Denny JA: Persiapkan 120 Penulis Indonesia Menuju Panggung Dunia, 2026-2031
PERSIAPKAN 120 PENULIS INDONESIA MENUJU PANGGUNG DUNIA, 2026–2031
Oleh Denny JA
ORBITINDONESIA.COM - Di sebuah rak kecil, tersimpan buku yang ditulis seseorang hampir sepanjang hidupnya. Di dalamnya ada perjuangan melawan diskriminasi, sejarah kampung halaman, kematian ayah, cinta pertama, dan luka bangsanya.
Buku itu mungkin indah. Mungkin penting. Mungkin mampu menggetarkan seseorang yang hidup sepuluh ribu kilometer dari tempat penulisnya dilahirkan. Namun orang itu tak pernah membacanya.
Bukan karena bukunya buruk. Bukan pula karena kisahnya tidak universal. Mereka hanya dipisahkan oleh bahasa, oleh sebuah samudra kata yang berdiri diam-diam di antara dua manusia.
Betapa banyak karya Indonesia mengalami nasib serupa. Mereka lahir membawa seluruh jiwa penulisnya, kemudian berhenti hanya beberapa langkah sebelum sampai di perbatasan bahasa.
Tragedi kesusastraan terbesar kadang bukan karya buruk yang diterbitkan. Tragedi itu justru karya besar yang telah lahir, tetapi tak pernah ditemukan dunia karena tak memperoleh jalan, tak diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
-000-
Pada kepengurusan baru SATUPENA 2026–2031, saya membayangkan satu program unggulan yang sederhana dalam konsep, tetapi besar dalam kemungkinan: 120 Penulis Indonesia Menuju Pembaca Dunia.
Selama lima tahun, 120 karya dipilih melalui seleksi ketat, diterjemahkan secara profesional ke bahasa Inggris, disunting dengan standar internasional, diterbitkan dengan ISBN, lalu dibukakan jalan menuju pembaca dunia.
Sekurang-kurangnya, seluruh judul dipublikasikan melalui Google Books, sehingga tersedia bagi pembaca di berbagai negara sejak hari pertama peluncuran resmi program ini.
Seluruh hasil penjualan buku, 100 persen, diberikan kepada penulis. Seluruh biaya produksi, mulai dari terjemahan, penyuntingan, ISBN, hingga distribusi digital, ditanggung sepenuhnya oleh Denny JA's Foundation.
Penerjemahan dikerjakan oleh tim khusus yang dibentuk SATUPENA. Tim itu pula yang menyusun kisi-kisi seleksi, menetapkan buku siapa diterjemahkan, dan mengatur jadwal penerbitan selama lima tahun.
Karyanya dapat berupa novel, cerpen, puisi, puisi esai, sejarah, pemikiran sosial, dan nonfiksi yang membawa pengalaman Indonesia ikut masuk ke percakapan besar dunia.
Ini bukan sekadar proyek penerjemahan. Ini proyek membangun jembatan kebudayaan agar pengalaman Indonesia dapat berjalan melampaui geografi tempat pengalaman itu pertama kali dilahirkan.
SATUPENA tidak menjanjikan 120 penulis akan menjadi bintang dunia. Tugas sebuah asosiasi bukan menjamin kemenangan, melainkan memperbesar kemungkinan karya terbaik menemukan pembacanya.
Kurasi independen menjamin representasi adil dari berbagai daerah, gender, serta genre. Standar penerjemahan tinggi dipastikan melalui uji keterbacaan internasional agar pesan lokal tersampaikan utuh tanpa kehilangan bobot sastranya.
-000-
Stieg Larsson memberikan inspirasi. Semasa hidupnya, ia terutama dikenal di Swedia sebagai jurnalis dan aktivis, bukan sebagai novelis besar yang dibaca lintas benua.
Ia meninggal pada 2004, sebelum novel-novel Millennium yang ditulisnya terbit dalam edisi Swedia pertama pada 2005. Kemudian sesuatu yang luar biasa terjadi di panggung dunia.
The Girl with the Dragon Tattoo diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk bahasa Inggris pada 2008. Sebuah cerita yang berakar kuat pada masyarakat Swedia memperoleh kehidupan baru di dunia.
Novel-novelnya kemudian menjadi fenomena internasional dan terjual puluhan juta eksemplar. Menariknya, Larsson tidak menjadi kurang Swedia agar diterima dunia pembaca yang jauh lebih luas.
Ia justru membawa masyarakat, politik, jurnalisme, kekerasan tersembunyi, dan ketegangan sosial negerinya sendiri ke hadapan pembaca yang tak pernah menginjakkan kaki di Swedia.
-000-
Pelajarannya penting. Untuk menjadi global, penulis Indonesia tidak perlu meninggalkan yang lokal. Justru lokalitas yang autentik dapat menjadi pintu paling lebar menuju yang universal.
Pembaca New York tidak membutuhkan tiruan New York dari Jakarta. Yang belum mereka miliki adalah Papua dari dalam, pesantren dari dalam, dan Minangkabau dari dalam.
Di sinilah paradoks besar zaman kita. Teknologi membuat dunia semakin mirip. Tetapi justru kemiripan itu membuat manusia semakin lapar terhadap sesuatu yang berbeda.
Kita menggunakan telepon serupa. Menonton platform yang sama. Mendengar musik global. Menginap di hotel serupa. Berjalan di pusat perbelanjaan yang semakin seragam warna dan aromanya.
Semakin banyak kota menyerupai satu sama lain, semakin berharga kampung yang masih mempunyai cerita, ritual, makanan, ingatan, bahasa, dan cara hidup berbeda dari kota-kota itu.
John Naisbitt mempopulerkan gagasan global paradox. Semakin besar dan terintegrasi sistem dunia, semakin penting pula identitas dan pemain-pemain kecil yang hidup di dalamnya.
Dalam kebudayaan, paradoks itu semakin terasa. Globalisasi memperluas akses terhadap dunia, tetapi sekaligus membuat sesuatu yang autentik dan berbeda semakin bernilai bagi pembaca modern.
Manusia tidak hanya ingin mengetahui apa yang terjadi di tempat lain. Mereka juga ingin mengetahui bagaimana manusia lain menjalani hidupnya dari hari ke hari.
Bagaimana keluarga Minangkabau menghadapi benturan tiga generasi? Bagaimana remaja pesantren memahami cinta? Bagaimana seorang ibu Papua mengalami kehilangan? Bagaimana manusia Bali memandang kematian?
Kita berbeda pada permukaan, tetapi sering bertemu di kedalaman. Kita mempunyai adat berbeda, tetapi sama-sama mengenal cinta, kehilangan, ketakutan, harapan, dan kematian.
-000-
Sastra membuat manusia menemukan dirinya sendiri di dalam kehidupan seseorang yang sangat berbeda darinya, di sebuah tempat yang mungkin tak pernah ia kunjungi seumur hidup.
Bahasa Inggris penting bukan karena lebih tinggi daripada bahasa Indonesia. Ia penting karena menjadi salah satu jembatan terbesar menuju sirkulasi pembaca internasional pada abad ini.
Han Kang memberi contoh menarik. The Vegetarian, yang ditulis dalam bahasa Korea, memperoleh jangkauan pembaca internasional jauh lebih luas setelah hadir dalam terjemahan bahasa Inggris.
Novel itu memenangkan International Booker Prize 2016. Delapan tahun kemudian, Han Kang menerima Nobel Sastra 2024 atas keseluruhan pencapaian kesusastraannya yang panjang dan konsisten.
Tentu Nobel bukan akibat mekanis sebuah terjemahan. Namun perjalanan Han Kang memperlihatkan bagaimana karya yang lahir dari bahasa lokal dapat memasuki percakapan global melalui terjemahan.
-000-
Program SATUPENA karena itu bukan proyek menginggriskan Indonesia. Kita justru membawa pengalaman Indonesia memasuki bahasa yang memungkinkan lebih banyak manusia di dunia mendengarnya.
Indonesia dihuni lebih dari 280 juta manusia. Tetapi kekayaan terbesarnya bukan jumlah. Kekayaan itu berada pada keragaman pengalaman hidup yang berdenyut di dalamnya.
Ada pesantren dan metropolitan. Ada masyarakat adat dan generasi digital. Ada pesisir, pegunungan, pertambangan, kerajaan lokal, diaspora, serta kelas menengah baru yang sedang tumbuh.
Ada pengalaman tentang agama, tradisi, modernitas, keluarga, migrasi, konflik, rekonsiliasi, cinta, kehilangan, ketidakadilan, humor, kesetiaan, kekuasaan, dan pengampunan sebagai bagian keseharian kita.
Tetapi lokalitas tidak boleh berhenti menjadi eksotisme. Rumah adat, ritual, pakaian, dan makanan hanyalah dekorasi jika manusia di dalam cerita tidak sungguh-sungguh hidup.
Seorang pembaca di Stockholm mungkin tidak mengetahui Bolaang Mongondow. Tetapi ia memahami kehilangan ayah, cinta yang kandas, pengkhianatan sahabat, dan ketakutan menghadapi kematian.
Itulah kekuatan sastra. Semakin dalam seorang penulis menggali tanah tempat ia berpijak, semakin mungkin ia menemukan lapisan kemanusiaan yang hidup di mana-mana di muka bumi.
-000-
Dalam kreativitas, masa depan sulit diprediksi. Kita tidak pernah mengetahui buku mana yang akhirnya menemukan momentum, pembaca, penerjemah, kritikus, festival, agen sastra, atau penerbit yang tepat.
Mungkin dari 120 buku, hanya tiga puluh yang memperoleh perhatian. Sepuluh menarik minat penerbit asing. Tiga menjadi percakapan serius. Dan hanya satu menjadi fenomena.
Tetapi satu dapat mengubah banyak hal. Satu keberhasilan besar dapat membuat penerbit dunia mulai bertanya siapa lagi penulis menarik dari Indonesia yang belum mereka ketahui.
Pertanyaan itu penting. Sesudah satu pintu terbuka, penulis berikutnya tidak lagi mengetuk tembok yang buta. Mereka mengetuk pintu yang sebelumnya sudah pernah dibuka.
Karena itu, 120 adalah semacam portofolio kebudayaan. Kita tidak dapat memilih masa depan, tetapi kita dapat memperbanyak karya bermutu yang memperoleh kesempatan untuk menemukannya.
Seleksi harus ketat. Terjemahan harus unggul. Penyuntingan harus profesional. Metadata dan distribusi harus berstandar global. Promosi harus cerdas dan konsisten sepanjang tahun.
Karya perlu diperkenalkan kepada reviewer, komunitas pembaca, diaspora, festival, agen, dan penerbit asing. Program ini tidak boleh berhenti pada seremoni peluncuran di dalam negeri.
Kita tidak dapat menentukan buku mana yang pada akhirnya akan terbang. Tetapi kita dapat membangun landasan pacunya, cukup panjang dan cukup rata untuk lepas landas.
-000-
David Damrosch dalam What Is World Literature?, Princeton University Press, 2003, menawarkan gagasan penting. Sastra dunia bukan sekadar kumpulan mahakarya dari berbagai bangsa besar.
Karya memasuki sastra dunia juga melalui peredarannya melampaui kebudayaan asal. Terjemahan memberi sebuah karya kesempatan memperoleh kehidupan kedua di hadapan pembaca yang berbeda.
Pelajarannya jelas. Tidak cukup menghasilkan buku bagus. Kita membutuhkan ekosistem yang membuat buku itu diterjemahkan, diedarkan, ditemukan, dibicarakan, dan ditafsirkan kembali secara terus-menerus.
Program 120 penulis karena itu bukan sekadar ekspor buku. Ia adalah usaha memperluas wilayah kehidupan karya Indonesia di dalam republik pembaca dunia yang terus tumbuh.
John Naisbitt dalam Global Paradox, William Morrow and Company, 1994, membantu menjelaskan mengapa proyek semacam ini justru semakin relevan pada dunia yang terintegrasi.
Semakin ekonomi dan teknologi menghubungkan dunia, pemain dan identitas kecil justru dapat memperoleh ruang baru yang lebih luas. Globalisasi tidak otomatis menghapus yang lokal.
Dalam kebudayaan, pelajarannya bahkan lebih menarik. Ketika produk dan gaya hidup semakin seragam, keunikan lokal menjadi semakin langka dan karena itu menjadi semakin bernilai.
Indonesia tidak perlu menjadi tiruan pusat kebudayaan lama. Kita justru perlu membawa pengalaman yang hanya dapat lahir dari sejarah, bahasa, dan pergulatan panjang bangsa Indonesia.
Paradoks global itu sederhana. Semakin mudah dunia saling menyerupai satu sama lain, semakin berharga suara yang berani tetap berbeda dan setia pada dirinya sendiri.
-000-
Saya cukup lama hidup bersama dunia tulisan. Saya belajar bahwa sebuah karya mempunyai nasib sendiri setelah meninggalkan meja tempat penulis pertama kali melahirkannya ke dunia.
Ada tulisan yang kita anggap sederhana, ternyata menyentuh banyak orang. Ada pula tulisan yang kita yakini penting, tetapi berjalan sunyi tanpa percakapan berarti di sekitarnya.
Pengalaman itu mengajarkan kerendahan hati. Penulis dapat mengendalikan kesungguhannya ketika menulis, tetapi ia tidak pernah sepenuhnya mengendalikan bagaimana sejarah kelak menerima tulisannya.
Saya juga mengalami bagaimana bahasa mengubah jangkauan sebuah karya. Ketika hadir dalam bahasa lain, tulisan seperti seorang anak yang untuk pertama kali meninggalkan rumah.
Ia masih membawa pengalaman kita. Tetapi sekarang ia mengetuk rumah manusia yang dibesarkan oleh sejarah, agama, bahasa, iklim, dan kebudayaan yang berbeda dari kita.
Bayangkan seorang penulis dari kota kecil Indonesia dibaca seseorang di Oslo. Mereka tak pernah bertemu, mungkin berbeda agama, bahasa, warna kulit, kelas sosial, dan sejarah.
Tetapi pada halaman tertentu, keduanya menangis karena memahami pengalaman kehilangan yang sama. Bagi saya, itulah internasionalisasi sesungguhnya yang layak diperjuangkan bersama.
Bukan sekadar buku tersedia secara global, tetapi pengalaman lokal berhasil berubah menjadi perjumpaan antarmanusia yang jujur, hangat, dan sanggup mengatasi batas geografis mereka.
-000-
Ada keberatan yang sah terhadap program ini. Mengapa bahasa Inggris? Bukankah ambisi menjadi internasional dapat membuat penulis Indonesia tunduk kepada selera dan pengakuan Barat?
Kritik itu benar jika internasionalisasi berarti meminta pengesahan Barat. Nilai sastra Indonesia tentu tidak bertambah hanya karena memperoleh tepuk tangan dari London atau New York.
Tetapi program ini berangkat dari keyakinan sebaliknya. Bahasa Inggris adalah kendaraan distribusi, bukan hakim terakhir atas mutu dan martabat kebudayaan Indonesia sepanjang sejarah.
Kita menerjemahkan bukan karena merasa kecil. Kita menerjemahkan karena percaya pengalaman Indonesia cukup berharga untuk ikut memasuki percakapan besar umat manusia di zaman ini.
Jangan membuat Indonesia menjadi eksotis demi pasar asing. Jangan pula membuatnya semakin Barat. Biarkan bahasa terjemahannya global, tetapi jiwanya tetap memiliki sidik jari Indonesia.
-000-
Saya membayangkan tahun 2031. Sedikitnya 120 karya Indonesia telah tersedia dalam bahasa Inggris, masing-masing menjadi sebuah jendela menuju kehidupan yang berbeda di Nusantara.
Ada Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Ada metropolitan. Ada pula kampung yang selama ini jarang muncul dalam berita nasional.
Dunia kemudian mengenal Indonesia bukan hanya melalui politik, ekonomi, bencana, investasi, atau pariwisata. Mereka memasuki Indonesia langsung melalui mata orang Indonesia sendiri.
Sebab bangsa yang hanya dikenal melalui statistik belum sepenuhnya dikenal. Angka menjelaskan berapa jumlah kita. Cerita menjelaskan siapa kita sebagai manusia yang hidup.
Program ini jangan membuat penulis Indonesia menjadi kurang Indonesia agar diterima dunia. Bantulah mereka menjadi semakin Indonesia, dengan kualitas prosa yang dapat dibaca dunia.
Kita tidak sekadar menerjemahkan 120 buku ke bahasa Inggris. Kita sedang menerjemahkan 120 wajah Indonesia ke dalam ingatan panjang dunia yang belum sepenuhnya mengenal kita.
Sebab semakin dunia menjadi satu, semakin dunia membutuhkan cerita yang membuat kita tetap berbeda, tetap berakar, dan tetap layak disimak dari benua mana pun.*
Jakarta, 12 September 2026
REFERENSI
David Damrosch. What Is World Literature? Princeton University Press, 2003.
John Naisbitt. Global Paradox: The Bigger the World Economy, the More Powerful Its Smallest Players. William Morrow and Company, 1994.
-000-
Ratusan esai Denny JA mengenai filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat dibaca di Facebook Denny JA's World.