Misi BepiColombo Ungkap Misteri Planet Merkuri yang Aneh

ORBITINDONESIA.COM – Misi BepiColombo ke planet Merkuri bersiap memasuki fase kunci untuk membongkar misteri planet terkecil di tata surya. Dua wahana ESA dan JAXA dirancang mengurai teka-teki Merkuri, dari medan magnet yang janggal hingga komposisi permukaan yang tak lazim.

Merkuri adalah planet terkecil dan paling sedikit dieksplorasi di tata surya bagian dalam. Sejauh ini, hanya dua misi yang pernah mengunjunginya, yakni Mariner 10 pada 1974–1975 dan MESSENGER yang mulai mengorbit pada 2011.

Mariner 10 memberi kilasan awal tentang permukaan Merkuri yang retak dan penuh kawah, serta mengonfirmasi atmosfer yang sangat tipis dan keberadaan medan magnet. Namun, seperti kata ilmuwan planet Columbia University, Sean Solomon, misi itu “memberi pandangan dekat pertama, tetapi meninggalkan banyak halaman kosong”.

MESSENGER kemudian memetakan seluruh permukaan untuk pertama kalinya dan melakukan pengamatan selama empat tahun. Pada fase akhir, wahana itu melintas hanya sekitar 15,5 mil atau 24,9 kilometer di atas permukaan, tetapi tetap belum mampu menjawab pertanyaan besar asal-usul Merkuri.

Terjemahan artikel sumber menyebut Merkuri “menyembunyikan misteri jauh lebih besar daripada dirinya”, dan BepiColombo disiapkan untuk membacanya. Misi gabungan European Space Agency (ESA) dan Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) ini diluncurkan pada Oktober 2018 dan menempuh perjalanan panjang yang digambarkan “mencekam” melintasi tata surya bagian dalam.

Manuver penting terjadi pada Kamis, 3 September, ketika perlengkapan sains dipisahkan dari sistem transport yang membawanya. Target besarnya jelas, yakni pada April 2027 dua wahana penuh instrumen diharapkan mengumpulkan observasi intensif untuk memecahkan teka-teki Merkuri dan bahkan memberi petunjuk tentang pembentukan tata surya.

Rachel Klima, ahli geologi planet di Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory, menyebut data baru Merkuri akan “sangat fantastis”. Ia menilai Merkuri “begitu aneh, indah, dan menarik”, tetapi selama ini kurang mendapat sorotan dibanding Mars atau Venus.

Secara ilmiah, masalahnya bukan sekadar minim data, melainkan data yang timpang dan instrumen yang terbatas. Solomon menegaskan “putusan belum final” tentang bagaimana Merkuri “dirakit”, menandakan teori pembentukan planet itu masih diperdebatkan.

MESSENGER memang membuka misteri baru yang justru menambah pekerjaan rumah. Ia menemukan lubang-lubang terang berdinding curam yang dijuluki “hollows”, serta menemukan unsur volatil yang lebih melimpah di permukaan Merkuri daripada di Bumi, sesuatu yang kontraintuitif untuk planet yang sangat dekat Matahari.

MESSENGER juga menghitung pusat medan magnet Merkuri bergeser jauh dari inti, sebuah anomali dinamo planet yang belum rapi dijelaskan. Ditambah lagi, orbit MESSENGER membuat belahan selatan tidak teramati setajam belahan utara, sehingga separuh cerita planet ini tetap kabur.

BepiColombo mencoba menutup celah itu dengan dua wahana yang bekerja serempak namun berbeda fokus. Mercury Planetary Orbiter (MPO) milik Eropa membawa 11 instrumen untuk memetakan topografi, mineral kerak, medan gravitasi, meneliti “hollows” dan endapan vulkanik, serta memantau dampak partikel bermuatan dari Matahari.

Mercury Magnetospheric Orbiter (Mio) milik Jepang menargetkan lingkungan Merkuri, yakni magnetosfer, atmosfer tipis, dan debu di sekitar orbitnya. Keduanya juga membawa instrumen pengukur medan magnet, sehingga ilmuwan bisa mendapat pengamatan simultan dari lokasi berbeda, bukan satu titik seperti lazimnya.

Selama perjalanan panjang dan enam kali lintasan cepat (flyby) terhadap Merkuri, sebagian instrumen sudah mengumpulkan data. Namun, konfigurasi wahana untuk pelayaran membuat mayoritas instrumen belum dapat bekerja penuh hingga MPO dan Mio benar-benar berpisah, yang diperkirakan terjadi pada Desember.

Karena itu, sains BepiColombo baru berjalan “setetes demi setetes”, sementara potensi utamanya masih menunggu fase orbit. Solomon menyebut sudah ada “literatur yang berkembang” dari hasil flyby, tetapi ia memperkirakan temuan akan “meledak” saat kedua wahana mulai mengorbit.

Prioritas Solomon adalah citra tajam belahan selatan dan pencarian endapan es air tersembunyi. Es itu diduga berada di kawah-kawah dalam yang tak pernah tersentuh panas Matahari, sehingga bisa menjadi arsip dingin tentang suplai air dan material volatil di tata surya dalam.

Klima menunggu peta unsur dan mineral permukaan Merkuri dari MPO karena di sinilah MESSENGER tersandung. MESSENGER mengandalkan teknik yang efektif jika batuan kaya besi, tetapi ternyata unsur itu minim di Merkuri, sehingga pembacaan komposisi menjadi terbatas.

MPO membawa teknologi berbeda yang dapat “membaca” batuan tanpa bergantung pada besi. Jika berhasil, peta mineral ini bisa menguji skenario pembentukan Merkuri, termasuk pertanyaan apakah planet ini kehilangan mantel akibat tumbukan raksasa atau terbentuk dari bahan yang sejak awal miskin unsur tertentu.

Misi BepiColombo memperlihatkan paradoks eksplorasi ruang angkasa modern, yakni planet terdekat dengan Matahari justru paling lama dibiarkan “setengah terbaca”. Ketika publik terpesona oleh Mars, Merkuri menjadi planet yang kurang “menjual”, padahal ia menyimpan anomali yang bisa mengguncang model pembentukan planet kebumian.

Keanehan Merkuri bukan sekadar trivia ilmiah, melainkan ujian bagi teori besar tentang evolusi tata surya. Volatil yang melimpah di planet panas, medan magnet yang bergeser, dan “hollows” yang belum tuntas dijelaskan adalah sinyal bahwa asumsi lama mungkin terlalu rapi.

Di sisi lain, BepiColombo juga menguji stamina politik sains, karena misi lintas-badan seperti ESA–JAXA menuntut konsistensi pendanaan dan kesabaran publik. Jika hasilnya signifikan, Merkuri bisa berubah dari planet “terlupakan” menjadi kunci untuk memahami mengapa Bumi terbentuk seperti sekarang.

BepiColombo pada dasarnya adalah upaya menuntaskan “halaman kosong” yang ditinggalkan Mariner 10 dan MESSENGER. Saat MPO dan Mio mulai bekerja penuh, belahan selatan yang lama gelap dan komposisi batuan yang sulit dibaca berpeluang menjadi narasi baru tentang Merkuri.

Jika planet terkecil ini ternyata menyimpan es, volatil, dan dinamika magnet yang tak lazim, maka pelajaran utamanya sederhana, yakni kedekatan bukan jaminan pemahaman. Pertanyaannya, setelah Merkuri akhirnya mendapat “cinta” ilmiah, apakah cara kita memandang asal-usul tata surya juga akan ikut berubah.

(Orbit dari berbagai sumber, 7 September 2026)