Gloria Steinem Meninggal: Ikon Feminisme dan Kesetaraan Gender

AP News

AP News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Gloria Steinem meninggal dunia pada usia 92 tahun, menutup satu bab penting sejarah gerakan perempuan AS dan perjuangan kesetaraan gender global. Aktivis sekaligus penulis legendaris ini wafat di rumahnya di New York City, setelah kesehatan menurun, menurut unggahan di media sosialnya.

Terjemahan ringkas artikel sumber: Steinem dikenal sebagai simbol paling terlihat dari gerakan perempuan AS era 1960–1970-an dan tetap menjadi advokat kesetaraan selama enam dekade. Ia co-founder Ms. Magazine, menghabiskan hidupnya berkeliling kampus, pusat komunitas, rapat umum, dan pawai, karena percaya empati lahir dari hadir bersama “dengan lima indra.”

Terjemahan ringkas artikel sumber: Ia memulai karier sebagai jurnalis, termasuk investigasi menyamar di “Playboy Bunny” pada 1963 yang kemudian ia sesali karena dipakai untuk merendahkannya. Titik balik terjadi setelah “speak-out” tentang hak aborsi, selaras dengan pengalaman aborsi ilegal yang ia jalani pada usia 22 tahun, yang membuatnya yakin demokrasi mensyaratkan kontrol setara atas tubuh sendiri.

Terjemahan ringkas artikel sumber: Steinem lama takut berbicara di depan umum, tetapi akhirnya tampil karena redaksi enggan memuat tulisan tentang gerakan perempuan. Sepanjang usia lanjut ia tetap aktif, terlibat isu mutilasi genital, rekonsiliasi Korea, hingga pendidikan generasi muda, termasuk buku bergambar 2026 bersama Leymah Gbowee.

Terjemahan ringkas artikel sumber: Ia kerap menghadapi kebencian dan olok-olok, termasuk dari Presiden Richard Nixon yang mengejek “Ms.”, namun ia membalas dengan humor tajam. Masa kecilnya tidak konvensional, ia merawat ibunya yang mengalami gangguan mental, dan ia menolak jalur “pernikahan sebagai takdir” yang lazim bagi perempuan terdidik pada 1950-an.

Kabar “Gloria Steinem meninggal” bukan sekadar obituari, melainkan momen audit publik terhadap kemajuan dan kemunduran kesetaraan gender. Dalam artikel AP, Steinem menegaskan politik tak bisa hanya dikerjakan lewat telepon atau web, karena solidaritas butuh ruang fisik dan pengalaman bersama.

Di era aktivisme digital, kalimat itu terdengar seperti kritik halus terhadap gerakan yang mudah viral namun cepat rapuh. Steinem membangun pengaruh lewat ritme yang melelahkan: perjalanan, pertemuan, dan percakapan panjang yang jarang terlihat di layar.

Steinem juga menunjukkan bagaimana isu tubuh perempuan menjadi pusat demokrasi, bukan sekadar moralitas privat. Ia mengaitkan aborsi dengan kesetaraan warga negara, terutama setelah putusan Roe v. Wade dibatalkan, sebagaimana ia tulis kepada AP pada 2022.

Di titik ini, warisannya menjadi relevan bagi siapa pun yang mengira feminisme sudah selesai. Ketika hak reproduksi bisa mundur, maka “kemajuan” ternyata bukan garis lurus, melainkan medan tarik-menarik kuasa.

Artikel AP memotret paradoks lain: visibilitas yang membesarkan gerakan sekaligus memerangkap perempuan dalam penilaian fisik. Bahkan setelah prestasi politik dan intelektualnya, Steinem masih sering dikomentari sebagai “cantik” atau “glamor,” termasuk deskripsi Vanity Fair 1992 tentang kakinya.

Itu bukan detail remeh, melainkan mekanisme sosial yang menggeser otoritas perempuan dari argumen ke penampilan. Dalam bahasa yang lebih keras, tubuh perempuan dijadikan pintu masuk untuk meremehkan kerja politiknya.

Steinem juga menyingkap sejarah kerja yang toksik: pelecehan seksual yang dulu “tak punya nama.” Ia menceritakan editor yang menyodorkan pilihan hotel atau mengurus surat, dan ia memilih mengurus surat, karena saat itu itulah “hidup.”

Kisah ini penting sebagai pengingat bahwa perubahan budaya sering lahir dari pengalaman yang dulu dianggap normal. Gerakan #MeToo dan kebijakan anti-pelecehan hari ini berdiri di atas cerita-cerita yang dulu dipendam karena bahasa untuk melawannya belum tersedia.

Di sisi organisasi, Steinem ikut mendirikan National Women’s Political Caucus pada 1971 bersama Betty Friedan, Shirley Chisholm, dan Bella Abzug. Ia juga membentuk kemitraan panggung dengan Dorothy Pitman Hughes, menantang kesan feminisme sebagai gerakan putih kelas menengah.

Koalisi lintas ras dan kelas itu bukan ornamen sejarah, melainkan syarat agar agenda kesetaraan tidak menjadi proyek elit. Foto ikonik mereka dengan salam Black Power menegaskan bahwa keadilan gender tak bisa dipisahkan dari keadilan rasial.

Steinem adalah simbol, tetapi simbol yang terus bekerja, dan itu yang membedakannya dari selebritas aktivis. Ia memadukan narasi pribadi, humor, dan disiplin organisasi, sehingga feminisme terasa bisa disentuh, bukan teori yang jauh.

Namun, warisan Steinem juga mengandung pelajaran pahit tentang cara media membentuk pahlawan. Ketika gerakan terlalu bergantung pada satu wajah, musuh politik mudah menyerang dengan olok-olok personal, seperti yang ia alami sejak 1970-an.

Di Indonesia, gema kisah Steinem terasa pada debat tentang representasi perempuan di ruang publik dan politik elektoral. Kita sering merayakan “tokoh perempuan” tetapi lupa membangun ekosistem yang memungkinkan ribuan perempuan lain bertahan tanpa harus menjadi ikon.

Yang paling tajam dari Steinem justru kerendahan hati strategisnya: ia sering berkata jika bukan dirinya, orang lain akan melakukan hal yang sama. Kalimat itu menolak kultus individu, dan menggeser fokus ke gerakan sebagai kerja kolektif yang bisa diwariskan.

Kematian Gloria Steinem menutup hidup, tetapi membuka pertanyaan tentang masa depan kesetaraan gender yang tak pernah final. Jika demokrasi mensyaratkan kontrol setara atas tubuh dan hidup, maka ukuran kemajuan adalah seberapa aman hak itu dari kemunduran.

Steinem mengingatkan bahwa yang terpenting bukan generasi muda mengenal dirinya, melainkan mengenal diri mereka sendiri. Pertanyaannya kini sederhana namun menuntut: setelah ikon pergi, apakah kita siap menjadi jaringan yang bekerja, bukan sekadar penonton yang berduka.

(Orbit dari berbagai sumber, 6 September 2026)