAK KOMERSIAL.

Nah, kalau yang ini gue harus akui, ini adalah realitas industri yang sangat dingin. Para kritikus yang ngomongin soal sponsor itu nggak lagi ngomongin soal moral, MEREKA LAGI NGOMONGIN SOAL PERPUTARAN UANG. Sepak bola adalah mesin kapitalisme global. Sponsor sepatu, sponsor minuman, merek-merek raksasa dunia, mereka sangat alergi sama yang namanya polarisasi. Mereka mau uang dari fans pro-Palestina, dan mereka juga mau uang dari fans pro-Israel.

Yamal dan tim manajemennya pasti tahu persis soal risiko ini. Sikap politik terbuka bisa bikin dia kehilangan kontrak iklan miliaran rupiah. Tapi justru di situlah letak harganya. KETIKA LO BERANI MENGAMBIL SIKAP YANG BISA MENGHANCURKAN MASA DEPAN KEUANGAN LO, DI DETIK ITULAH SIKAP LO BERUBAH MENJADI SEBUAH INTEGRITAS.

Yamal sedang menampar wajah para seniornya yang lebih memilih diam cari aman demi mempertahankan kontrak sepatu Nike atau Adidas mereka.

Sampai detik ini, Yamal memilih untuk diam seribu bahasa. Dia tidak menggelar konferensi pers, dia tidak bikin video klarifikasi yang menye-menye.

Dan secara strategi komunikasi, DIAMNYA YAMAL ADALAH SEBUAH MANUVER YANG SANGAT BRILIAN.

Dia membiarkan selembar kain itu yang berbicara. Dia membiarkan seluruh dunia berdebat, saling caci, dan saling beradu argumen. Di dalam dunia politik yang super berisik, diam itu sering kali memiliki daya ledak yang jauh lebih menghancurkan daripada teriakan di depan mikrofon.

Aksi Yamal ini pada akhirnya adalah sebuah alarm peringatan yang memekakkan telinga bagi seluruh korporasi sepak bola. Generasi baru atlet hari ini tidak lagi bisa dibeli jiwanya hanya dengan gaji miliaran rupiah setahun. Mereka menolak untuk dijadikan robot penghibur yang disuruh tutup mulut.

Sepak bola mungkin adalah olahraga yang dimainkan di atas rumput hijau yang dipotong rapi, tapi Yamal baru saja membuktikan bahwa rumput hijau itu juga bisa menjadi panggung paling megah untuk melawan tirani.

(Sumber: FB Balqis Humaira)